Kapan Kita Harus Beryukur ?

23 05 2009

Sekitar tiga tahun yang lalu, sahabat saya tiba di negeri ujung laut. Dalam blog nya dia menceritakan betapa berkat Tuhan sangat melimpah, bahkan dia menggunakan istilah “berkat Tuhan mengejarnya tanpa henti”. Tak henti – hentinya pertolongan Tuhan datang melalui rekan – rekan yang lebih dulu ada disana, silih berganti berdatangan. Baru saja ia menapakkan kaki di gerbang negeri, berkat Tuhan sudah menghajarnya bertubi – tubi. Dari yang dibantu mencari tempat tinggal, mengisinya dengan perabotan, dan segala macam peralatan untuk menunjang aktifitasnya.

Juga belum lama sebelum saya menulis tulisan ini, saya mendengar kotbah kebaktian minggu dari seorang pendeta yang saya kenal, tentang pentingnya meneliti hati kita, dan meneliti firman Tuhan pada kehidupan kita.

Apa hubungan kedua peristiwa diatas?

Saya teringat sahabat saya yang sudah menikmati negeri ujung laut itu, betapa dia mengucap syukur setelah menerima berkat Tuhan yang melimpah, yang saya rasa terucap dengan sangat menggebu – gebu. Sampai – sampai saya berpikir akankah ucapan syukur itu juga tetap dipanjatkan ketika kesulitan datang, saat jalan yang terentang di depan terasa asing dan gelap.

Teringat kotbah kebaktian minggu yang saya dengar, saya mulai meneliti hati saya sendiri. Saya yang mungkin ‘tak seberuntung’ sahabat saya ini, bisakah mengucap syukur? Saya sedang menjalani masa – masa penuh tantangan, belum jelas arah masa depan saya. Cita – cita ada, tapi akankah tercapai ? Masih penuh tanda tanya dan kekhawatiran. Sangat berbeda dibanding sahabat saya yang sedang menikmati kelimpahan berkat. Sepertinya tidak ada alasan yang tepat (bagi saya) untuk mengucap syukur.

Kemudian ketika saya mencoba berpikir positif, mencari sesuatu yang bisa saya syukuri pada kehidupan saya, rasanya tetap hambar, malah terasa seperti orang kalah yang sedang menghibur diri sendiri.

Lalu kapan kita harus bersyukur? Pada saat kita gembira kah? Atau saat kita mendapatkan sesuatu seperti yang kita harapkan?  Dan apakah kita tidak boleh merasa kecewa  dan kesal atas ketidakberuntungan kita? Apakah kita harus memaksakan mulut kita untuk berucap syukur saat kita terpuruk dalam suatu masalah?

Untuk masalah berucap syukur, saya teringat seorang tokoh dalam Alkitab, yaitu nabi Ayub, seseorang yang dikenal taat dan takut akan Tuhan. Dengan kekayaan yang sangat berlimpah, dia hidup sebagai hamba Tuhan yang selalu menempatkan hidupnya dalam pemeliharaan Tuhan. Tetapi, toh Tuhan juga mengijinkan iblis untuk menurunkan cobaan kepada Ayub untuk menguji kesetiaannya kepada Tuhan. Iblis membuat Ayub kehilangan kekayaan dan keluarganya, Ayub dibuat hidup sebatang kara dengan penyakit menjijikkan di tubuhnya (saya jadi berpikir, kalau Ayub saja yang begitu setia dan taat kepada Tuhan mendapat cobaan yang begitu dashyat. Apakah saya yang penuh dosa ini, tidak berhak mendapat cobaan beberapa kali lipat dari yang dialami Ayub?).

Ada yang luput dari cerita Ayub ini. Ketika saya mencoba membaca ulang kisah Ayub, saya tersadar bahwa Ayub juga manusia. Ayub juga berkeluh kesah terhadap cobaan yang dialaminya. Ayub protes kepada Tuhan. Mengapa Tuhan meninggalkan dirinya? Kesalahan apa yang telah diperbuat sehingga menimpakan musibah yang begitu dashyat?

Ini adalah pemikiran manusia pada umumnya. Ketika ada datang cobaan menimpa, selalu muncul pertanyaan: Dosa apa yang telah saya perbuat sehingga saya layak mendapat musibah sebesar ini? Sebuah pembelaan diri, yang secara tidak langsung ingin berkata: saya ini tidak salah apa – apa, kalaupun salah, tidaklah besar, mengapa Tuhan mengirim cobaan seberat ini? Tanpa sadar manusia telah meninggikan diri di hadapan Tuhan. Tiada yang suci di mata Tuhan, semua manusia berdosa, mengapa kita masih bisa protes bahwa kita tidak layak dihukum?  Hal ini juga yang terjadi pada Ayub, sampai Tuhan menegur Ayub untuk tetap merendahkan diri dihadapan-Nya. Segera Ayub sadar telah melakukan kesalahan. Sepantasnya dia tidak meninggikan diri di hadapan Sang Khalik, dan selalu percaya akan pemeliharaan-Nya.

Orang yang beruntung boleh bersyukur atas berkat Tuhan yang mengalir di hidupnya. Orang yang tidak beruntung boleh bersyukur karena masih ada pengharapan di dalam Tuhan, yang tidak pernah meninggalkannya, dan jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan, bolehlah kita percaya Tuhan sedang menyiapkan jalan yang lebih baik dari apa yang kita minta.

Seeing then believing is logic, believing without seeing is faith.

Melihat kemudian percaya adalah logika, percaya tanpa melihat adalah iman.

FACEBOOK Share





Hal Pernikahan

27 03 2009

Wedding time…!

Semakin dekat aja rasanya. Semakin mengerucut pada satu kesimpulan. Gak yakin !

Edan kowe… le…! Wes tinggal pirang sasi loh ! Demikian teriak ibuku, yang jantungnya kubuat kembang kempis dalam irama ‘super chaos’ akibat statement – statementku yang tidak menunjukan perkembangan kedewasaan.

Ya… a lot of worries, mom. Banyak berpikir ‘how if ‘. I want to take it slow, as slow as possible….

Ibuku berfirman :

Menikah itu seperti rel kereta api. Ada dua batangan besi di kiri dan kanan. Yang satu kamu dan yang satu lagi pasanganmu. Walaupun terdiri dari dua batang besi yang berbeda tetapi mereka mengarah ke satu tujuan yang sama. Dan dua batang besi itu tidak bisa dipaksakan jadi satu.

Hmm…sedikit menenangkan, tapi yah tetep aja…ada keraguan. Bagaimana bila ternyata tujuannya gak sama ? Gak ada jaminan memang, semua akan lancar – lancar saja. Tapi Tuhan menjamin aku akan baik – baik saja, begitu imanku percaya, seperti bunga bakung dan burung – burung yang telah dipelihara-Nya.

FACEBOOK Share





Kedewasaan dan Ketidakpedulian

28 11 2008

Di malam yang sama saat aku menulis tulisan ini, aku merasa kedewasaanku sedang diombang-ambingkan.

Seperti seorang pelari marathon, aku sedang fokus untuk mencapai garis finish, dan menjaga staminaku tetap ada sampai tiba di garis akhir itu. Aku sungguh tidak mau peduli dengan hal – hal kecil yang mencoba mengganggu konsentrasiku. Aku biarkan keringat bercucuran, bahkan membasahi mataku. Tidak aku abaikan rasa haus yang menyerang kerongkonganku. Panas teriknya mentari aku anggap sebagai pemacu semangat. Aku tetap menjaga langkah – langkah panjangku yang akan mengantarku semakin dekat pada kemenangan.

Hingga suatu kejadian ‘kecil’ datang. Aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman di kaki ku. Rupanya sebutir kerikil telah masuk ke dalam sepatuku. Konsentrasiku buyar. Pikiranku mulai bercabang, bagaimana caranya mengeluarkan kerikil ini tanpa harus mengurangi kecepatan lariku? Bagiku tiap detik adalah kemenangan, dan aku tidak mau kehilangan satu pun. Haruskah aku membawa serta rasa tidak nyaman ini sampai ujung lintasan? Rasa tidak nyaman ini mulai berubah menjadi rasa sakit. Langah ku menjadi semakin pendek. Hal ini jelas menghambatku, menjauhkan ku dari piala pertama. Hanya berorientasi pada hasil, aku lanjut berlari. Rasa sakit itu tidak ada pikirku, kalaupun ada aku tidak peduli.

Tibalah aku di garis finish, dengan kaki berdarah tanpa kemenangan apapun. Duduk terpaku menikmati rasa sakit karena kerikil itu, aku mengamati orang – orang yang finish dibelakangku. Terdapat seorang remaja pada rombongan paling akhir yang tiba di garis finish. Sambil tersenyum bangga kepada teman – temannya yang menunggu di garis finish, bahwa dia bisa sampai finish sekalipun tidak menang. Setelah beberapa saat dia menhampiriku dan menanyakan lukaku.

“Ada apa dengan kakimu kak?” tanya orang itu.

“Kerikil masuk ke dalam sepatuku. Dan aku memaksakan diri untuk berlari, saat itu aku hanya berpikir untuk menang, jadi tidak kepedulikan dan beginilah akibatnya.” jawabku.

“Dan kau menang ?” tanya nya lagi.

“Tidak. Tidak akan dengan kaki seperti ini.”

“Yah, setidaknya kita kita bisa menikmati lomba ini. Itulah piala yang bisa kita bawa pulang, selain yang diperebutkan di podium itu.” katanya kepadaku sambil tersenyum.

***

Semakin dewasa aku semakin tidak peduli pada hal – hal yang aku anggap tidak penting. Orientasi ku hanya pada hasil yang akan aku raih saja. Aku sibuk pada hal – hal besar ku, dan mengesampingkan yang kecil – kecil. Dewasa identik dengan ketidakpedulian dan gampang meremehkan. Tapi apakah itu yang disebut kedewasaan? Aku rasa tidak. Kedewasaan bukan ketidakpedulian. Sebaliknya aku rasa justru aku harus lebih peduli pada hal – hal yang selama ini aku anggap remeh. Ketika selama ini aku mengejar hasil akhir, justru aku lupa menjawab satu pertanyaan yang tadinya aku anggap kecil : “Bahagiakah aku menjalaninya ?”

FACEBOOK Share








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.