The Cover Up Lie

19 01 2010

Para pelaku selingkuh selalu memiliki 1001 alasan untuk menutupi perselingkuhannya. Nah, soal selingkuh menyelingkuhi kebetulan aku agak paham. Sebelum berdebat tentang batasan selingkuh maka selingkuh yang dimaksud disini adalah sesuai dengan definisi standar dari almarhumah adikku:

Selingkuh Hati, memiliki pikiran atau niat untuk menduakan cintanya. Syarat utamanya niat dan atau pikiran.

Selingkuh Aksi, memiliki pikiran, niat atau kesempatan untuk menduakan cintanya lalu merealisasikannya dalam sebuah tindakan. Syarat utamanya tindakan.

Kebohongan selalu ditutupi dengan kebohongan lainnya, begitu kata pepatah. Maka dari itu para pelaku selingkuh harus membekali diri dengan teknik berbohong untuk melancarkan aksinya. Ada beberapa teknik dasar berbohong untuk menciptakan alasan demi mengaburkan perselingkuhan, sejauh yang saya tahu, sebagai berikut :

Totally lie : Cerita yang dikemukakan benar – benar bohong, hanya karangan dan sama sekali lain dari apa yang terjadi. Contoh:
Ngakunya lembur tapi sebenarnya diner sama selingkuhan.
Ngakunya dinas luar kota tapi ternyata check-in di hotel sama selingkuhan.
Pelaku harus memiliki imajinasi tinggi sehingga mampu mengarang hingga detail – detail kecil saat dibutuhkan. Juga perlu ditunjang dengan daya ingat yang baik supaya tidak terjebak oleh cerita karangan sendiri.

Partly true : Cerita yang dikemukakan benar – benar terjadi, tapi cerita itu tidak menggambarkan keseluruhan kejadian (kamuflase). Contoh :
Ngakunya diner sama temen – temen tapi ternyata diantara temen – temennya itu ada selingkuhannya dan memang benar diner sama teman – teman tapi selama diner mojok berdua sama selingkuhannya atau setelah diner bikin acara sendiri sama selingkuhannya.
Ngakunya ketemu klien, tapi ketemuannya cuma setengah jam, yang dua jam lagi dipakai ‘indehoy’ sama selingkuhannya.
Pelaku wajib memiliki skill dalam meramu fakta dan fiksi menjadi cerita yang utuh sehingga menjadi sulit dibedakan mana yang benar dan mana yang bohong.

Playing innocent : Cerita yang dikemukakan benar terjadi, tapi berlagak bodoh dan menyangkal kalau terjadi perselingkuhan. Biasanya alasan ini diikuti dengan kalimat : ‘Kami cuma temenan’, ‘Kami gak ada apa – apa’, ‘Aku gak macem – macem’, ‘Dia tahu aku sudah punya kamu’, dan lain – lain.
Pelaku harus melatih dirinya agar bisa memasang mimik muka orang tidak bersalah atau seolah – olah sebagai korban dari keadaan yang sedang terjadi.

Setelah makin mahir, variasi bisa dilakukan dari ketiga teknik dasar ini, dan yang terpenting adalah konsistensi cerita, sehingga alibi yang dibangun bisa terdengar meyakinkan.

‘mmyb’





Dunia Rusak

14 01 2010

Hari ini hujan turun deras sekali. Sudah terbayang jalan pulang yang penuh dengan genangan air. Kondisi lingkungan ini memang sudah sedemikian rusaknya hingga hujan deras sebentar saja sudah mampu merendam jalan dan pemukiman hingga sebatas mata kaki.

Sekelebat terbayang dunianya bangsa Na’vi – dalam film avatar – yang harmoni. Hidup dalam kesatuan dengan alam segenap tubuh dan jiwanya. Dunia yang membuat Jack Sulley terpikat dan memilih mangkat dari dunia manusia dan terlahir kembali sebagai bangsa Na’vi.

Saat ini sedang membangun harmoni yang seperti itu. Akan tercapai atau harus mangkat dari dunia ini menuju kedamaian nirwana ? Seperti Jack Sulley?

Lebih gampang mengajak manusia untuk merusak (lingkungan / diri sendiri) daripada memperbaiki. Dan yang paling sukar adalah menjaganya supaya tetap baik.

Green your heart, mind and soul.

Kembali merenung….

‘mmyb’





Nasib Koin-koin Itu Selanjutnya

1 01 2010

Saat awal gerakan ‘koin keadilan’, aksi pengumpulan koin untuk mbak Prita, saya hanya melihat koin – koin tersebut pada nilai psikologisnya saja yaitu dukungan yang sangat besar untuk mbak Prita untuk melawan ketidakadilan yang mencoreng moreng wajah penegakan hukum di Indonesia. Bukan karena jumlah totalnya yang mencapai 825 juta rupiah (kompas.com), tapi nilai total tersebut terkumpul lewat koin, pecahan terkecil dalam mata uang, untuk menunjukkan banyaknya dukungan.

Setelah akhirnya secercah keadilan menghangatkan dunia peradilan kita dengan divonis bebasnya mbak Prita dari segala tuntutan pidana (dan segala tuntutan perdata setelah sebelumnya gugatan perdata dicabut oleh penggugat) saya anggap tugas psikologis koin – koin tersebut telah usai. Dan saya tersadar kembali bahwa koin-koin tersebut masih memiliki nilai nominal.

Menunggu keputusan mbak Prita, meskipun hak penggunaan koin-koin tersebut telah diserahkan sepenuhnya ke mbak Prita, akan diapakan ya uang sebanyak (literally) itu? Akankah nilai nominalnya juga punya manfaat besar kepada masyarakat luas seperti nilai psikologisnya? Sekedar penasaran saja, he he he…








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.