What’s wrong with the gynecologist ?

28 08 2009

“What’s wrong with male gynecologist ?” my wife asked me.

“ It’s all wrong.” I said.

Perhaps, she didn’t notice how the gynecologist staring at her while he walked through the waiting room, but I did and it was annoying me.

“First, I have to let him stick his finger into your vagina, second I have to pay him expensive for that.”

Sticking finger to my wife’s vagina to detect any infection ?  It sounds no good. I believe it’s not only sticking….but twisting around back and forth. If it had to be that way, I prefer to let a woman doing it. Although the gynecologist knew my anxiety, he didn’t recommend me a female gynecologist, as I know there is a female gynecologist working at the same hospital. But the weird thing is the gynecologist became intimidating when he said that I was refusing vaginal examination on my wife, since I wasn’t refusing but only felt uncomfortable with male gynecologist doing it. After all, it’s not an emergency situation, just a pre-pregnancy examination, so I still have plenty of time to find female gynecologist.

***

It was the situation when someone you trust (by his/her profession) playing you around. A quick back flash stroke my head, taking me back to 3 years ago when I was suffering from sediment in my right kidney. The urologist I met suggesting surgery to remove the sediment, and assured me that there was no other way to save me from the pain. The diagnose and the recommendation were built up from x-ray photos of my kidney.

Well, I had to prepare the budget first, right ? An administrative officer handed me the details of the procedure cost. OMG ! The surgery would cost me 10 million rupiah, and half of it would go to the urologist’s pocket. Driven by the fact that I didn’t have the money, I went for second opinion. A friend of mine recommended me a general practitioner. When I showed him he x-ray photos told him all what the urologist said, he laughed.

“ You don’t need surgery, it’s a small sediment and it is on the way to the bladder, when it reaches your bladder, it won’t cause you pain anymore. Once it in the bladder, it will go out naturally along with your urine. Don’t worry, I will write you prescription for reducing the pain, curing the possible infection and stimulating your bladder. Don’t forget to drink water 20 glasses a day.”

Obviously the urologist has played me around. He left me with no choice and turned out that it’s not necessary. And the general practitioner was right, not later than 5 days the sediment plugged out when I was urinating. Since that moment I never trust any doctor that leave me with no choice, I always seek for second opinion if a doctor say to me: ‘There is no other way’.

***

“I want you to be examined by female gynecologist.” I said to my wife.

“Male gynecologist always better than female gynecologist. Everybody knows.” She replied.

“Well, that is female gynecologist’s problem, not ours ! This is a pre-pregnancy examination, I only let female gynecologist touching around your genital and no male gynecologist before you really get pregnant.”

This is another issue, why people think that male gynecologist is always better than female one. Are we lack of good female gynecologist? It has to be a good female gynecologist somewhere.

I decided to be a smart patient. When I’m dealing with any health issue, I always gather sufficient information about it before I go to any doctor. At least I can give impression to the doctor that I’m a well informed patient. I should educate myself, as I feel there is no doctor trying to educate the patient anymore. The most important thing is that I need to be comfortable with the treatment I choose. I never hesitate to have another option or second opinion.

Shared to me on August 22, 2009 by Anggoro.

Carefully wrote avoiding similar case to Prita Mulya Sari.

FACEBOOK Share





Evolusi Cinta

23 05 2009

[release ulang tulisan lama]

Dan pertanyaan itupun bergulir. Saat itu aku dan Mika sedang makan di warung Kenari, yang setiap harinya penuh, terutama oleh gadis – gadis cantik, yang aku kira masih kuliah. Cowok juga ada, cuma segelintir.

“Kenapa sih sekarang cewek cantik tambah banyak, sementara cowok cakep makin dikit?” Tiba – tiba dia bertanya, diikuti kepalanya yang celingak – celinguk kiri kanan, seperti berusaha keras mencari pemandangan yang sejuk. Pertanyaan itu membuatku berhenti mengunyah, lalu sedikit mikir. Sedikit aja karena pertanyaannya gak ilmiah, jadi gak perlu mikir banyak – banyak. Paling tidak aku meyakinkan diriku dulu bahwa aku termasuk yang sedikit itu.

“Itu semua salahmu…salah kalian para wanita.” Suaraku agak keras, sengaja, supaya meja sebelah ikut dengerin.

“Salahku? Dimana peranku yang membuat mereka terancam punah? Justru aku gak ingin itu terjadi, supaya aku gak harus desperate cari pacar seperti sekarang, dodol !”.

Kalimat terakhirnya membuatku tersenyum, dan lebih tersenyum lagi ketika aku ingat memang dia lagi cari pacar. Delapan bulan telah lewat sejak dia didepak pacarnya yang juga teman kuliahku sendiri. Pacarnya yang juga temanku itu ninggalin Mika demi cewek lain, setelah mereka pacaran 6 tahun lebih. Bagian didepaknya sih kupikir bukan masalah buat Mika. Cuma yang bikin dia jengkel adalah timingnya.  Kenapa setelah 6 tahun? Kenapa gak sebelumnya? Kenapa kamu meninggalkan aku saat aku sudah terlalu tua untuk cari pacar? Dia memang belum terlalu tua, umurnya baru juga 27 tahun. Tapi umur segitu sudah banyak yang malas untuk memulai lagi sebuah hubungan, apalagi masih harus melewati fase pacaran yang serba spekulatif dan penuh trial and error. Menambah daftar kejengkelannya adalah kenyataan bahwa sampai sekarang dia belum juga dapat pengganti, sementara bekas pacarnya yang temanku itu sudah berpeluk cium dengan seekor betina gak tau diri. Tapi ini semua cuma dugaanku, aku gak pernah tahu, dan gak berminat untuk tanya.

“Kamu tahu teori evolusi kan?”, tanyaku. Segera dia mengangguk.

“Semua makhluk hidup berevolusi mencari bentuk dan kondisi terbaik atas kebutuhan dirinya dan keadaan lingkungan tempat tinggalnya.” Matanya masih tertuju padaku, pertanda bahwa dia menyimak omonganku.

“Kamu tahu kenapa jerapah berleher panjang? Teorinya adalah hal ini disebabkan oleh alam yang menuntut demikian, supaya dia bisa makan pucuk – pucuk daun di tempat yang tinggi. Mungkin pada saat itu populasi herbivora sangat banyak, tidak seimbang dengan populasi rumput dan semak yang tersedia sehingga si jerapah ini selalu gak kebagian karena dia termasuk binatang yang lamban, dan yang tidak bisa diperebutkan lagi adalah pucuk daun yang tinggi, maka berevolusi lah tubuh jerapah ini dengan memanjangkan lehernya untuk meraih pucuk – pucuk daun itu, dengan demikian dia bisa bertahan hidup dan kehidupannya terus berjalan sampai sekarang”.

“Ya, aku pernah dengar itu”, timpalnya.

“Ada juga teori tentang kepunahan manusia purba Cro Magnon. Para manusia Cro Magnon punah karena tidak bisa beradaptasi dengan perubahan alam yang cukup ekstrim. Berbeda dengan Homo sapiens yang daya pikirnya lebih hebat, lebih maju. Homo sapiens lebih bisa menggunakan akalnya untuk mengatasi hambatan – hambatan hidup yang disebabkan oleh lingkungan tempat tinggalnya, dengan kata lain tingkat adaptabilitasnya lebih tinggi dibanding manusia Cro Magnon. Karena tidak bisa bersaing dengan Homo sapiens itulah maka manusia Cro Magnon jadi teralienasi, hingga tidak bisa bertahan dan akhirnya punah.” Selesai berkata segera kutarik nafas panjang dan segera kusedot es teh dengan pipet.

“Kalo yang itu aku baru denger, tapi aku tetep gak ngerti…apa hubungannya sama kepunahan cowok – cowok cakep? ” Mika menegaskan kembali pertanyaan besarnya.

“ Nah kepunahan itu bisa dijelaskan lewat teori-teori itu.” Sepotong tempe selesai kubelah di saat yang bersamaan aku selesai mengucapkan kalimat itu.

“Sekarang cewek lebih banyak yang membutuhkan cowok kaya ketimbang cowok ganteng, sedangkan cowok, baik ganteng maupun tidak, kaya maupun tidak, tetap dengan pola pikir tradisionalnya untuk mencari cewek cantik, jarang cowok yang mau menjamah cewek yang physically tidak menarik, sehingga ketersediaan cewek cantik sangat terbatas, karena peminatnya sangat banyak. Karena kondisi yang demikianlah yang menyebabkan spesies cowok dituntut berevolusi menjadi cowok kaya dengan kompensasi tidak ganteng, karena kegantengan tidak dibutuhkan lagi. Hal itu terjadi supaya bisa bertahan hidup dan berkembang biak. Dan mungkin pada akhirnya semua cowok akan berubah menjadi kaya dan tidak ganteng, sehingga pada saat itu terjadi, mustahil menemukan cowok ganteng, sama mustahilnya menemukan jerapah berleher pendek saat ini. Sementara itu cewek – cewek juga berevolusi menjadi cantik agar masih bisa berkembang biak dengan cowok kaya yang tidak ganteng, dan menghasilkan keturunan, laki – laki yang tidak ganteng seperti bapaknya, atau perempuan cantik seperti ibunya. Kalo toh keturunan mereka cowok ganteng kaya atau cewek tidak cantik kaya[1], populasinya tidak akan banyak. Keturunan jenis yang pertama[2] , adalah spesies minoritas superior, yang bisa bertahan hidup hanya untuk mengetahui bahwa kegantengannya adalah sebuah komoditas yang tidak lebih berharga dari sebuah mobil Jaguar, dan akhirnya jiwa dan raganya pun berevolusi. Keturunan jenis yang kedua[3], lebih menderita, karena harus memilih, tetap bertahan untuk punah atau mengikuti arus evolusi yang terjadi untuk tetap bertahan.” Aku menutup penjelasan itu dengan sebuah kepulan asap rokok yang keluar dari mulutku, “ Sejalan dengan teori evolusi itu maka terjadi juga evolusi di pihak cewek, menjadi cantik karena tuntutan alam yang demikian. Mereka tidak perlu kaya karena dengan kecantikan, kekayaan akan mendatangi mereka. Lebih mudah menjadi terlihat cantik ketimbang menjadi kaya….. ”

“Kultur pun menjadi salah satu katalisator terjadinya evolusi ini. Para laki – laki selalu tumbuh dengan doktrin bahwa dia harus bertanggung jawab, menafkahi istri, punya harga diri. Sementara perempuan selalu mendapat didikan untuk patuh pada suaminya, menggantungkan hidup pada suaminya. Coba apa kata orang bila lihat seorang laki – laki tidak bekerja, mengurus rumah, dan istrinya yang mencari uang? Jangankan seperti itu…walaupun sama – sama bekerja saja, jika si laki – laki berpenghasilan lebih rendah dari si istri, nuraninya mengharuskan dia untuk merasa malu, apalagi menggantungkan hidup sepenuhnya. Sementara jika sebaliknya, itu terjadi pada perempuan, maka ia terbebas dari rasa malu seperti yang dimiliki laki – laki.

Maka tumbuh subur lah cewek – cewek materialis kapitalis, tanpa halangan yang cukup berarti, berbeda dengan cowok materialis kapitalis yang nantinya akan mati tertimpa kemaluannya[4] sendiri. Dan untuk bisa menjadi cewek materialis kapitalis yang dibutuhkan adalah wajah dan body.

Bisa juga kita bilang cowok ganteng adaptabilitasnya lebih rendah dibandingkan dengan cowok kaya terhadap perubahan alam yang seperti ini[5]. Sehingga cowok ganteng tidak akan mendapat tempat untuk berkembang biak di bumi ini, karena cewek cantik yang diidamkanya memilih kawin dengan cowok kaya, sementara dia sendiri gak mau kawin sama cewek yang gak cantik. Inilah yang menyebabkan mereka terpinggirkan, sebuah awal dari kepunahan mereka, yang sebentar lagi akan datang. Sementara itu cowok kaya bisa lebih beradaptasi dengan kondisi ini. Meskipun mereka tidak ganteng, mereka punya cukup uang, mereka bisa menutupinya dengan mobil mewah, rumah mewah, dan perbendaharaan kemewahan lainnya, yang membuat teman wanitanya mabuk kepayang.

Intinya sama seperti apa yang terjadi dengan Cro Magnon dan Homo sapiens, cowok ganteng itu manusia purba (Cro Magnon) dan cowok kaya itu manusia modern (Homo sapiens).”

Penjelasanku berhenti sampai disini. Saat kupandang wajahnya, bola matanya sudah naik ke langit – langit, agaknya sedang mencerna kata – kata yang baru saja kuucapkan. Setelah turun bola matanya menghadapku, segera dia merespon, “Ow….jadi itu yang terjadi. Setahuku evolusi itu terjadi dalam rentang waktu yang sangat panjang, berarti kondisi ini sudah sangat lama terjadi?”.

“Yup, benar. Jujur deh… kalo kamu disuruh memilih antara cowok ganteng atau cowok kaya, kamu pilih yang kaya kan?” Kusidang dia di tempat, emang cuma polisi aja yang bisa. Aku cuma dapat senyuman dan anggukan darinya, penuh perasaan bersalah.

Tiba – tiba terdengar bunyi ribut dari alat makan yang dilemparkan ke atas piring dari meja sebelah. Kami berdua mengamati pelakunya, ternyata dua orang gadis, yang kalau aku tebak seumuran dengan temanku Mika ini. Dandanan mereka cukup bening buat mata lelaki, senang bisa punya kesempatan bertemu mereka. Mereka cantik walaupun tanpa riasan yang tebal. Aksesorisnya cukup simple, tidak terlalu ramai, tetapi tetap saja orang yang melihat bisa tahu bahwa barang – barang yang mereka pakai termasuk barang mahal, tanpa perlu bantuan paranormal sekalipun. Seperti dalam suasana yang serba terburu – buru mereka segera menghabiskan minuman, sedot habis, lalu cabut dengan langkah kaki panjang dan muka kecut. Aku dan Mika berpandang – pandangan, sepertinya mereka tersinggung dengan obrolan kami. Tapi tidak perlu aku merasa berdosa karena telah menyinggung perasaan mereka, sikap mereka aku anggap sebagai sikap mengamini teoriku tadi. Kenyataan memang pedih, Jendral !!… eh maksudku Girls!!!

“Evolusi ini akan terus bergulir sampai mencapai keadaan yang setimbang, atau sampai keadaan berubah”.

“Sebentar….tunggu dulu, cewek cantik tambah banyak sudah aku akui, tapi apa bener banyak cowok tambah kaya? Sebagai dampak dari evolusi itu harusnya terjadi kan?”, sergahnya.

“Loh, apa kamu gak lihat sekarang banyak mobil mewah berkeliaran di jalan. Jalan mulai macet itu karena populasi mobil bertambah secara signifikan. Penyebab macet adalah banyak mobil, banyak makan tempat ketimbang motor atau sepeda, ya toh? Setiap dilongok ke dalam kaca – kaca mobil itu pasti kamu temukan wanita cantik, dengan sopir pribadinya, merangkap suami, atau whatever lah. It’s true…!!”

“Ehmm…. Walaupun kedengarannya meyakinkan, tapi aku tetep anggap teorimu itu konyol.”

“He he…boleh aja kamu bilang konyol, kenyataannya toh kamu lebih milih cowok kaya ketimbang cowok ganteng…..weeek!”

“Dodol lu…!!”

Kehidupan tak pernah lepas dari evolusi, semakin keras dan kompetitif. Cinta sebagai bagian dari kehidupan turut pula berevolusi. Evolusi cinta telah berproses begitu panjang, tidak hanya mengubah pola pikir tentang cinta dan perilaku kita bercinta, tetapi juga fisik[6] kita untuk mendapat cinta.

Perempuan dituntut untuk menjadi cantik. Kecantikan yang hanya akan dinikmati oleh orang lain, sementara tubuhnya sendiri menderita oleh pisau bedah, jarum suntik, sedot lemak, obat – obatan pemutih kulit dan pelangsing tubuh, dan tumpukan silicon yang dijejalkan ke tubuhnya. Menyedihkan memang kalau kita baru bisa menyukai diri sendiri setelah lebih dulu orang lain menyukai diri kita. Ironi !


[1] Kaya dari bapaknya yang tidak ganteng itu.

[2] Cowok ganteng kaya

[3] Cewek gak cantik kaya

[4] Maksudnya rasa malu

[5] Lebih susah untuk menjadi kaya ketimbang memepertahankan kegantengan, makan tuh genteng, eh, ganteng !

[6] morfologi

FACEBOOK Share





Surat Untuk Adikku

27 11 2008

Halo nyet,

Pie kabarmu disana? Baik – baik aja kan ? Sudah 10 hari sejak kamu pergi, kuharap keadaannya berangsur membaik. Aku panasaran, kamu disana ngapain aja yah? Disana ada apa aja? Ketemu siapa aja? Sorry, terlalu banyak pertanyaan. Tapi pasti kamu disana jadi tahu banyak hal.

Kabar dari kami baik – baik saja. Aku, papa dan mama masih sehat dan kembali pada kesibukan masing – masing. Kami juga nyempatin diri untuk ngurus beberapa hal yang kamu tinggalin, semoga ga ada masalah. Keluarga dan temen dekat juga masih ada yang dateng berkunjung atau sekedar nelpon nanya kabar. Tapi aku agak khawatir nih sama mama mu, kondisinya masih labil, baik fisik maupun emosi. Yah kita doain aja, supaya apa yang dirasakannya cepet berlalu, tidak berlarut – larut.

Aku juga sudah balik kerja, seperti dulu. Tapi emang ga bisa sama seperti dulu. Sekarang kemana – mana sendiri, gak bisa ngajak kamu lagi. Jadi gak ada partner buat patungan beli macem – macem. Gak ada yang cerewetin aku lagi soal baju, sepatu, kencan dan ngabisin duit ….ha ha ha. Sudahlah…romantisme masa lalu, aku sudah mulai terbiasa. Sekarang papa dan mama nanyain terus kapan aku mo nikah, …ha ha ha …walah …jadi pusing mo jawab apa. Lah wong aku masih gak jelas gini, coba ? Mungkin mereka lagi cari figur pengganti kali ya ? Semua perhatian jadi tertuju padaku, bikin sedikit tertekan, tapi akan kucoba menikmati. Yang jelas dukung perjuanganku dalam mengarungi hidup dan menjalani obsesiku yah… Beri petunjuk buat kakakmu yang sering sesat jalannya ini …wakakaka …lewat mimpi juga boleh.

Udah dulu ya …lain waktu disambung lagi. Salam buat Tuhan, bilang makasih ama Dia udah mau jagain kamu disana. Oh ya …sekalian tanyain ama Dia, kapan giliranku ? Aku udah nunggu – nunggu neh !

We always love you.

Bye.

FACEBOOK Share





Wanita Modern, Srikandi dan Sinta

26 11 2008

Pada
alam pikirku, terbersit dua tokoh dalam pewayangan, yang menarik
buat mengisi lamunanku tentang wanita.
Dua tokoh itu adalah
Srikandi dan Sinta. Tapi aku lebih suka membahas Sinta dahulu, karena
nama Sinta lebih dikenal umum ketimbang Srikandi. Tidak perlu
melibatkan A.C. Nielsen – yang suka bermain dengan statistik –
untuk mengetahui lebih banyak wanita yang bernama Sinta ketimbang
Srikandi.

Sinta,
istri Sri Rama dikenal sebagai sosok yang setia, dan gak neko –
neko
. Berperilaku baik sebagai seorang wanita dan seorang istri. Bahkan untuk membuktikan kesucian cintanya Sinta rela membakar
diri, supaya keharumannya menjadi nyata di hidung Sri Rama yang
tertutup upil berbau tengik. Sinta mewakili sosok wanita yang lembut,
penurut, tulus, berbudi halus, setia, penuh cinta, berbakti dan
berani mati. Tetapi dibalik itu tergambar juga Sinta sebagai sosok
yang menggantungkan kebahagiaannya pada Sri Rama. Wanita yang lemah,
selalu pasrah. Demi membangun kembali kepercayaan suami terhadap
dirinya, dia memutus nyawanya sendiri. Tidak ada kebahagiaan jika Sri
Rama tidak percaya akan cinta dan kesetiaannya, mati pun jadi tidak
rugi. Mengapa Sinta harus mati harapan saat Rama
meragukan cintanya? Kalo aku bisa mengembangkan ceritanya, akan aku
buat begini :

Sinta
berucap kepada Rama.

“What
is love without trust? I’m your faithful wife. You are the love of
my life.“

Rama
bersabda kepada Sinta.

You
have to prove it. Women are clever with words. You have been captured
by Rahwana for so long. It’s impossible that He did nothing to
you.”

“How
could you say that? What kind of woman do you think I am? I swear it.
He never touched me. I never let him. How could I prove it to you? “

Burn
yourself ! Jump into the fire. If I can smell
flower scent out from your fucking burned corpse, then all your words are true. But I doubt it.”

“But
I’ll be dead then. And what is good from a burned dead body? “

But
your love will still live in my heart, forever. That’s important
for me.”

“I’m
sick of you, Rama. I’m sick of your ego and your arrogant noble
attitude. Why is it always about you? I’m not going to jump into
the fire only for fulfilling your selfish demand. In fact, I want a
divorce.”

I’m
a king and a knight. My words should be obeyed. I will divorce you as
you have failed to prove your love and faithfulness to me.”

“Good
bye, my ex-husband. I used to love you, but not anymore. You are an
ego-maniac.”

Lalu
Sinta meninggalkan Rama, kemudian bertemu dengan seorang petani
tampan. Mereka menikah dan hidup bahagia dalam kesederhanaan yang
bersahaja. Sedangkan Rama juga menikah lagi, bahkan sampai 10 kali.
Tetapi tidak ada usia perkawinannya yang bertahan
lama, dan selalu berakhir dengan kematian istri – istrinya.
Mengapa? Apakah Rama mendapat kutukan sehingga istri – istrinya
mati semua? Tidak. Istri – istrinya mati membakar diri, setiap Rama
meragukan cinta dan kesetiaan mereka. Cinta memang membutuhkan
pengorbanan.

Jadi, Sinta bisa saja memilih orang lain yang lebih mempercayai dia,
yang mencintai dengan sederhana dan tidak harus mati karena cinta.
Apakah Sinta berkurang kemuliaannya bila dia menampik permintaan Rama
yang ego-sentris itu? Dan aku tetap berpikir mengapa masyarakat
memakai kiasan Rama & Sinta untuk menggambarkan pasangan sejoli,
sementara kisah cinta mereka berujung tragis oleh kesombongan dan
ketidakpercayaan Rama terhadap Sinta. Apakah lantaran budaya
patriarkal, yang berharap para wanitanya mau berkorban nyawa demi
lelakinya? Apa ini strategi pembodohan oleh lelaki terhadap wanita?

****************************************************************************************************

Srikandi,
merupakan ksatria wanita, ahli panah, salah seorang istri dari
Arjuna.
Mungkin bila digambarkan adalah
kebalikan dari Sinta. Tetapi bukan berarti Srikandi adalah wanita
nakal dan binal. Atau mungkin juga iya? Dia kan bukan satu –
satunya istri Arjuna. Mungkin Arjuna yang kegatelan, suka ngumbar
libido. Tapi toh Srikandi mau juga dipersunting Arjuna. Yang jelas
sosok Srikandi adalah sosok yang tangguh karena dikenal sebagai
ksatria wanita dan mampu hidup poligami. Banyak cerita yang
menggambarkan karakter Srikandi lebih dalam, tetapi kita dapat
menangkap bahwa Srikandi adalah wanita perkasa.

Lalu
mengapa Srikandi harus menjadi istri Arjuna? Dia tangguh dan perkasa,
dan pasti tak hanya Arjuna yang jatuh cinta kepadanya. Srikandi sudah
punya segalanya, menjadi seorang ksatria, jago memanah, dan hidupnya
di kalangan bangsawan. Mengapa harus Arjuna yang menaklukan hatinya?
Aku mempertanyakan apa yang Srikandi butuhkan dari seorang playboy
seperti Arjuna yang beristri banyak itu. Misalnya saja Srikandi
jatuh cinta dengan Cakil, sosok antagonis yang selalu ditempatkan
sebagai pecundang, pasti ceritanya jauh lebih menarik.

Arjuna Sasrabahu, sang pangeran cinta, kumbang penghisap madu, merayu
Srikandi untuk dipersuntingnya:

Adinda
Srikandi, dikau pujaan hatiku.
Parasmu nan
elok bak bunga mekar yang menggoda kumbang. Hatiku bergetar saat
menatap kedua matamu. Ujung panahku tak bisa menemukan sasarannya,
saat bayanganmu hadir di kepalaku. Aduh Adinda, kiranya diriku telah
jatuh cinta kepadamu.”

Terima
kasih Kakanda, atas pujian dan cintanya.
Namun
hamba tidak bisa menerima tawaran cinta Kakanda”.


”Mengapa kiranya wahai Srikandi nan jelita? Kita punya banyak
kesamaan, sama – sama jago manah, sekti mondroguno, anak bangsawan,
sejoli yang bakal bikin semua lelaki negeri Astinapura menjadi iri
hati.”


Maaf Kakanda Arjuna. Hatiku telah memilih, hatiku telah berpadu
cinta dengan seseorang. Despite semua kesamaan yang kita punya, which
is tidak menjamin kebahagiaan ada di antara cinta kita, aku telah
jatuh cinta pada seseorang terlebih dahulu.”


”Jahanam mana yang telah menaklukan hatimu? Pangeran darimana dia?
Haruskah kutaklukan negerinya untuk bisa memilikimu?”


Bukan seorang pangeran, Kakanda. Dia hanya jelata dari kalangan
raseksa. Namun dia telah benar – benar taubat, setelah mendengar
lagu : Andai Ku Tahu dari grup band Ungu. Dan aku tulus mencintainya.
Dia adalah…….Kangmas Cakil.”

Gandrik
! Jagad Dewa Bathara !
Lelucon apa ini,
Adinda?
Kalian seperti bumi dan langit,
kaki dan kepala. Apakah kamu tidak menyadari akan banyaknya usaha dan
pengorbanan untuk menyatukan perbedaan itu. Sebagai contoh saja,
berapa biaya yang harus kamu keluarkan untuk operasi plastik
rekonstruksi rahang dan gigi Cakil, supaya kamu bisa mencium cangkem
si Cakil tanpa terluka oleh rahangnya yang maju ke depan dan gigi –
giginya yang tajam?”


Itu adalah resiko dari pilihan hatiku, Kakanda Arjuna.”


”Menikahlah denganku Srikandi! Kau akan punya segalanya,  aku
adalah pangeran putra Pandu Dewanata, terlahir dengan kasta
terhormat, kekayaan dan cinta selalu menyertaiku, dan kau akan
menikmatinya secara berkelimpahan bila menjadi istriku.”


Sebagai ksatria wanita, aku adalah wanita yang mandiri, dan
tidak lagi mengejar materi. Aku seorang wanita karier, punya sekolah
memanah sendiri. Apa yang Kakanda tawarkan tidak menarik bagiku. Aku
sendiri sudah hidup berkecukupan. Aku hanya ingin mendapat cinta
sejatiku, yaitu  Kakang Cakil.”


”Dia cuma pecundang busuk, yang selalu kalah di setiap
pertempuran. Sedangkan aku ksatria sejati yang hidupnya tiada lengkap
tanpa cintamu.”


Tapi Kakang Cakil telah memenangkan hatiku, lagipula sampeyan
punya banyak istri. Aku anti poligami, Kakanda Arjuna!”


”Baiklah aku terima keputusanmu. Tapi ingatkan pada Cakil kekasihmu
itu, suatu saat bila aku bertemu dengannya akan kuhabisi nyawanya,
sehingga cintamu bisa kurengkuh.”


Sebelum engkau bisa menyakiti kekasihku, panahku akan menembus
jantungmu terlebih dahulu, Kakanda Arjuna !”


”Kita lihat saja nanti, ingsun pamit, Srikandi !”


Enyahlah !”

Kenyataanya Srikandi adalah istri Arjuna, dan Cakil tetaplah
pecundang. Seorang wanita tangguh seperti Srikandi memilih seorang
Arjuna yang ksatria juga, seseorang yang berkemampuan lebih. Bukankah
ketangguhannya berarti kemandirian ? Dan kemandiriannya berarti
kebebasan hatinya untuk memilih pasangan hidupnya dari kalangan
manapun tanpa perlu melihat status. Seseorang wanita yang lemah
mungkin akan memilih pria yang kuat untuk melengkapi hidupnya.
Mengapa seorang wanita yang kuat harus memilih pria yang kuat pula?
Tidakkah dengan kekuatan yang dimilikinya, dia berani menerima yang
lemah? Atau karena Cakil adalah produk gagal yang tidak punya PD
untuk bersanding dengan Srikandi ?

************************************************************************

Namun tidak ada cerita yang lebih menarik ketimbang kehidupan itu
sendiri, walau kehidupan malah tak ubahnya seperti cerita dalam
wayang.  Wanita dalam kehidupan ini, terutama dalam tataran budaya
timur, yang terkontaminasi kompleksitas kehidupan modern
kapitalistik, tak ubahnya antara Srikandi dan Sinta. Sama – sama
tidak berani mengambil resiko. Selalu memilih pilihan – pilihan
yang aman meskipun bersifat sementara. Walaupun emansipasi digembar –
gemborkan, kesetaraan diperjuangkan, tetap saja wanita memiliki
kecenderungan untuk menggantungkan kebahagiaannya kepada jenis lelaki
tertentu. Terlebih lagi soal kebahagiaan finansial. Materialisme
menjadi lebih identik dengan wanita ketimbang pria. Meskipun ada
wanita yang kuat secara finansial, mereka pasti juga mencari yang
punya kekayaan lebih lagi. Kalaupun ada yang sebaliknya,
prosentasenya terlalu kecil, sampai – sampai tidak berarti bila
diperbandingkan.

Selamat datang di dunia kapitalis ! Pria miskin, menangislah !

FACEBOOK Share