Sudah Tembus 1000

26 05 2009

Wah, gak nyangka udah tembus 1000 klik. Awal ngeblog di WP akibat bujuk rayu dosen gila yang saat itu sudah 1000 klik yang dihimpun blognya. Agak minder waktu itu, secara saya adalah blogger yang moody. Kalo lagi ‘inspired’ sehari bisa 3 artikel. Kalo lagi blank bisa sebulan tanpa tulisan baru sama sekali.

Tapi akhirnya saya melihat angka 1000 di blog saya. Terima kasih buat dosen gila untuk supportnya dan Diana Wardhani yang selalu jadi penggemar blog saya. Tak lupa buat Aris Widayati dan Nana untuk suntikan semangat di awal blog ini berdiri. Juga berterima kasih buat semua komen yang sudah masuk, tetapi tanpa mengurangi rasa hormat saya, mengharapkan lebih banyak komen dari blogger – blogger yang belum saya kenal, yang kebetulan lewat numpang baca blog saya.

1000…..yihaaaa…..





Makan Malam yang Gagal di Beukenhof

23 05 2009

Bruuuuuuuuussssssssss……………

Hujan lebat segera turun saat aku dan dosengila hendak masuk ke mobil. Sedikit basah tak mengapa lah. Kami berencana makan malam bersama.

” Ayo, jalan ke rumah Cisut…kita jemput mbok jamu itu”

Nih, Cisut aku belum kenal. Tapi dia akan bergabung dengan makan malam kami.

Butuh waktu 30 menit untuk sampai rumahnya, dan hujan sudah reda. Dosengila segera turun untuk memapah Cisut masuk ke mobil.

” Kenalin, ini Cisut.”

“Hai..”

“Hallo, pak…”

Aku melihat sesosok bidadari berkulit putih dengan mata lebar dan lesung pipi menyapa ramah. Wah, malam ini makan malam bersama bidadari, pikirku. Semangat….

Beukenhof letaknya di kaki gunung. Lokasinya terasing, namun sangat indah. Beukenhof artinya hutan pinus kata dosen gila. Jadi memang banyak pohon cemara berbuah pinus di sana.

Melewati anak tangga, sambil membayangkan steak dan segelas red wine, kami bergegas ke resepsionis.

“Maaf, mas dan mbak, jam last order sudah lewat. Kami sudah akan tutup.”

“Wah, untuk tiga orang saja gak bisa mbak ?”

“Maaf, kami tinggal melayani tamu yang tersisa saja.”

“Ughh…ya sudah, makasi mbak !”

Buyar sudah bayangan kami tentang steak dan red wine tadi. Tetapi atmosfernya sangat sayang untuk dilewatkan. Akhirnya kami foto – foto saja di sana. Mumpung ada satu bidadari di antara dua iblis keparat ini. Ha ha ha ha…..

cindy.jpg

Shared with Flock – The Social Web Browser
http://flock.com

FACEBOOK Share





Evolusi Cinta

23 05 2009

[release ulang tulisan lama]

Dan pertanyaan itupun bergulir. Saat itu aku dan Mika sedang makan di warung Kenari, yang setiap harinya penuh, terutama oleh gadis – gadis cantik, yang aku kira masih kuliah. Cowok juga ada, cuma segelintir.

“Kenapa sih sekarang cewek cantik tambah banyak, sementara cowok cakep makin dikit?” Tiba – tiba dia bertanya, diikuti kepalanya yang celingak – celinguk kiri kanan, seperti berusaha keras mencari pemandangan yang sejuk. Pertanyaan itu membuatku berhenti mengunyah, lalu sedikit mikir. Sedikit aja karena pertanyaannya gak ilmiah, jadi gak perlu mikir banyak – banyak. Paling tidak aku meyakinkan diriku dulu bahwa aku termasuk yang sedikit itu.

“Itu semua salahmu…salah kalian para wanita.” Suaraku agak keras, sengaja, supaya meja sebelah ikut dengerin.

“Salahku? Dimana peranku yang membuat mereka terancam punah? Justru aku gak ingin itu terjadi, supaya aku gak harus desperate cari pacar seperti sekarang, dodol !”.

Kalimat terakhirnya membuatku tersenyum, dan lebih tersenyum lagi ketika aku ingat memang dia lagi cari pacar. Delapan bulan telah lewat sejak dia didepak pacarnya yang juga teman kuliahku sendiri. Pacarnya yang juga temanku itu ninggalin Mika demi cewek lain, setelah mereka pacaran 6 tahun lebih. Bagian didepaknya sih kupikir bukan masalah buat Mika. Cuma yang bikin dia jengkel adalah timingnya.  Kenapa setelah 6 tahun? Kenapa gak sebelumnya? Kenapa kamu meninggalkan aku saat aku sudah terlalu tua untuk cari pacar? Dia memang belum terlalu tua, umurnya baru juga 27 tahun. Tapi umur segitu sudah banyak yang malas untuk memulai lagi sebuah hubungan, apalagi masih harus melewati fase pacaran yang serba spekulatif dan penuh trial and error. Menambah daftar kejengkelannya adalah kenyataan bahwa sampai sekarang dia belum juga dapat pengganti, sementara bekas pacarnya yang temanku itu sudah berpeluk cium dengan seekor betina gak tau diri. Tapi ini semua cuma dugaanku, aku gak pernah tahu, dan gak berminat untuk tanya.

“Kamu tahu teori evolusi kan?”, tanyaku. Segera dia mengangguk.

“Semua makhluk hidup berevolusi mencari bentuk dan kondisi terbaik atas kebutuhan dirinya dan keadaan lingkungan tempat tinggalnya.” Matanya masih tertuju padaku, pertanda bahwa dia menyimak omonganku.

“Kamu tahu kenapa jerapah berleher panjang? Teorinya adalah hal ini disebabkan oleh alam yang menuntut demikian, supaya dia bisa makan pucuk – pucuk daun di tempat yang tinggi. Mungkin pada saat itu populasi herbivora sangat banyak, tidak seimbang dengan populasi rumput dan semak yang tersedia sehingga si jerapah ini selalu gak kebagian karena dia termasuk binatang yang lamban, dan yang tidak bisa diperebutkan lagi adalah pucuk daun yang tinggi, maka berevolusi lah tubuh jerapah ini dengan memanjangkan lehernya untuk meraih pucuk – pucuk daun itu, dengan demikian dia bisa bertahan hidup dan kehidupannya terus berjalan sampai sekarang”.

“Ya, aku pernah dengar itu”, timpalnya.

“Ada juga teori tentang kepunahan manusia purba Cro Magnon. Para manusia Cro Magnon punah karena tidak bisa beradaptasi dengan perubahan alam yang cukup ekstrim. Berbeda dengan Homo sapiens yang daya pikirnya lebih hebat, lebih maju. Homo sapiens lebih bisa menggunakan akalnya untuk mengatasi hambatan – hambatan hidup yang disebabkan oleh lingkungan tempat tinggalnya, dengan kata lain tingkat adaptabilitasnya lebih tinggi dibanding manusia Cro Magnon. Karena tidak bisa bersaing dengan Homo sapiens itulah maka manusia Cro Magnon jadi teralienasi, hingga tidak bisa bertahan dan akhirnya punah.” Selesai berkata segera kutarik nafas panjang dan segera kusedot es teh dengan pipet.

“Kalo yang itu aku baru denger, tapi aku tetep gak ngerti…apa hubungannya sama kepunahan cowok – cowok cakep? ” Mika menegaskan kembali pertanyaan besarnya.

“ Nah kepunahan itu bisa dijelaskan lewat teori-teori itu.” Sepotong tempe selesai kubelah di saat yang bersamaan aku selesai mengucapkan kalimat itu.

“Sekarang cewek lebih banyak yang membutuhkan cowok kaya ketimbang cowok ganteng, sedangkan cowok, baik ganteng maupun tidak, kaya maupun tidak, tetap dengan pola pikir tradisionalnya untuk mencari cewek cantik, jarang cowok yang mau menjamah cewek yang physically tidak menarik, sehingga ketersediaan cewek cantik sangat terbatas, karena peminatnya sangat banyak. Karena kondisi yang demikianlah yang menyebabkan spesies cowok dituntut berevolusi menjadi cowok kaya dengan kompensasi tidak ganteng, karena kegantengan tidak dibutuhkan lagi. Hal itu terjadi supaya bisa bertahan hidup dan berkembang biak. Dan mungkin pada akhirnya semua cowok akan berubah menjadi kaya dan tidak ganteng, sehingga pada saat itu terjadi, mustahil menemukan cowok ganteng, sama mustahilnya menemukan jerapah berleher pendek saat ini. Sementara itu cewek – cewek juga berevolusi menjadi cantik agar masih bisa berkembang biak dengan cowok kaya yang tidak ganteng, dan menghasilkan keturunan, laki – laki yang tidak ganteng seperti bapaknya, atau perempuan cantik seperti ibunya. Kalo toh keturunan mereka cowok ganteng kaya atau cewek tidak cantik kaya[1], populasinya tidak akan banyak. Keturunan jenis yang pertama[2] , adalah spesies minoritas superior, yang bisa bertahan hidup hanya untuk mengetahui bahwa kegantengannya adalah sebuah komoditas yang tidak lebih berharga dari sebuah mobil Jaguar, dan akhirnya jiwa dan raganya pun berevolusi. Keturunan jenis yang kedua[3], lebih menderita, karena harus memilih, tetap bertahan untuk punah atau mengikuti arus evolusi yang terjadi untuk tetap bertahan.” Aku menutup penjelasan itu dengan sebuah kepulan asap rokok yang keluar dari mulutku, “ Sejalan dengan teori evolusi itu maka terjadi juga evolusi di pihak cewek, menjadi cantik karena tuntutan alam yang demikian. Mereka tidak perlu kaya karena dengan kecantikan, kekayaan akan mendatangi mereka. Lebih mudah menjadi terlihat cantik ketimbang menjadi kaya….. ”

“Kultur pun menjadi salah satu katalisator terjadinya evolusi ini. Para laki – laki selalu tumbuh dengan doktrin bahwa dia harus bertanggung jawab, menafkahi istri, punya harga diri. Sementara perempuan selalu mendapat didikan untuk patuh pada suaminya, menggantungkan hidup pada suaminya. Coba apa kata orang bila lihat seorang laki – laki tidak bekerja, mengurus rumah, dan istrinya yang mencari uang? Jangankan seperti itu…walaupun sama – sama bekerja saja, jika si laki – laki berpenghasilan lebih rendah dari si istri, nuraninya mengharuskan dia untuk merasa malu, apalagi menggantungkan hidup sepenuhnya. Sementara jika sebaliknya, itu terjadi pada perempuan, maka ia terbebas dari rasa malu seperti yang dimiliki laki – laki.

Maka tumbuh subur lah cewek – cewek materialis kapitalis, tanpa halangan yang cukup berarti, berbeda dengan cowok materialis kapitalis yang nantinya akan mati tertimpa kemaluannya[4] sendiri. Dan untuk bisa menjadi cewek materialis kapitalis yang dibutuhkan adalah wajah dan body.

Bisa juga kita bilang cowok ganteng adaptabilitasnya lebih rendah dibandingkan dengan cowok kaya terhadap perubahan alam yang seperti ini[5]. Sehingga cowok ganteng tidak akan mendapat tempat untuk berkembang biak di bumi ini, karena cewek cantik yang diidamkanya memilih kawin dengan cowok kaya, sementara dia sendiri gak mau kawin sama cewek yang gak cantik. Inilah yang menyebabkan mereka terpinggirkan, sebuah awal dari kepunahan mereka, yang sebentar lagi akan datang. Sementara itu cowok kaya bisa lebih beradaptasi dengan kondisi ini. Meskipun mereka tidak ganteng, mereka punya cukup uang, mereka bisa menutupinya dengan mobil mewah, rumah mewah, dan perbendaharaan kemewahan lainnya, yang membuat teman wanitanya mabuk kepayang.

Intinya sama seperti apa yang terjadi dengan Cro Magnon dan Homo sapiens, cowok ganteng itu manusia purba (Cro Magnon) dan cowok kaya itu manusia modern (Homo sapiens).”

Penjelasanku berhenti sampai disini. Saat kupandang wajahnya, bola matanya sudah naik ke langit – langit, agaknya sedang mencerna kata – kata yang baru saja kuucapkan. Setelah turun bola matanya menghadapku, segera dia merespon, “Ow….jadi itu yang terjadi. Setahuku evolusi itu terjadi dalam rentang waktu yang sangat panjang, berarti kondisi ini sudah sangat lama terjadi?”.

“Yup, benar. Jujur deh… kalo kamu disuruh memilih antara cowok ganteng atau cowok kaya, kamu pilih yang kaya kan?” Kusidang dia di tempat, emang cuma polisi aja yang bisa. Aku cuma dapat senyuman dan anggukan darinya, penuh perasaan bersalah.

Tiba – tiba terdengar bunyi ribut dari alat makan yang dilemparkan ke atas piring dari meja sebelah. Kami berdua mengamati pelakunya, ternyata dua orang gadis, yang kalau aku tebak seumuran dengan temanku Mika ini. Dandanan mereka cukup bening buat mata lelaki, senang bisa punya kesempatan bertemu mereka. Mereka cantik walaupun tanpa riasan yang tebal. Aksesorisnya cukup simple, tidak terlalu ramai, tetapi tetap saja orang yang melihat bisa tahu bahwa barang – barang yang mereka pakai termasuk barang mahal, tanpa perlu bantuan paranormal sekalipun. Seperti dalam suasana yang serba terburu – buru mereka segera menghabiskan minuman, sedot habis, lalu cabut dengan langkah kaki panjang dan muka kecut. Aku dan Mika berpandang – pandangan, sepertinya mereka tersinggung dengan obrolan kami. Tapi tidak perlu aku merasa berdosa karena telah menyinggung perasaan mereka, sikap mereka aku anggap sebagai sikap mengamini teoriku tadi. Kenyataan memang pedih, Jendral !!… eh maksudku Girls!!!

“Evolusi ini akan terus bergulir sampai mencapai keadaan yang setimbang, atau sampai keadaan berubah”.

“Sebentar….tunggu dulu, cewek cantik tambah banyak sudah aku akui, tapi apa bener banyak cowok tambah kaya? Sebagai dampak dari evolusi itu harusnya terjadi kan?”, sergahnya.

“Loh, apa kamu gak lihat sekarang banyak mobil mewah berkeliaran di jalan. Jalan mulai macet itu karena populasi mobil bertambah secara signifikan. Penyebab macet adalah banyak mobil, banyak makan tempat ketimbang motor atau sepeda, ya toh? Setiap dilongok ke dalam kaca – kaca mobil itu pasti kamu temukan wanita cantik, dengan sopir pribadinya, merangkap suami, atau whatever lah. It’s true…!!”

“Ehmm…. Walaupun kedengarannya meyakinkan, tapi aku tetep anggap teorimu itu konyol.”

“He he…boleh aja kamu bilang konyol, kenyataannya toh kamu lebih milih cowok kaya ketimbang cowok ganteng…..weeek!”

“Dodol lu…!!”

Kehidupan tak pernah lepas dari evolusi, semakin keras dan kompetitif. Cinta sebagai bagian dari kehidupan turut pula berevolusi. Evolusi cinta telah berproses begitu panjang, tidak hanya mengubah pola pikir tentang cinta dan perilaku kita bercinta, tetapi juga fisik[6] kita untuk mendapat cinta.

Perempuan dituntut untuk menjadi cantik. Kecantikan yang hanya akan dinikmati oleh orang lain, sementara tubuhnya sendiri menderita oleh pisau bedah, jarum suntik, sedot lemak, obat – obatan pemutih kulit dan pelangsing tubuh, dan tumpukan silicon yang dijejalkan ke tubuhnya. Menyedihkan memang kalau kita baru bisa menyukai diri sendiri setelah lebih dulu orang lain menyukai diri kita. Ironi !


[1] Kaya dari bapaknya yang tidak ganteng itu.

[2] Cowok ganteng kaya

[3] Cewek gak cantik kaya

[4] Maksudnya rasa malu

[5] Lebih susah untuk menjadi kaya ketimbang memepertahankan kegantengan, makan tuh genteng, eh, ganteng !

[6] morfologi

FACEBOOK Share





Kapan Kita Harus Beryukur ?

23 05 2009

Sekitar tiga tahun yang lalu, sahabat saya tiba di negeri ujung laut. Dalam blog nya dia menceritakan betapa berkat Tuhan sangat melimpah, bahkan dia menggunakan istilah “berkat Tuhan mengejarnya tanpa henti”. Tak henti – hentinya pertolongan Tuhan datang melalui rekan – rekan yang lebih dulu ada disana, silih berganti berdatangan. Baru saja ia menapakkan kaki di gerbang negeri, berkat Tuhan sudah menghajarnya bertubi – tubi. Dari yang dibantu mencari tempat tinggal, mengisinya dengan perabotan, dan segala macam peralatan untuk menunjang aktifitasnya.

Juga belum lama sebelum saya menulis tulisan ini, saya mendengar kotbah kebaktian minggu dari seorang pendeta yang saya kenal, tentang pentingnya meneliti hati kita, dan meneliti firman Tuhan pada kehidupan kita.

Apa hubungan kedua peristiwa diatas?

Saya teringat sahabat saya yang sudah menikmati negeri ujung laut itu, betapa dia mengucap syukur setelah menerima berkat Tuhan yang melimpah, yang saya rasa terucap dengan sangat menggebu – gebu. Sampai – sampai saya berpikir akankah ucapan syukur itu juga tetap dipanjatkan ketika kesulitan datang, saat jalan yang terentang di depan terasa asing dan gelap.

Teringat kotbah kebaktian minggu yang saya dengar, saya mulai meneliti hati saya sendiri. Saya yang mungkin ‘tak seberuntung’ sahabat saya ini, bisakah mengucap syukur? Saya sedang menjalani masa – masa penuh tantangan, belum jelas arah masa depan saya. Cita – cita ada, tapi akankah tercapai ? Masih penuh tanda tanya dan kekhawatiran. Sangat berbeda dibanding sahabat saya yang sedang menikmati kelimpahan berkat. Sepertinya tidak ada alasan yang tepat (bagi saya) untuk mengucap syukur.

Kemudian ketika saya mencoba berpikir positif, mencari sesuatu yang bisa saya syukuri pada kehidupan saya, rasanya tetap hambar, malah terasa seperti orang kalah yang sedang menghibur diri sendiri.

Lalu kapan kita harus bersyukur? Pada saat kita gembira kah? Atau saat kita mendapatkan sesuatu seperti yang kita harapkan?  Dan apakah kita tidak boleh merasa kecewa  dan kesal atas ketidakberuntungan kita? Apakah kita harus memaksakan mulut kita untuk berucap syukur saat kita terpuruk dalam suatu masalah?

Untuk masalah berucap syukur, saya teringat seorang tokoh dalam Alkitab, yaitu nabi Ayub, seseorang yang dikenal taat dan takut akan Tuhan. Dengan kekayaan yang sangat berlimpah, dia hidup sebagai hamba Tuhan yang selalu menempatkan hidupnya dalam pemeliharaan Tuhan. Tetapi, toh Tuhan juga mengijinkan iblis untuk menurunkan cobaan kepada Ayub untuk menguji kesetiaannya kepada Tuhan. Iblis membuat Ayub kehilangan kekayaan dan keluarganya, Ayub dibuat hidup sebatang kara dengan penyakit menjijikkan di tubuhnya (saya jadi berpikir, kalau Ayub saja yang begitu setia dan taat kepada Tuhan mendapat cobaan yang begitu dashyat. Apakah saya yang penuh dosa ini, tidak berhak mendapat cobaan beberapa kali lipat dari yang dialami Ayub?).

Ada yang luput dari cerita Ayub ini. Ketika saya mencoba membaca ulang kisah Ayub, saya tersadar bahwa Ayub juga manusia. Ayub juga berkeluh kesah terhadap cobaan yang dialaminya. Ayub protes kepada Tuhan. Mengapa Tuhan meninggalkan dirinya? Kesalahan apa yang telah diperbuat sehingga menimpakan musibah yang begitu dashyat?

Ini adalah pemikiran manusia pada umumnya. Ketika ada datang cobaan menimpa, selalu muncul pertanyaan: Dosa apa yang telah saya perbuat sehingga saya layak mendapat musibah sebesar ini? Sebuah pembelaan diri, yang secara tidak langsung ingin berkata: saya ini tidak salah apa – apa, kalaupun salah, tidaklah besar, mengapa Tuhan mengirim cobaan seberat ini? Tanpa sadar manusia telah meninggikan diri di hadapan Tuhan. Tiada yang suci di mata Tuhan, semua manusia berdosa, mengapa kita masih bisa protes bahwa kita tidak layak dihukum?  Hal ini juga yang terjadi pada Ayub, sampai Tuhan menegur Ayub untuk tetap merendahkan diri dihadapan-Nya. Segera Ayub sadar telah melakukan kesalahan. Sepantasnya dia tidak meninggikan diri di hadapan Sang Khalik, dan selalu percaya akan pemeliharaan-Nya.

Orang yang beruntung boleh bersyukur atas berkat Tuhan yang mengalir di hidupnya. Orang yang tidak beruntung boleh bersyukur karena masih ada pengharapan di dalam Tuhan, yang tidak pernah meninggalkannya, dan jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan, bolehlah kita percaya Tuhan sedang menyiapkan jalan yang lebih baik dari apa yang kita minta.

Seeing then believing is logic, believing without seeing is faith.

Melihat kemudian percaya adalah logika, percaya tanpa melihat adalah iman.

FACEBOOK Share








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.