Pertemuan Yang Mengganggu (Ending adalah pilihan)

14 12 2008

Saat itu yang Siska duduk disebelahku. Dia sibuk dengan semangkuk caesar salad dan segelas tomato juice. Sementara didepanku hanya ada segelas lime squash dan sebungkus rokok Dunhill. Perutku terasa kenyang malam ini. Sebenarnya kami hanya ingin nonton film, tapi masih ada 45 menit lagi sebelum film diputar. Sembari menunggu  kami memutuskan untuk nongkrong di tempat ini.

Tangan Siska selalu memeluk lenganku. Entah kenapa, dia selalu menikmat waktu – waktu bersamaku. Sementara aku selalu merasa ada yang kurang dengannya. Tolong jangan tanya apa, karena aku sendiri tidak akan bisa menjawab pertanyaan itu. Aku juga tidak tahu. Yang aku tahu, dia datang kepadaku dengan penuh cinta, dan sebagai rasa hormatku kepadanya aku harus membalas rasa sayangnya. Tidak ada yang memaksaku memang, tapi kadang begitulah aku, selalu memposisikan diriku pada sudut tanpa celah menghindar, seperti tidak punya pilihan lain.

Padahal malam sebelumnya, aku membaca sebuah blog. Catatan Josephine tentang kehidupan dan tentang pilihan hidup. Aku review kembali tulisan itu dalam otakku. Hidup adalah tentang pilihan, meskipun kita tidak ingat, di awal kehidupan pernahkah kita diberi pilihan oleh Tuhan untuk mau dilahirkan ke dunia atau tidak. Kalaupun pernah dan dulu aku menjawab ‘mau’, sekarang aku menyesalinya.

Akankah Siska menyesal atas pilihannya untuk hidup denganku? Setidaknya untuk saat ini, wajahnya tidak menampakan itu, wajah yang membuat banyak orang menatap kepadanya. Aku sadar banyak memperhatikannya, namun mata Siska tidak pernah membalas, hanya kepadaku pandangannya tertuju.

Sebuah tatapan dari meja seberang, mengganggu malam ku.  Kuperhatikan wajah manis itu, sangat lembut. Dia memperhatikanku dari mata sipitnya. Tatapannya lebih tajam dari mata yang terbuka lebar sekalipun. Rona muka melankolis, ciri khas etnis terbesar dan tersebar di dunia. Sedikit demi sedikit wajah itu mulai mengisi hatiku.    

“ Sayang, minta bill dong. Filmnya udah mau mulai nih..”

Suara lembut Siska membuyarkan pikiranku. Segera aku minta bill, dan membayarnya. Langkah cepat menuju lift dengan pikiran melayang. Berjuta pertanyaan tentang arti tatapan itu dan mengapa begitu menggangguku, seperti riak air saat seseorang melemparkan batu ke dalam kolam yang tenang.

“ Tunggu!”

“Ada apa ?” tanya Siska.

“Korek ku ketinggalan di meja, aku ambil dulu, tunggu aku di lobby lift ya…”

**********

Ending  1

Aku kembali ke mejaku tadi. Saat aku melintas, sepasang mata itu masih terpaku kepadaku. Aku amati mejaku mencari korek yang tertinggal, tapi tidak aku temukan. Memang tidak akan aku temukan. Aku hanya pura – pura. Korek itu telah ada di saku sejak aku meninggalkan meja ini. Aku hanya ingin memastikan sepasang mata itu memang mengintai diriku, tatapan itu memang untukku.  

Aku tersenyum kepadanya. Dia membalas senyumku ditambah dengan kerlingan mata menggoda.

Namun aku akan menunggu. Aku tidak akan mendekatinya malam ini.

“ Suatu saat kita akan bertemu lagi, bila itu memang takdir buat kita..”,  kataku dalam hati.

Pilihan yang berat, aku sendiri tidak yakin akan bertemu dengannya lagi. Langkah panjangku mengantarkan aku kembali kepada Siska yang menunggu di lobby lift.

Pertemuan ini sangat  mengganggu ku…

**********

Ending  2

Aku kembali ke mejaku tadi. Saat aku melintas, sepasang mata itu masih terpaku kepadaku. Aku amati mejaku mencari korek yang tertinggal, tapi tidak aku temukan. Memang tidak akan aku temukan. Aku hanya pura – pura. Korek itu telah ada di saku sejak aku meninggalkan meja ini. Aku hanya ingin memastikan sepasang mata itu memang mengintai diriku, tatapan itu memang untukku.  

Aku  tersenyum kepadanya. Dia membalas senyumku ditambah dengan kerlingan mata menggoda.  Sengaja aku tajuhkan kartu namaku diatas mejanya dan aku berlalu. Setelah beberapa saat aku menengok ke belakang, aku melihatnya sedang memegang kartu namaku dengan tulisan tangan ‘call me’ dibaliknya, yang aku tulis ketika aku berpura – pura mencari korek.

Pilihan yang beresiko, aku sendiri tidak yakin akan apa yang kulakukan ini. Langkah panjangku mengantarkan aku kembali kepada Siska yang menunggu di lobby lift.

Pertemuan ini sangat  mengganggu ku…

 

 

FACEBOOK Share





The Pick Up Line

7 12 2008

THE PROLOGUE
Sebuah percakapan yang terjadi pada tanggal 8 Oktober 2008.  Percakapan ini berdurasi kurang lebih 15 menit, yang melibatkan ‘mulutmanisyangberbisa’ (yang mabuk cinta) dan ‘gadis_cina’ (yang muntah – muntah akibat PDKT nya mulutmanisyangberbisa) – id disamarkan – dan berlangsung di Yahoo Messenger.

THE DIALOGUE
<mulutmanisyangberbisa> hi…
<gadis_cina> hi juga
<mulutmanisyangberbisa> apa kabar..?
<gadis_cina> baik, kamu..?
<mulutmanisyangberbisa> wah…aku sehat – sehat, minum susu tiap hari kok..
(maksudnya ?)

<gadis_cina> ouwwhh..bagus deh
(takjub)

<mulutmanisyangberbisa> lagi ngapain?
<gadis_cina> lagi kerja donk
<mulutmanisyangberbisa> oh…berarti aku yang ga ada kerjaan
(karyawan kayak gini nih yang pantes dipecat)

<mulutmanisyangberbisa> boleh nanya sesuatu tentang kamu gak ?
<gadis_cina> boleh, daripada nanya orang lain
<mulutmanisyangberbisa> nanya nomer kamu donk?
(malu – malu bencong)

<gadis_cina> nomer apa? nomer sepatu?
(aku tau kamu mo minta nomer hp, gak segampang itu kalee…)

<mulutmanisyangberbisa> loh kok kamu tau aku mo nanya nomer sepatu..?
(teknik berkelit a la dosengila)

<gadis_cina> buat apa?
(aneh nih orang..)

<gadis_cina> 37
<mulutmanisyangberbisa> ok, thanks. aku lagi ngadain penelitian kecil
<gadis_cina> penelitian apa ?
<mulutmanisyangberbisa> pokoknya ada hubungannya sama sepatu
<mulutmanisyangberbisa> sekarang aku nanya nomer HP kamu
<gadis_cina> gak ah…takut
<gadis_cina> ntar kamu kerjain lagi…
(ketahuan nih maunya..)

<mulutmanisyangberbisa> wah data itu sangat penting… aku lagi coba mengetahui karakter seseorang lewat nomer sepatu dan nomer HP.
<gadis_cina> ih…maksa deh
(nih orang pengen aku sambit pake mouse)

<gadis_cina> ya udah kalo kamu maksa
<gadis_cina> 0838XXXXXXXX
<gadis_cina> kalo gak salah….aku lupa.

<mulutmanisyangberbisa> wah, thanks. Loh kok kalo gak salah ???
<gadis_cina> gak hafal, aku suka lupa
<mulutmanisyangberbisa> oh…kamu mau tahu karakter kamu berdasarkan nomer sepatu dan HP kamu..?
<gadis_cina> hmmm…aku kayak apa?
<mulutmanisyangberbisa> menurut penelitianku, kamu tuh orangnya cantik, baik hati, ramah, dan suka usil…
(hmmmffff..garing banget…..mayday..mayday)

<gadis_cina> yeee salaah….
<gadis_cina> aku gak kayak gitu kok..

<mulutmanisyangberbisa> loh kok salah…???
(lah wong penelitian gombal kok minta bener…wekekeke duduls!!)

<mulutmanisyangberbisa> berarti kamu tuh orangnya jelek, kejam, ketus dan pendiam…?
<gadis_cina> hehehe…gak kayak gitu juga kali…

<mulutmanisyangberbisa> kok bisa salah ya…?
(ulur waktu..cari inspirasi buat ngeles)

<mulutmanisyangberbisa> sebentar…
<mulutmanisyangberbisa> kaki kiri sama kanan kamu gak sama besar ya?
<gadis_cina> kok tahu…??
(sial…kok bisa tahu ya?)

<mulutmanisyangberbisa> ya kalo hasil penelitianku salah, kesimpulannya cuma satu, ukuran sepatu responden, kiri sama kanannya gak sama…
(lucky guess…..pure luck)

<gadis_cina> iya nih, yg kanan 37 tapi yang kiri 38
<gadis_cina> tapi aku suka pake 37, walaupun yang kiri agak kesempitan.

<mulutmanisyangberbisa> pantesan…harusnya kamu ngomong dari awal jadi hasil penelitianku gak akan salah..

<gadis_cina> hahahaha…
(maksa banget sih)

<mulutmanisyangberbisa> tapi aku jadi punya hipotesa baru nih, mau tau gak?
<gadis_cina> apa?
<mulutmanisyangberbisa> kamu tadi kan bilang kalo kamu suka lupa nomer HP
<mulutmanisyangberbisa> ternyata ada hubungannya antara nomer HP, nomer sepatu dan kamu yang suka lupa.
<gadis_cina> masa sih ?
<gadis_cina> gak ada hubungannya kali..

<mulutmanisyangberbisa> ada !
<mulutmanisyangberbisa> Jadi karena kaki kiri – kanan kamu gak sama, maka yg kiri pake sepatu kesempitan. Karena sepatu yang sempit, maka peredaran darah di tubuh kamu gak lancar, otomatis peredaran darah ke otak juga ikut terganggu, maka kamu jadi susah inget nomor HP. Apalagi nomer HP ada 12 digit, jadi tambah susah diinget.
(asli…kayaknya udah mulai desperate dan kehilangan akal sehat gara – gara gak dapet – dapet pacar cewek cina)

<gadis_cina> huahahaha…kamu lucu deh.
<mulutmanisyangberbisa> masa sih
(mukanya biru, merah, item, kuning, ijo)

<mulutmanisyangberbisa> by the way…nanti malem ada acara gak?
<gadis_cina> enggak, emang kenapa?
<mulutmanisyangberbisa> aku pengen main ke tempat kamu..
<gadis_cina> mau ngapain?
<mulutmanisyangberbisa> mo mijitin kaki kamu, biar darahnya lancar, jadi kamu gak sering lupa lagi..

– gadis_cina just signed out –

THE EPILOGUE
Setelah kecewa ditinggal ‘sign out’ secara tiba – tiba, mulutmanisyangberbisa masih harus menerima kenyataan bahwa nomer HP yang diberikan sudah tidak aktif lagi (so much with the effort). Sekarang dia malah mempermalukan diri dengan mem ‘posting’ rekaman percakapan itu di blog nya untuk dibaca banyak orang.

Thanks to:
XHP aka Yuli and YM for making the conversation possible.
dosengila for teaching me how to flirt, but somehow it doesn’t work for chinese girl…hehehehe…
Diana Wardani for introducing the girl.

FACEBOOK Share





My Dirty Little Secret (Pilih sendiri ending mu !)

4 12 2008

Duduk di Sky Terace lantai 10 Plaza Semanggi, sangat menenangkan. Sementara di jalan Gatot Subroto masih terlihat arus lalu lintas merayap perlahan ke arah luar Jakarta. Tersedia fettucine dan lime squash, serta sebungkus rokok dunhill untuk malam ini. Hingar bingar ABG riuh rendah, membuat suasana makin indah.

jarophotography.com

Source: jarophotography.com

Aku nyalakan laptopku, mengunjungi blog ku sendiri. Bibirku mengulum senyum, saat membaca kembali komentar – komentar dari nana, sabri, dosen gila, miaw dan aris widayati. Thanks atas apresiasinya. Semoga malam ini aku bisa posting lagi.

“ I’ll keep you, my dirty little secret…..”

Ring tone HP ku berbunyi, menyanyikan salah satu lagu hits dari All American Reject. Aku suka lagu ini karena liriknya gak munafik, semua orang pasti punya rahasia kecil yang ingin disimpan rapat – rapat.

Aku angkat HP ku, di layarnya tertera ‘Diana – Wardani’.

“Halooo…”

“Mas, aku mau curhat…”

Wah, bakal jadi malam yang berat, nih pikirku. Tapi memang dia biasa diskusi denganku.

Temanya, seperti yang sudah – sudah, adalah soal cowok. Diana, sepupuku ini, merasa gak sreg sama cowok yang sedang dekat dengannya saat ini. Katanya cowok itu gak dewasa, gak bisa diajak diskusi dan emosional. Pokoknya gak seperti aku, imbuhnya lagi. Walah… berasa melayang, padahal sudah di lantai 10 nih. Susah juga kalo sudah mulai membanding-bandingkan, yang jelas tiap orang memang gak akan sama. Diana punya ekspektasi yang terlalu tinggi untuk calon pendampingnya, mungkin akan menjadi daftar yang sangat panjang bila dijabarkan.

Dengan sok wise (default mode) aku mencoba berbicara kepada telinga hatinya yang sedang terbuka.

“ Diana, ga bagus membanding-bandingkan orang. Aku tahu kamu punya kebutuhan psikologis yang kamu harap bisa kamu temukan di pasangan kamu. Tapi gak semua apa yang kamu inginkan harus kamu dapatkan di cowok kamu. Apakah adil menumpukan semua beban itu pada satu orang saja? Memang boleh sih kamu punya kriteria dasar yang harus ada di pasangan kamu, tapi cukup yang paling penting aja. Aku selalu ada untuk kamu ajak diskusi, kamu masih punya sahabat – sahabat untuk curhat. Jangan investasikan hatimu pada satu orang saja, karena suatu saat orang itu menghilang, kamu tidak akan punya siapa – siapa lagi.”

Tidak ada sahutan, sepertinya Diana sedang mencerna apa yang baru saja dia dengar.

“ Apa kamu juga seperti itu sama cewek kamu ?”

“ Ya. Dia juga tidak bisa memenuhi semua yang aku harapkan, tetapi itu gak penting. Aku menyayanginya. Aku gak memaksanya untuk bisa seperti yang aku mau. Aku masih punya orang – orang lain, seperti kamu misalnya untuk berdiskusi hal – hal yang tidak bisa aku diskusikan dengannya.”

“Makasih atas masukannya, mas, I’ll think about it.”

“Ok, anytime.”

*****************************

Ending versi 1

Malam semakin hangat, cahaya lilin kekuningan memantapkannya. Senyum cerah seorang wanita menyambutku, setelah percakapan usai. Aku peluk wanita yang duduk disebelahku itu, kepadanya lah aku juga menginvestasikan hatiku. Dia bisa memberikan apa yang aku inginkan, yang tidak bisa aku dapatkan dari pasanganku. Aku sangat menikmati malam ini bersamanya.

“ I’ll keep you, my dirty little secret…..”

Lagu itu berulang – ulang terdengar. Di layar HP ku tertera nama ‘Siska-Sayangku’. Aku ubah HP ku menjadi ‘silent mode’. Aku melongok ke bawah, mengamati jalan Gatot Subroto yang masih sangat padat. Aku tahu Siska sedang terjebak macet disuatu tempat dibawah sana. Aku sadar, aku harus menyiapkan sebuah alibi, karena malam ini aku adalah milik wanita yang sedang kudekap erat, my dirty little secret….

*****************************

Ending versi 2

Malam semakin hangat, cahaya lilin kekuningan memantapkannya. Senyum cerah seseorang menyambutku, setelah percakapan usai. Aku peluk orang yang duduk disebelahku itu, kepadanya lah aku juga menginvestasikan hatiku. Dia bisa memberikan apa yang aku inginkan, yang tidak bisa aku dapatkan dari pasanganku. Aku sangat menikmati malam ini bersamanya.

“ I’ll keep you, my dirty little secret…..”

Lagu itu berulang – ulang terdengar. Di layar HP ku tertera nama ‘Siska-Sayangku’. Aku ubah HP ku menjadi ‘silent mode’. Aku melongok ke bawah, mengamati jalan Gatot Subroto yang masih sangat padat. Aku tahu Siska sedang terjebak macet disuatu tempat dibawah sana. Aku sadar, aku harus menyiapkan sebuah alibi, karena malam ini aku adalah milik lelaki yang sedang kudekap erat, my dirty little secret….

*****************************

Note:

Dedicated to ‘Diana Wardani’

Cerita ini fiktif, kesamaan nama dan peristiwa hanyalah kebetulan belaka, dan bila sakit berlanjut hubungi dokter….lho???

FACEBOOK Share





Masalah Ignorant dan Bekas Pacar

1 12 2008

Dapat suntikan comment dari Aris Widayati, bikin semangat untuk posting lagi. Cuma otak lagi suntuk, mikirin kerjaan di kantor. Makanya, siang ini aku berkunjung ke tempat tinggal seorang wanita, untuk refreshing dan tebar pesona. Hidup di kota yang sama, dan terlibat kontak secara tidak sengaja.  Dia adalah bagian dari cerita masa lalu dosen gila. Bahasa gampangnya wanita ini bekas pacarnya dosen gila. Fotonya sengaja aku pajang disini, biar dosen gila tambah cemburu, he he he he…

Mantannya dosen gila

Mantannya dosen gila

Dengan suguhan satu bungkus potato stick plus segelas air putih (standard anak kost), perbincangan mulai mengalir. Sekedar canda haha – hihi, ngobrol fotografi, sampai membahas mafia wars, aplikasi game di facebook. Kali ini cukup spesial, karena aku diundang masuk ke kamarnya…..yuhuuu…. Liat kasur malah jadi ngantuk, lama – lama badan aku rebahkan di kasurnya yang harum.

Sambil rebahan aku amati wajahnya. Wah, jadi ingat lagi sama dosen gila. Wanita ini aku beri label, bekas pacarnya dosen gila. Label ini memang agak susah dihilangkan.

Kalo ngomongin dosen gila, jadi ingat satu kata yang saat ini rajin menghiasi blognya yaitu ignorant. Terjemahan bebas ke bahasa Indonesia sih artinya dungu / bebal. Tapi mungkin yang dimaksud dia adalah ketidakpedulian / pengabaian. Kata ini memang lebih dashyat dan berbahaya ketimbang benci.

Benci dan cinta bisa dianggap berlawan, bila dilihat secara mikro, namun bila di ‘zoom out’ dan dilihat pada skala makro, kita membenci atau mencinta sesuatu, adalah bentuk respon terhadap obyeknya. Jadi masih ada keterikatan rasa (suka / gak suka) terhadap obyeknya, masih ada korelasinya.  Benci dan cinta masih pada satu kutub besar yang sama, yaitu merespon. Di sini eksistensi obyek masih diakui. Nah, lawan dari merespon adalah gak merespon a.k.a ‘ignorant’. Benar – benar gak ada rasa yang dilekatkan terhadap obyeknya. Gak benci, tapi juga gak cinta, bisa juga disebut gak peduli. Ignorant adalah titik dimana eksistensi obyek gak diakui atau dianggap gak ada.

Wah…tambah pusing kayaknya….

Sudahlah, aku mau menikmati waktu ku bersama wanita ini, yang notabene sudah dibandroli cap ‘ignorant’ sama dosen gila, secara mantan pacarnya. Kriuk….kriuk….lanjut makan potato sticknya…ha ha ha…

FACEBOOK Share