Para pelaku selingkuh selalu memiliki 1001 alasan untuk menutupi perselingkuhannya. Nah, soal selingkuh menyelingkuhi kebetulan aku agak paham. Sebelum berdebat tentang batasan selingkuh maka selingkuh yang dimaksud disini adalah sesuai dengan definisi standar dari almarhumah adikku:
Selingkuh Hati, memiliki pikiran atau niat untuk menduakan cintanya. Syarat utamanya niat dan atau pikiran.
Selingkuh Aksi, memiliki pikiran, niat atau kesempatan untuk menduakan cintanya lalu merealisasikannya dalam sebuah tindakan. Syarat utamanya tindakan.
Kebohongan selalu ditutupi dengan kebohongan lainnya, begitu kata pepatah. Maka dari itu para pelaku selingkuh harus membekali diri dengan teknik berbohong untuk melancarkan aksinya. Ada beberapa teknik dasar berbohong untuk menciptakan alasan demi mengaburkan perselingkuhan, sejauh yang saya tahu, sebagai berikut :
Totally lie : Cerita yang dikemukakan benar – benar bohong, hanya karangan dan sama sekali lain dari apa yang terjadi. Contoh:
Ngakunya lembur tapi sebenarnya diner sama selingkuhan.
Ngakunya dinas luar kota tapi ternyata check-in di hotel sama selingkuhan.
Pelaku harus memiliki imajinasi tinggi sehingga mampu mengarang hingga detail – detail kecil saat dibutuhkan. Juga perlu ditunjang dengan daya ingat yang baik supaya tidak terjebak oleh cerita karangan sendiri.
Partly true : Cerita yang dikemukakan benar – benar terjadi, tapi cerita itu tidak menggambarkan keseluruhan kejadian (kamuflase). Contoh :
Ngakunya diner sama temen – temen tapi ternyata diantara temen – temennya itu ada selingkuhannya dan memang benar diner sama teman – teman tapi selama diner mojok berdua sama selingkuhannya atau setelah diner bikin acara sendiri sama selingkuhannya.
Ngakunya ketemu klien, tapi ketemuannya cuma setengah jam, yang dua jam lagi dipakai ‘indehoy’ sama selingkuhannya.
Pelaku wajib memiliki skill dalam meramu fakta dan fiksi menjadi cerita yang utuh sehingga menjadi sulit dibedakan mana yang benar dan mana yang bohong.
Playing innocent : Cerita yang dikemukakan benar terjadi, tapi berlagak bodoh dan menyangkal kalau terjadi perselingkuhan. Biasanya alasan ini diikuti dengan kalimat : ‘Kami cuma temenan’, ‘Kami gak ada apa – apa’, ‘Aku gak macem – macem’, ‘Dia tahu aku sudah punya kamu’, dan lain – lain.
Pelaku harus melatih dirinya agar bisa memasang mimik muka orang tidak bersalah atau seolah – olah sebagai korban dari keadaan yang sedang terjadi.
Setelah makin mahir, variasi bisa dilakukan dari ketiga teknik dasar ini, dan yang terpenting adalah konsistensi cerita, sehingga alibi yang dibangun bisa terdengar meyakinkan.
‘mmyb’
Komentar