Sekitar tiga tahun yang lalu, sahabat saya tiba di negeri ujung laut. Dalam blog nya dia menceritakan betapa berkat Tuhan sangat melimpah, bahkan dia menggunakan istilah “berkat Tuhan mengejarnya tanpa henti”. Tak henti – hentinya pertolongan Tuhan datang melalui rekan – rekan yang lebih dulu ada disana, silih berganti berdatangan. Baru saja ia menapakkan kaki di gerbang negeri, berkat Tuhan sudah menghajarnya bertubi – tubi. Dari yang dibantu mencari tempat tinggal, mengisinya dengan perabotan, dan segala macam peralatan untuk menunjang aktifitasnya.
Juga belum lama sebelum saya menulis tulisan ini, saya mendengar kotbah kebaktian minggu dari seorang pendeta yang saya kenal, tentang pentingnya meneliti hati kita, dan meneliti firman Tuhan pada kehidupan kita.
Apa hubungan kedua peristiwa diatas?
Saya teringat sahabat saya yang sudah menikmati negeri ujung laut itu, betapa dia mengucap syukur setelah menerima berkat Tuhan yang melimpah, yang saya rasa terucap dengan sangat menggebu – gebu. Sampai – sampai saya berpikir akankah ucapan syukur itu juga tetap dipanjatkan ketika kesulitan datang, saat jalan yang terentang di depan terasa asing dan gelap.
Teringat kotbah kebaktian minggu yang saya dengar, saya mulai meneliti hati saya sendiri. Saya yang mungkin ‘tak seberuntung’ sahabat saya ini, bisakah mengucap syukur? Saya sedang menjalani masa – masa penuh tantangan, belum jelas arah masa depan saya. Cita – cita ada, tapi akankah tercapai ? Masih penuh tanda tanya dan kekhawatiran. Sangat berbeda dibanding sahabat saya yang sedang menikmati kelimpahan berkat. Sepertinya tidak ada alasan yang tepat (bagi saya) untuk mengucap syukur.
Kemudian ketika saya mencoba berpikir positif, mencari sesuatu yang bisa saya syukuri pada kehidupan saya, rasanya tetap hambar, malah terasa seperti orang kalah yang sedang menghibur diri sendiri.
Lalu kapan kita harus bersyukur? Pada saat kita gembira kah? Atau saat kita mendapatkan sesuatu seperti yang kita harapkan? Dan apakah kita tidak boleh merasa kecewa dan kesal atas ketidakberuntungan kita? Apakah kita harus memaksakan mulut kita untuk berucap syukur saat kita terpuruk dalam suatu masalah?
Untuk masalah berucap syukur, saya teringat seorang tokoh dalam Alkitab, yaitu nabi Ayub, seseorang yang dikenal taat dan takut akan Tuhan. Dengan kekayaan yang sangat berlimpah, dia hidup sebagai hamba Tuhan yang selalu menempatkan hidupnya dalam pemeliharaan Tuhan. Tetapi, toh Tuhan juga mengijinkan iblis untuk menurunkan cobaan kepada Ayub untuk menguji kesetiaannya kepada Tuhan. Iblis membuat Ayub kehilangan kekayaan dan keluarganya, Ayub dibuat hidup sebatang kara dengan penyakit menjijikkan di tubuhnya (saya jadi berpikir, kalau Ayub saja yang begitu setia dan taat kepada Tuhan mendapat cobaan yang begitu dashyat. Apakah saya yang penuh dosa ini, tidak berhak mendapat cobaan beberapa kali lipat dari yang dialami Ayub?).
Ada yang luput dari cerita Ayub ini. Ketika saya mencoba membaca ulang kisah Ayub, saya tersadar bahwa Ayub juga manusia. Ayub juga berkeluh kesah terhadap cobaan yang dialaminya. Ayub protes kepada Tuhan. Mengapa Tuhan meninggalkan dirinya? Kesalahan apa yang telah diperbuat sehingga menimpakan musibah yang begitu dashyat?
Ini adalah pemikiran manusia pada umumnya. Ketika ada datang cobaan menimpa, selalu muncul pertanyaan: Dosa apa yang telah saya perbuat sehingga saya layak mendapat musibah sebesar ini? Sebuah pembelaan diri, yang secara tidak langsung ingin berkata: saya ini tidak salah apa – apa, kalaupun salah, tidaklah besar, mengapa Tuhan mengirim cobaan seberat ini? Tanpa sadar manusia telah meninggikan diri di hadapan Tuhan. Tiada yang suci di mata Tuhan, semua manusia berdosa, mengapa kita masih bisa protes bahwa kita tidak layak dihukum? Hal ini juga yang terjadi pada Ayub, sampai Tuhan menegur Ayub untuk tetap merendahkan diri dihadapan-Nya. Segera Ayub sadar telah melakukan kesalahan. Sepantasnya dia tidak meninggikan diri di hadapan Sang Khalik, dan selalu percaya akan pemeliharaan-Nya.
Orang yang beruntung boleh bersyukur atas berkat Tuhan yang mengalir di hidupnya. Orang yang tidak beruntung boleh bersyukur karena masih ada pengharapan di dalam Tuhan, yang tidak pernah meninggalkannya, dan jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan, bolehlah kita percaya Tuhan sedang menyiapkan jalan yang lebih baik dari apa yang kita minta.
Seeing then believing is logic, believing without seeing is faith.
Melihat kemudian percaya adalah logika, percaya tanpa melihat adalah iman.
Komentar