Kebebasan Yang Tidak Berarti (rev. 1.1)

28 11 2008

Aku merasa terperangkap dalam sebuah penjara. Terisolasi dari dunia luar. Merasa tersiksa di dalam kurungan, tidak nyaman pengap dan gelap, bersama teman – teman pesakitan satu sel. Banyak ruangan disini, tetapi tidak bisa berkomunikasi dengan orang – orang di sel lainnya. Sekatnya masif dan tidak bercelah, benar – benar menghambat ruang gerakku. Aku gak bisa mengenal orang dari sel lain, Aku hanya tahu orang – orang satu sel saja.

Teman – teman satu sel ku justru semakin membuatku gak betah, karena gak satu ide. Aku mendambakan dunia luar, mereka tidak. Aku ingin menghirup udara bebas, mereka tidak. Aku ingin sekat – sekat ini roboh, dan mereka tidak. Pernah aku bercerita kepada mereka tentang hangatnya mentari dan indahnya pelangi, tetapi mereka tidak berminat.

“Kamu tidak akan menemukan apa – apa diluar sana !” jawab salah satu teman sel ku.

“Kebebasan, teman. Itu penting. Kita tidak harus terkurung dalam kotak – kotak bertembok ini. Kita bebas menentukan keinginan kita sendiri.”

“Kita gak akan benar – benar bebas, meskipun diluar sana. Kau hanya akan kecewa nantinya.”

Dangkal sekali pikirannya. Sepertinya aku memang tidak layak bersama orang – orang ini. Mereka cuma akan meracuni cita – cita mulia ku. Aku tak akan mendengarkan omongan mereka lagi.

Mulailah aku menyusun rencana keluar, mencari celah untuk pergi dari tempat jahanam ini. Dan ternyata…tidak sulit. Mudah sekali bagiku untuk menemukan lubang keluar. Entah apa yang selama ini menutupi mataku, menjauhkan ku dari lubang keluar ini. Kalo aku bisa menemukan jalan keluar ini dengan mudah, pasti yang lain juga bisa. Lalu kenapa mereka gak mau keluar ya..? Aneh, apakah mereka gak ingin bebas ? Memang orang disini aneh – aneh, sudah gak ada yang waras.

Sudahlah, gak kupedulikan lagi mereka, aku telah menemukan jalan kebebasanku sendiri. Inilah yang aku inginkan selama ini.

Hingga akhirnya aku telah berada diluar. Aku tersenyum untuk 30 menit pertama, merayakan kebebasanku. Aku bisa menikmati hangatnya mentari dan indahnya pelangi. Berharap bertemu banyak orang, menjalani kemerdekaan ini bersama – sama.

Namun…

Tidak ada siapa – siapa disini. Tidak ada seorangpun yang menyambutku atau menyapaku. Teriknya mentari menjadi dingin di kulitku. Indahnya pelangi menjadi tidak bermakna di mataku yang mendadak buta warna ini.

Seminggu aku menunggu…. dan masih aku sendiri.

Aku teringat kata – kata teman satu sel ku. Dia benar, aku tidak menemukan apa – apa disini. Tempat ini sebenarnya adalah surga bagiku, tetapi jika aku sendiri saja seperti ini, rasanya bahkan lebih buruk dari neraka. Apa artinya kebebasan jika tidak ada seorangpun yang bisa diajak berbagi. Ternyata kita semua memang lebih suka hidup terkotak – kotak, dengan dalih membuat hidup jadi lebih mudah.

Aku mencari lubang itu dan kembali masuk ke tempat dengan ruang – ruang bersekat itu. Berkumpul kembali bersama teman satu sel ku yg dulu.

Tempat ini menjadi semakin hangat semenjak terakhir aku tinggalkan.

*************

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kejadian :

Aku terlahir sebagai lelaki jawa. Dibesarkan di lingkungan yang cukup demokratis dan terbuka. Tidak pernah diajarkan untuk membeda – bedakan orang atas ras/etnis, agama, status sosial, dan lain – lain. Mungkin ini juga yang membuatku jadi menyukai gadis cina, gadis diluar etnisku sendiri. Di dorong semangat ‘universal humanism’ (istilah karangan sendiri), bercita – cita untuk menembus batas – batas yang dibuat oleh masyarakat. Pada akhirnya aku harus kecewa, karena tidak menemukan gadis cina yang mau mencintaiku… ha..ha..ha..ha.

FACEBOOK Share





Pindahan yuuk…

28 11 2008

Nama “mulutmanisyangberbisa” dipilih karena hanya itu yang terlintas dalam pikiran, ketika ingin mendiskripsikan diriku sendiri. Gak banyak ngomong, kalo ngomong selalu yang manis – manis, tapi sekali mengkritik, banyak yang sakit hati. Hehehehe…

Awal nulis di blog cuma untuk melepas beban pikiran aja, lama – lama ketagihan nulis. Tapi memang ga semua tulisan di publish.

Setelah setahun lebih nge blog pake FS, walaupun gak sering update juga, akhirnya terbujuk juga ke wordpress. Rayuan dari Enade “dosen gila” Istyastono , cukup meyakinkan untuk didengarkan, dan lahirlah blog ini. Apalagi ketika dosen gila sudah mulai ngomongin cahAndong , jadi semakin tertarik untuk rajin ngeblog. Gak nyangka sebuah komunitas maya bisa menjadi begitu nyata…

Dibawah ini, tulisan – tulisan pindahan dari blog lama, semoga bisa dinikmati dahulu, sampai ada post tulisan baru.

Thanks.





Kedewasaan dan Ketidakpedulian

28 11 2008

Di malam yang sama saat aku menulis tulisan ini, aku merasa kedewasaanku sedang diombang-ambingkan.

Seperti seorang pelari marathon, aku sedang fokus untuk mencapai garis finish, dan menjaga staminaku tetap ada sampai tiba di garis akhir itu. Aku sungguh tidak mau peduli dengan hal – hal kecil yang mencoba mengganggu konsentrasiku. Aku biarkan keringat bercucuran, bahkan membasahi mataku. Tidak aku abaikan rasa haus yang menyerang kerongkonganku. Panas teriknya mentari aku anggap sebagai pemacu semangat. Aku tetap menjaga langkah – langkah panjangku yang akan mengantarku semakin dekat pada kemenangan.

Hingga suatu kejadian ‘kecil’ datang. Aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman di kaki ku. Rupanya sebutir kerikil telah masuk ke dalam sepatuku. Konsentrasiku buyar. Pikiranku mulai bercabang, bagaimana caranya mengeluarkan kerikil ini tanpa harus mengurangi kecepatan lariku? Bagiku tiap detik adalah kemenangan, dan aku tidak mau kehilangan satu pun. Haruskah aku membawa serta rasa tidak nyaman ini sampai ujung lintasan? Rasa tidak nyaman ini mulai berubah menjadi rasa sakit. Langah ku menjadi semakin pendek. Hal ini jelas menghambatku, menjauhkan ku dari piala pertama. Hanya berorientasi pada hasil, aku lanjut berlari. Rasa sakit itu tidak ada pikirku, kalaupun ada aku tidak peduli.

Tibalah aku di garis finish, dengan kaki berdarah tanpa kemenangan apapun. Duduk terpaku menikmati rasa sakit karena kerikil itu, aku mengamati orang – orang yang finish dibelakangku. Terdapat seorang remaja pada rombongan paling akhir yang tiba di garis finish. Sambil tersenyum bangga kepada teman – temannya yang menunggu di garis finish, bahwa dia bisa sampai finish sekalipun tidak menang. Setelah beberapa saat dia menhampiriku dan menanyakan lukaku.

“Ada apa dengan kakimu kak?” tanya orang itu.

“Kerikil masuk ke dalam sepatuku. Dan aku memaksakan diri untuk berlari, saat itu aku hanya berpikir untuk menang, jadi tidak kepedulikan dan beginilah akibatnya.” jawabku.

“Dan kau menang ?” tanya nya lagi.

“Tidak. Tidak akan dengan kaki seperti ini.”

“Yah, setidaknya kita kita bisa menikmati lomba ini. Itulah piala yang bisa kita bawa pulang, selain yang diperebutkan di podium itu.” katanya kepadaku sambil tersenyum.

***

Semakin dewasa aku semakin tidak peduli pada hal – hal yang aku anggap tidak penting. Orientasi ku hanya pada hasil yang akan aku raih saja. Aku sibuk pada hal – hal besar ku, dan mengesampingkan yang kecil – kecil. Dewasa identik dengan ketidakpedulian dan gampang meremehkan. Tapi apakah itu yang disebut kedewasaan? Aku rasa tidak. Kedewasaan bukan ketidakpedulian. Sebaliknya aku rasa justru aku harus lebih peduli pada hal – hal yang selama ini aku anggap remeh. Ketika selama ini aku mengejar hasil akhir, justru aku lupa menjawab satu pertanyaan yang tadinya aku anggap kecil : “Bahagiakah aku menjalaninya ?”

FACEBOOK Share





Agama adalah Pakaian Dalam

28 11 2008

Layaknya pakaian dalam, agama bagusnya dipakai di dalam (di hati). Kalo dipakai diluar nanti jadi superhero (pemuka agama). Sama seperti superhero yang gak bisa kalah, kalo pemuka agama ga bisa merasa salah.

Pakaian dalam membungkus bagian vital supaya hari – hari kita nyaman. Agama juga melindungi bagian vital supaya hidup kita tenteram. Jadi kalo pakaian dalamnya gak nyaman, mungkin ukurannya kurang pas (pemahaman agamanya kurang pas), atau gak cocok dgn pakaian dalam itu. Ganti aja kali…

Sebagaimana agama memerlukan iman, pakaian dalam juga. Kita cukup percaya bahwa pakaian dalam membuat kita nyaman, membentuk badan kita lebih bagus, atau lebih seksi. Sepertinya lucu juga kalo kita menuntut pembuktian logis,
lalu mengambil sample, membagikan foto kita berpakaian dalam, untuk dihitung secara statistik pendapat mereka, sebagai pembenaran iman kita secara ilmiah.

Semakin menerawang pakaian dalam, kita semakin kelihatan telanjang. Artinya semakin kita melihat diri sendiri melalui agama, kita semakin kelihatan berdosa.
Tapi kita kan gak pernah suka menerawang ke pakaian dalam kita sendiri, ya to? Lebih asyik menerawang pakaian dalam orang lain, he he he…

FACEBOOK Share





Attention, Dreamer !

28 11 2008

We are dreamers, we all want to live our dream.
But wait…is it really our dream? or we are chasing someone else’s?

Another question, are we chasing our dream or our dream chasing after us? Who should take control?

Lately, someone accused me over a crime. Someone put a charge on me for breaking her dream. Well, I realized that she went through a very emotional moment. So, I played along. She sent me on a trial of morality. She found myself guilty as I was being so selfish and arrogant. She punished me over an anarchy act ruining her dream she has built upon me.

But wait, is it allowed to build our dream upon someone else’s life? Isn’t that also a crime?

Well maybe, I need to say this on my closing speech:

Your dream should be your dream, and only for you. It doesn’t belong to someone else. Never does. Your dream is on your own hands. It’s in your life, not others.
Never put your dream upon someone else’s life without any commitment, or you’re like putting an egg at a narrow edge. Someday it will fall down and scattered.
Even a committed person could break his/her own commitment. So always keep the dream with you.

You are the one who shaping the dream, others are only coloring.

FACEBOOK Share





One broken dream

28 11 2008

I broke your dream, but not your spirit, you said.
That’s good. As I know, it’s not the end of your journey.
So there is no reason to stop, just like uncle Johny said ‘Keep Walking’.
The dream you had built, is not mine. That’s why i stayed outside.

Never put any guilty feeling upon yourself.
There’s nothing wrong about us, but also seems there’s nothing right happens.
Bad timing that’s all I can say. You are at the early stage of relationship, while I have enough up and down. You, with all your do’s and dont’s, are not something to blame on. You have right for that. But it just make me under such a pressure. I sense your domination just around the corner. You remind me of the time when i was young. Conquer and control, that’s my vision. No compassion, less understanding, countless fights, wasted tears, and never ending debates. But that is just the way we grow, right? And I’m seeking deeper than that, because i have had my time for those.

You still have a lot of boxes to be opened. And I count mine…they are becoming less and less. One broken dream all right, but you still have millions more.

FACEBOOK Share





Perspektif Kondom

28 11 2008

Sebuah lagu lama terdendang kembali. Seorang kawan lama membawa kabar dari sang fenomena )SF) kembali berkutat dengan permasalahan yang sama, dilabrak istri orang. Sebenernya udah kesekian kali….jadi wes biasa toh ?….Gandrik!! Sebuah persahabatan dengan pria beristri (PB) menghantarnya kembali pada simpul cerita yang berulang, dicemburui si istri (SI). Entah dimana letak salahnya, antara gaya bersahabat SF dengan PB atau SI memang cemburuan. Yang jelas ada yang tidak pas bagaimana mereka meletakkan persahabatan itu di tengah – tengah sebuah perkawinan…bersahabat dengan pria beristri sepertinya harus bersahabat dengan istrinya juga, kalo selintutan, yo siapa yang ndak curiga ya toh?…..

Aku sendiri gak tahu persis permasalahan yang terjadi…dan gak butuh tahu juga…lebih suka tempe ya say…, tapi menarik untuk dicatat adalah bagaimana SF bereaksi terhadap permasalahan ini, saat dia berkomentar bahwa persahabatannya yang sangat benar harus berakhir untuk alasan yang sangat salah. Ha ha ha…ternyata SF memang tidak berubah, masih self centered seperti dulu…..benar?…salah?…hak siapa untuk menilai? kamu?

Mengingatkanku akan sebuah kampanye kondom dengan tag line nya: “why is it always about you?” Berkonsep tentang seorang cowok yang tidak mau pake kondom demi kepuasannya sendiri, dan seseorang bertanya kepadanya kenapa kamu hanya memikirkan dirimu. Namun konsep ini tidak digambarkan vulgar, dipake ide cerita seorang cowok yang tidak mau dibujuk pake safety belt saat naek roller coaster. Well…the point is… kondom itu tidak hanya untuk melindungi Mr. P, tapi untuk melindungi Mrs. V juga. Tapi seberapa banyak pria yang mau melihat dari perspektif ini ?

Melihat sebuah permasalahan lepas dari sudut pandang diri sendiri memang tidak gampang. Mengerti perasaan orang lain juga tidak mudah. Seperti betapa susahnya aku mengerti mengapa SF harus merasa hancur ketika mengakhiri persahabatannya dengan PB demi keutuhan sebuah pernikahan. Tidak kah SF harusnya bisa mengerti kekhawatiran SI terhadap PB, yang suaminya sendiri ? Anggaplah itu sebagai sebuah pujian atas pesona dirinya…..SF bisa punya banyak sahabat…tapi SI cuma punya satu suami…iya kan ? Bisa jadi SF harus mengevaluasi cara dia bersahabat, karena kasus seperti ini tidak hanya sekali terjadi padanya. I know all the theories !!! teriak SF kepadaku. Dia pikir aku sedang berteori….padahal aku cuma sedang bertelor…

Wah…wah…wah…kalo sudah self centered jadi susah diajak berpikir pake perspektif lain. Aku berkesimpulan bahwa SF tidak bisa mengunyah pembelajaran dari perspektif kondom. Tidak semua hal adalah melulu tentang diri sendiri. Kalo susah mengunyah perspektif kondom, mungkin lebih baik mengunyah kondom nya saja…tersedia dalam berbagai rasa loh…iiiigghhh.

Buat SF…selamat mengunyah!!!

FACEBOOK Share





Bahasa Itu…

27 11 2008

Bahasa Itu…

Dia masih pakai bahasa itu…
Bahasa tanpa kosakata ‘meminta’ dan ‘tolong’. Di benaknya semua tersedia tanpa dia harus meminta. Di otaknya semua ada tanpa mengucap kata ‘tolong’. Cukup sedikit isyarat tentang apa yang diinginkannya, lalu orang – orang akan datang memberi, sukarela.

Superioritasnya atas orang lain sangat terasa tidak hanya pada tingkah laku, tapi juga tutur kata.  Suatu saat, sewaktu dia butuh tumpangan ke sebuah stasiun kereta, dia hanya berkata kepada kami, aku dan temanku, bahwa dia harus naik kereta jam 5 sore. Tentu saja kami berdua hanya tersenyum, karena kami tidak merasa berkewajiban memberinya tumpangan pun dia tidak meminta. Akibat tawaran tumpangan yang tak kunjung datang dia meninggalkan kami berdua, yang belakangan baru kami tahu kalau dia marah. Akhirnya kami membuang undi untuk menunjuk sukarelawan.

Belum lama, dia bilang padaku begini: “Aku lagi sakit nih…opname, jadi sekarang kamu punya alasan untuk nengok aku.”, alih – alih dia berkata: “Aku lagi sakit nih…opname, tolong tengokin aku donk.” Jadi dia memang tidak butuh ditengok, justru aku yang butuh nengok dia (pikirnya). Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya, dan berpura – pura sibuk, tak punya waktu. Setidaknya sakitnya ringan, jadi memang tidak mendesak untuk ditengok.

Berbahasa ternyata tidak sekedar berucap. Berbahasa seperti berbusana, bisa menunjukan kepribadian pemakainya. Dan selayaknya seorang ratu mengenakan adi busana, dia memakai adi bahasa.

FACEBOOK Share





Surat Untuk Adikku

27 11 2008

Halo nyet,

Pie kabarmu disana? Baik – baik aja kan ? Sudah 10 hari sejak kamu pergi, kuharap keadaannya berangsur membaik. Aku panasaran, kamu disana ngapain aja yah? Disana ada apa aja? Ketemu siapa aja? Sorry, terlalu banyak pertanyaan. Tapi pasti kamu disana jadi tahu banyak hal.

Kabar dari kami baik – baik saja. Aku, papa dan mama masih sehat dan kembali pada kesibukan masing – masing. Kami juga nyempatin diri untuk ngurus beberapa hal yang kamu tinggalin, semoga ga ada masalah. Keluarga dan temen dekat juga masih ada yang dateng berkunjung atau sekedar nelpon nanya kabar. Tapi aku agak khawatir nih sama mama mu, kondisinya masih labil, baik fisik maupun emosi. Yah kita doain aja, supaya apa yang dirasakannya cepet berlalu, tidak berlarut – larut.

Aku juga sudah balik kerja, seperti dulu. Tapi emang ga bisa sama seperti dulu. Sekarang kemana – mana sendiri, gak bisa ngajak kamu lagi. Jadi gak ada partner buat patungan beli macem – macem. Gak ada yang cerewetin aku lagi soal baju, sepatu, kencan dan ngabisin duit ….ha ha ha. Sudahlah…romantisme masa lalu, aku sudah mulai terbiasa. Sekarang papa dan mama nanyain terus kapan aku mo nikah, …ha ha ha …walah …jadi pusing mo jawab apa. Lah wong aku masih gak jelas gini, coba ? Mungkin mereka lagi cari figur pengganti kali ya ? Semua perhatian jadi tertuju padaku, bikin sedikit tertekan, tapi akan kucoba menikmati. Yang jelas dukung perjuanganku dalam mengarungi hidup dan menjalani obsesiku yah… Beri petunjuk buat kakakmu yang sering sesat jalannya ini …wakakaka …lewat mimpi juga boleh.

Udah dulu ya …lain waktu disambung lagi. Salam buat Tuhan, bilang makasih ama Dia udah mau jagain kamu disana. Oh ya …sekalian tanyain ama Dia, kapan giliranku ? Aku udah nunggu – nunggu neh !

We always love you.

Bye.

FACEBOOK Share





Batere HP lebih penting, mas !

27 11 2008

Ada dua kasus menimpaku…kayak
kejatuhan pohon aja, sok tragis
….yg sama – sama melibatkan batere HP. Dua
kasus yang nuansanya beda tapi intinya sama, menegaskan bahwa batere HP lebih penting
dari apapun…

Kasus 1

Baru kali ini aku
kerja nonstop 2 x 24 jam…harus lapor pak RT loh om….karena load kerja emang
lagi banyak nih. Menyedihkan karena tidak berpengaruh pada pendapatan, hiks. Tapi
yo wis lah, aku berusaha jadi orang yang berdedikasi pada tanggung jawab yang
aku pegang. Saking fokusnya aku sampai melupakan hal – hal yang ku anggap remeh
seperti : mandi, gosok gigi, tidur, ganti baju, pamit sama orang di rumah kalo
aku gak pulang 2 hari…gak ada yang nyari lagi… dan mengisi batere HP. Hal
yang terakhir ini bikin aku putus kontak dengan siapapun, karena batere HP gak
tahan lebih dari 3 hari. Terakhir ngisi batere memang 5 hari yang lalu. Susah
juga cari pinjeman batere atau charger yang sejenis. Mang nih HP rada – rada antik,
leluhurnya para HP.

Dodol !!!…bukan
masalah kerjaan yang dikomplain sama supervisorku, malah lantaran aku kehabisan batere HP jadi gak bisa
dihubungi, soalnya menurut dia keep in touch itu lebih penting….emang si boss ni
suka touching – touching yah tangannya?
… Gagal berkomunikasi berarti gak bisa
kasih progress
report kerjaan dan gak bisa dimonitor ma atasan, jadi siapa yang
tau kamu kerja apa tidur, begitu katanya. HP harus selalu nyala, titik. Boss dimana-mana mang ga bisa dibantah….makanya bikin usaha sendiri bro, kalo mau gak bisa dibantah

Kesimpulan

Iya boss, next project aku bawa – bawa charger deh, puas…puas…?

Kasus 2

Janji nonton hari
minggu siang ma temen. Sudah dirancang sejak 2 minggu yang lalu. Sebenerne
janjiannya minggu kemaren, cuma karena dia gak bisa ya jatuhlah minggu ini
sebagai pengganti.

Temen
atau……ehmm…. yah temen aja deh. Seorang cewek dengan catatan historis
yang sangat panjang, menyedihkan dan memalukan, setidaknya buatku. Kami pernah
saling suka tanpa diketahui oleh masing – masing pihak…jadi apa bedanya sama
saling tidak suka?
…Aku malah sempet pacaran sama temen kuliahnya dan temen
kostnya. Ini yang bikin dia sakit hati. Padahal kami ga pernah jadian, jadi
kenapa harus sakit hati ya?…dasar wanita maunya ditebak dan ditembak …Oke,
cukup! Setelah peristiwa panjang yang menyedihkan dan memalukan itu, kami keep in touch lagi
dengan atmosfer baru…bukan touching – touching loh ini murni soal komunikasi
bung !

Sabtunya aku coba
hubungi dia tapi gagal total. Telpon ga diangkat, sms ga dibales. Minggu pagi
aku coba lagi, no result. Senin aku coba lagi, sama aja. Jelas aku berhak
penasaran dong. Gak ada kabar sama dengan mengkhawatirkan, apalagi dia cewek
perantauan. Rasa heroisme mendorongku untuk mencari tahu apa yang sebenernya
terjadi. Selasa sore aku telpon dia dari kantor….sori boss, aji mumpung

Halah !!!!…..ternyata diangkat…..anjriit, apaan seh? bikin kaget
aja
….Maka terjadilah percakapan yang demikian:

<saya>Halo..
(suara berseri-seri)

<beliau>Ya,
ada apa?…(suara berat dan bt)

<saya>Gak
sih cuma ngecek aja, soalnya kemaren batal tanpa ada berita.

<beliau>Oh …tapi apa harus miscol sebanyak itu ya?

<saya>Loh
memang kenapa? (sok innocent)

<beliau>Ya
percuma aja, HP ku tuh ketinggalan dikantor. Jadi kamu miscol segitu banyak gak
bakalan ketemu aku !(suara udah setengah teriak, masuk range desibel yang bikin
kuping gak nyaman)

<saya>Trus
kenapa? Kamu rugi apa kalo aku miscol segitu banyak? (masih bingung)

<beliau>Ya,
batere HP ku kan jadi habis….

PLAAKKK..!

Sumpah, baru kali
ini aku ditampar pake alasan yang susah dicerna. Mesin logika ku tersendat,
berpikir lebih keras, persis seperti kalo kita naik mobil trus tiba – tiba nyalain
AC. Yen tak pikir – pikir, kalo HP sudah ketinggalan di kantor, otomatis kan dia sudah putus kontak, jadi akankah bisa lebih buruk kalo baterenya juga
habis? Lalu kalo HP nya ketinggalan di kantor, pasti hari Senin HP dia sudah
ada ditangan, karena dia masuk kerja, tapi gak juga kasih kabar atau sekedar basa
– basi: sory kemaren aku sibuk, jadi acara kita batal.

Mungkin
perbuatan di masa lalu membuatku layak diperlakukan seperti ini. Setidaknya gak seburuk diusir pake anjing, seperti yang dialami temenku waktu PDKT sama
seorang cewek…..it’s a true story, swear…..Tapi boleh dong aku bilang
enough is enough. Aku jelas gak mau hubungan (apapun itu)…siapa juga yang masih mau sama aku? … yang masih dibayang-bayangi
kesalahan masa lalu. Gak enak guys…!

Kesimpulan

Aku langsung
buang nomer kontak nih cewek. Bukannya sakit hati ato apa…halah…tenane?….Cuma
jadi takut aja mau hubungi dia, takut bikin dia kehabisan batere. Batere HP dia lebih
penting dari aku, ha ha ha …he he he …hiks hiks hiks …hu hu hu ….sekali lagi anda benar boss
!

***

Betapa teknologi
sudah merubah banyak hal, termasuk rona kehidupan sosial. Teknologi
menghadirkan kemudahan dan keleluasaan dalam berinteraksi. Ia telah membebaskan kita dari belenggu
jarak dan waktu, tapi memperbudak kita disisi yang lain. Kita jadi terbelenggu
oleh ritual ngisi batere, ngisi pulsa, ganti model HP dan harus spent more money. Belum lagi hadirnya teknologi 3G, 3.5G, HSDPA… yang beginian tolong tanya om Roy Suryo aja yah…yang kira – kira akan membelenggu kita dari sisi privasi
ancaman buat orang yang suka selingkuh

Boleh sih kalo kita bilang it’s worthed, sepadan sama kemudahan yang kita dapatkan. Tapi apakah produk teknologi jadi lebih tinggi nilainya daripada nilai seorang manusia ?…..manusia selain saya maksudnya, karena saya sudah terbukti gak lebih penting dari sebuah batere HP…wakakaka.

Jadi batere HP
lebih penting, mas !

FACEBOOK Share