Sepetologi

26 06 2009

Tukang sepet adalah satu salah satu label yang dicapkan pada saya. Harus saya akui bahwa hobi saya adalah nyepet. Untuk yang belum kenal istilah itu, sepet adalah sindiran terselubung, bukan hanya sekedar menyindir, tetapi seni membungkus sebuah sindiran dengan elegan, mengajak lawan bicara merenungkan kembali tindakannya atau pemikirannya dan pada akhirnya tumbuh kesadaran dari dalam dirinya sendiri, bukan menjejalkan kesadaran ke dalam otaknya.

Filosofi Sepet

“Fly like a butterfly, sting like a bee.” (Moh. Ali)

Dibalik sayap kupu – kupu yang lembut dan rapuh, terdapat sengat yang berbisa. Inilah kekuatan sepet, kritik pedas dan tajam yang terbalut oleh manisnya kata – kata.

Memulai Sepetan

Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuka pertahanan psikologis lawan bicara. Kesankanlah bahwa apa yang anda bicarakan bukan soal dia. Ketika dia merasa bahwa anda tidak sedang membicarakan dia, maka dia tidak akan membangun sikap defensif. Manfaatkan fakta bahwa kita lebih suka mengkritik orang lain daripada diri sendiri. Teknik yang sering saya pakai sebagai awalan adalah mengarang cerita anonimous, pura – pura curhat atau seolah – olah contoh kasus dari orang ketiga. Bisa juga mengawali dengan basa – basi, atau cerita yang tidak terstruktur, lompat sana – lompat sini, sehingga lawan bicara tidak dapat menangkap kesan bahwa dia yang akan menjadi fokus pembicaraan yang sebenarnya. Selain itu, teknik ini juga berguna untuk mengajak lawan bicara untuk melihat suatu hal dari perspektif orang lain, mencoba merasakan apa yang mungkin dirasakan oleh orang lain.

Memasukan Sindiran

Ketika pertahanan sudah terbuka, saatnya memasukan serangan ke jantung kesadaran. Masukan sindiran mengalir secara perlahan. Tentukan sendiri batas kemampuan lawan bicara dalam mengunyah sindiran anda, jangan beri lebih dari yang dia mampu terima. Namun ada kalanya kita kebablasan, saking asyiknya melempar sindiran, anda akan mengetahuinya ketika lawan bicara mulai bersikap defensif, berusaha mengubah topik, atau malah berusaha menyudahi pembicaraan. Ini menandakan dia sudah merasa tidak nyaman dengan apa yang sedang anda bicarakan.

Jeda dan Distraksi

Ketika sindiran sudah mulai intensif atau saat lawan bicara sudah mulai tidak nyaman, anda harus berhati – hati. Saatnya ada memberi jeda untuk mendistraksi dia dari sindiran anda. Masukan intermezo, bicarakan hal lain, sesuatu yang ringan. Atau tanyakan pendapat dia tentang hal – hal yang berkaitan dengan bahan pembicaraan. Hal ini berguna supaya seolah – olah anda tidak mendikte dia dan merasa bahwa pendapatnya masih dihargai. Begitu pembicaraan sudah kembali rileks dan pertahanannya mengendur kembali, anda dapat memasukan kembali sindiran anda. Supaya tidak ada kesan anda mengulang kembali pembicaraan yang lalu, gunakan awalan cerita yang berbeda. Sebelum kembali ke topik yang sama.

Hasil Akhir

Hasil akhir yang diharapkan dari sepetan adalah lawan bicara menjadi satu ide dengan kita. Timbul kesadaran dari dalam dirinya untuk mengiyakan pemikiran kita, tanpa merasa dipaksa. Namun prosentase kegagalan tetap ada. Anda juga harus berhitung siapa lawan bicara anda dan strategi timing yang harus anda jalankan. Selamat mencoba, hehehehe….

FACEBOOK Share





Sebuah Perjalanan Dan Aura Bercinta

3 06 2009

Sebuah catatan perjalanan.

Saat itu hari raya Idul Fitri. Sebagai orang yang terlahir non-muslim, tentu kami tidak merayakannya. Tetapi dari situlah ide ini muncul. Idenya sederhana saja, kami ingin merasakan apa yang disebut orang – orang mudik Lebaran.

Kapan? Aku dan Paka sepakat memilih hari kedua Lebaran. Dengan pertimbangan tidak menambah beban transportasi, kami pikir orang – orang yang merayakan Lebaran lebih prioritas dibanding kami, pada hari pertama Lebaran.

Kemana? Kami tidak punya kampung untuk pulang, karena memang kami masih tinggal di kampung, dengan orang tua kami masing – masing. Hmm… ke kampung siapa ya? Ah…. kampungnya Mawar…sebuah kota yang sekarang sedang bermasalah dengan lumpur. Kami tahu dia pulang mudik, pasti dia ada disana.

Naik apa? Untuk bisa menikmati mudik, harus memilih moda transportasi yang paling tidak nyaman, dan diantaranya kami memilih kereta api ekonomi. Kami ingin sedekat mungkin dengan pengalaman mudik.

Berangkatlah kami berdua, jam 8 pagi tanpa memberi tahu maksud kedatangan kami ke Mawar. Sebuah kejutan… Entah dia atau kami yang bakal terkejut.

“Nanti kalo gak ketemu Mawar gimana ?” tanyaku kuatir.

‘Tenang….kita bisa tidur di masjid.’ sahut Paka.

‘Hmmm…yg penting kita bawa ponco, buat alas tidur, kalo terpaksa tidur di emperan.’

“Oke.”

Perjalanan yang sesak dan gerah kami rasakan. Kami senyum – senyum saja, karena itu memang itu yang kami cari, pengalaman. Senyum kami bersambut obrolan dari orang yang kebetulan duduk berhadapan dengan kami, sepasang suami – istri yang sangat ramah. Sebuah obrolan yang menghantarkan kami sampai ujung 6 jam perjalanan.

Hujan deras menyambut kami di kota itu, dan untung kami membawa ponco yang melindungi kami dari basah air hujan.

“Kemana kita sekarang ?”

‘Telpon Mawar, tanya alamat rumahnya…’

Kami segera menelpon, di tengah guyuran hujan yang sangat deras.

” Haloo…Mawar…aku ada di stasiun nih…mau ke rumah kamu, alamatnya dimana?”

‘Giiiillaaaa…sama siapa..? Sendiri…..?’

“Sama Paka kok !”

‘Kalian berdua…uueedaannn! Coba kalo aku gak dirumah gimana? Tidur dimana kalian?’

“Udah deh, alamat kamu dimana..?”

Sesudah kami mendapatkan alamatnya, kami menghambur keluar stasiun. Mencari angkutan untuk mencari alamat itu.

“Naik becak aja, lebih enak buat cari alamat, kalo naik angkot kita ga tahu turun dimana…”

‘Hah mana ada becak narik, hujan – hujan begini..’

“Jauh ga sih? Kalo ga jauh kita jalan kaki aja.”

‘Kata Mawar sih ga jauh dari stasiun. Tanya orang aja.’

Akhirnya ada seseorang disekitar stasiun itu yang berhasil meyakinkan kami bahwa alamat itu bisa ditempuh dengan jalan kaki, dan kami melakukannya.

Dengan mengenakan ponco, kami berjalan kaki selama…2 jam.

“Ini rumahnya…”

‘Yakin?’

“Yup.”

Kami mengetuk pintu rumah itu. Seorang wanita tengah baya, yang kami yakin ibunya Mawar, keluar dengan penuh tanda tanya.

“Malem tante, Mawarnya ada..?”

‘Oh barusan keluar….lagi jemput temennya dua orang yang dateng dari Jogja.’

“Eeehh…itu kami tante, kami berdua dari Jogja.”

“Waaah….kalian ya? Habis dari tadi ditungguin ga sampai – sampai. Jadi Mawar cari kalian di stasiun. Ya sudah, tante kasih tahu Mawar kalian udah sampai.”

Akhirnya terjadi pertemuan yang mengharukan antara kami bertiga. Sebenarnya kami kelihatan konyol waktu itu, karena bermuka basah, mengenakan kaos oblong, celana pendek, sandal jepit dan dibalut dengan ponco.

Kami disambut dengan ramah oleh Bapak, Ibu, Kakak dan Adiknya. Setelah istirahat sebentar, mandi dan makan malam, kemudian bertiga, aku, Paka dan Mawar berkumpul nonton TV di ruang tengah.

Tiba – tiba….klek…

Suara pintu terbuka dari kamar orang tuanya Mawar. Sesaat kemudian keluar sebuah wajah cantik bak bidadari dengan sinar yang memancar keluar. Senyum terukir di wajahnya. Rambutnya lurus tergerai ketika ikat rambutnya dilepas.

” Met malem, tante… ” serempak aku dan Paka menyapa.

Aku melirik ke Paka, dan aku tidak sangka dia sudah melirik ke arahku. Dari matanya aku bisa mendengar apa yang ingin dikatakannya kepadaku. Kalo aku dan dia punya telepati, aku yakin dia hendak berkata :

” Wah, cantiknya…. Itu ibunya Mawar ya….kok sekarang jadi cantik ya? Padahal tadi kita ketemu biasa saja.”

” Iya, mukanya bercahaya. Kok berubah ya…”

Mawar menatap kami terheran – heran, sebab sesaat sebelum ibunya Mawar keluar kamar, kami bertiga memang sedang ngobrol seru, dan obrolan itu tiba – tiba terhenti karena momen itu.

Klek….

Pintu itu terbuka lagi…..

Keluarlah seorang laki – laki yang memberi kami senyuman, sambil memperbaiki posisi sarungnya.

“Met malem, om..” serempak kami menyapa bapaknya Mawar yang baru saja keluar.

Kembali aku melirik ke Paka, dan lagi – lagi dia sudah melirik ke arahku. Kali ini matanya berkata:

“Apakah kamu berpikir apa yang aku pikirkan..?”

‘Ya, tentu saja. Aku tidak ragu lagi.’

” Sarung itu menjelaskan semuanya. Aura yang terpancar dari wajah tante itu adalah…”

‘Aura bercinta..’

Kami tahu rasa puas itu bisa terpancar dari wajah seseorang, yang tidak kami tahu aura itu bisa membuat wajah bersinar – sinar dan memancarkan daya tarik yang luar biasa, hingga membuat pikiran kami melayang – layang.

“Kenapa sih kalian ?” tanya Mawar setengah berteriak.

Pikiran kami kembali menginjak bumi, tersadar oleh suara Mawar, dan melanjutkan obrolan yang tadi sempat terhenti.

FACEBOOK Share