Finding Bella

3 12 2009

Demam Twilight melanda…lagi, Twilight Saga: New Moon telah diputar di bioskop – bioskop Indonesia. Edward, tokoh utama pria dalam cerita ini digilai – gilai oleh cewek – cewek di Indonesia. Kemisteriusan karakter Edward plus kegantengan Robert Pattinson, aktor pemerannya, ternyata adalah paduan yang sempurna untuk menjadi idola para wanita.

Sudahlah, Edward memang jatahnya para wanita. Karena saya laki – laki tentu tidak mengidolakan Edward. Kalau iya, bisa – bisa nanti jadi cerita Brokeback Mountain…..he he he he.

Sudah secara alami bagi saya untuk mengidolakan Bella, tokoh utama wanita di cerita ini. Dan inilah alasan saya untuk memimpikan Bella bagi hidup saya :

– Orangnya keras kepala, tetapi punya prinsip, bukan asal ‘ngeyel’. Tidak gampang terpengaruh sama omongan orang, bahkan tidak peduli sama omongan orang. Tipe penyendiri. Saya cenderung suka orang yang introvert, karena seperti puzzle yg menunggu untuk diselesaikan.

– Gak suka shopping. Bella bukan tipe rata – rata cewek yang suka belanja. Lebih suka alam liar, dibanding hutan beton dengan daun – daun etalase kaca.

– Cuek, tampil apa adanya. Seperti memiliki dunianya sendiri, standardnya sendiri. Lihat truk yang dikendarainya, one of a kind, unique !

– Nyali nya besar. Bisa nonton film action extreme tanpa muntah – muntah. Berani naik motor trail, dan menantang maut dengan cliff jumping.

– Memiliki totalitas untuk mencintai seseorang. Cintanya sangat sempurna di mata saya. Meruntuhkan tembok ego memang bukan perkara yang mudah. Namun bila itu yang diperlukan, dia siap melakukan pilihan itu. Rela mengorbankan ‘hidup normalnya’ untuk bisa bersama orang yang disayanginya. Whatever it takes…

Tapi tentunya akan sangat sulit menemukan wanita seperti Bella, karena Bella sekedar karakter rekaan. Tetapi saya sangat menikmati saat menyelami karakter Bella ini, sambil berharap menemukannya di dunia nyata.

‘mmyb’
gara-gara nonton ‘New Moon’





2000 click, The 2nd Milestone

25 11 2009

Akhirnya tiba di milestone yang kedua. Melihat catatan statistik yang memunculkan angka 2000, sungguh melegakan. Membayangkan ada 2000 tangan – tangan mungil menggenggam mouse, dengan jari – jari lincah menekan klik kanan menyusuri blog ini. Tangan – tangan inilah yang menemani sepanjang blog ini didirikan.

Terima kasih buat semuanya, baik yang setia mengikuti perkembangan blog ini, atau yang terpaksa membuka blog ini karena ‘ancaman’ promo clicker get clicker. Masih berharap masuknya komen – komen dengan alamat blog masing – masing supaya bisa saling mengunjungi.

Once again, thank you…





Diary Seorang Katekismus

15 11 2009

(Mengkritisi sistem katekisasi di salah satu gereja Katolik di Jakarta Selatan)

Peserta katekisasi kali ini benar-benar beragam. Ada yang agama asalnya Islam, Budha, Kong Hu Cu dan Kristen. Tiga yang pertama bak ember kosong, aku bisa mengisinya dengan leluasa. Tapi yang terakhir ini….seperti ember penuh, aku harus mengosongkannya dulu untuk bisa mengisinya dengan keyakinanku. Untuk itu aku harus kerja ekstra keras. Sepertinya dia tipe orang yang suka mempertanyakan segala sesuatu, dosa asal atas ketidaktaatan yang bermula dari si keparat Luther.

Pernah suatu kali aku dipermalukannya, waktu aku menceritakan saat Abraham menang bergulat dengan malaikat Tuhan. Dengan seenaknya dia memotong,

“Bagian mana dari Alkitab yang menceritakan itu? Bukan Abraham, tapi Yakub yang menang bergulat dengan malaikat Tuhan dan berganti nama menjadi Israel.”

Mana aku ingat semua nama dalam Alkitab ! Abraham atau Yakub sama saja buatku. Aku lebih tahu cerita mitos santo dan santa ketimbang tokoh – tokoh Alkitab.

Pada suatu pertemuan aku membahas santo dan santa, sesuatu yang aku yakin tidak dia kuasai. Aku balas dia dengan pertanyaan,
“Di agamamu gak ada santo dan santa kan?”

Aku tersenyum, aku yakin dia tidak akan menjawab.

“Ada. Kalo santa memang tidak ada, tapi kami punya seorang santo.”

Aku terkejut dengan jawabannya.

“Santo siapa?”

“Santo..so, ya, Santoso nama pendeta di gereja saya dulu.”

Dan semua tertawa.

Oh, Bunda Maria berikan kesabaran padaku untuk menghadapi pemberontak yang satu ini. Ya, roh kudus bimbinglah mulutku ini. Lain kali aku akan hati – hati berkata.

Pernah aku bercerita tentang wujud – wujud roh kudus berupa api, burung merpati dan hembusan angin. Saat aku sedang bercerita tentang wujud roh kudus yang terakhir, yaitu saat Yesus mencurahkan roh kudus kepada murid – muridnya dengan cara menghembuskan angin, dengan kurang ajarnya dia berkomentar,
“Wah, pasti anginnya bau ikan goreng, Yesus kan suka makan ikan goreng, pasti mulutnya bau ikan goreng.”

Aku tahu aku salah, roh kudus memang tidak pernah dicurahkan Yesus dalam bentuk hembusan angin, tapi kenapa dia tidak taat pada ceritaku saja, detil kecil seperti ini tidak perlu diributkan atau dipertanyakan.

Pada suatu kali aku bertanya,
“Apa yang akan kalian lakukan untuk menunjukan iman kalian ?”

Muridku yang paling pintar menjawab,
“Ikut perayaan Ekaristi tiap minggu.”

Muridku yang paling taat menjawab,
“Membuat tanda salib jika berdoa.”

Tapi si pemberontak itu menjawab,
“Mengasihi sesama….”

Dasar reformis! Kenapa tidak kau jawab saja dengan salah satu tradisi suci yang sudah kuajarkan kepadamu. Kasihmu kepada sesama bukan cara yang atraktif dan efektif untuk menambah umat.

Aku memutuskan akan kembali mengajar di Bina Iman Anak saja. Setidaknya anak-anak lebih nurut dan lucu, dibanding jebolan – jebolan reformis, yang selalu ada setidaknya satu orang di setiap angkatan, hanya untuk mengawini salah satu dari umat gereja ini. Walaupun anak – anak sering rewel dan nakal, setidaknya mereka tidak akan mempermalukan aku atas keterbatasan pengetahuan Alkitabku.

Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami.

Terinspirasi oleh ‘Als Ik een Jezuiet Was’.

function fbs_click()
{
u=location.href;
t=document.title;
window.open(’http://www.facebook.com/sharer.php?u=’+encodeURIComponent(u)+’&t=’+encodeURIComponent(t),’sharer’,’toolbar=0,status=0,width=626,height=436′);return false;
}





Mengusir Bekas Pacar dari Pasangan Anda

14 11 2009

Pada suatu ketika anda mungkin akan berpacaran dengan seseorang dan anda bisa jadi bukan pacar pertama pasangan anda. Dengan demikian keberadaan bekas pacar pasangan anda bisa mengganggu hubungan anda atau tidak. Di saat sudah terasa terganggu tentu anda tak mau tinggal diam. Apalagi bila bekas pacar pasangan anda main kucing – kucingan dengan anda, dan mencoba kontak dengan pasangan anda di belakang anda atau dia masih merasa sebagai figure penting buat pasangan anda.

Fiuuh….saya pusing dengan paragraf diatas karena terlalu banyak kata anda, tapi semoga anda tidak. Namun tentunya anda lebih pusing saat mengalami peristiwa yang saya gambarkan di atas.

Saya pernah mengalaminya. Baik sebagai mantan pacar yang masih merasa sok penting dan sebagai cowok yang terganggu oleh mantan dari pasangannya.

Sebagai orang yang sok penting terhadap mantan pacar, saya menyadari bahwa perasaan itu tidak penting dan tidak ada gunanya. Pada akhirnya masing – masing sibuk meneruskan hidup.

Sebagai orang yang terganggu karena bekas pacar pasangan masih merasa penting dan suka nongol gak jelas, tentu saya harus melakukan sesuatu. Tapi kali ini saya mau melakukan sesuatu dengan elegan. Saya menghindari percakapan langsung, supaya emosi tidak langsung terlibat. Maka saya memilih jalan aman, dengan sms. Berikut catatan sms berbalasan itu, beserta analisa saya:

(Saya)
Gw mo minta tolong lo, sbg sesama orang dewasa, jangan YM in cewek gw lg deh, soalnya ganggu bgt. Kalo boleh gw saranin, mending lo fokus aja ke masa depan lo ama cewek lo sekarang. Thanks atas pengertian lo.

Analisa:
Saya mencoba menggugah rasa kedewasaannya, lalu mengajukan permintaan. Lalu mengajukan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya dari pasangan saya.

(Bekas pacarnya)
Jiiaaah siap bro!,hapus aja ym gw skalian..gw cm mu tmenan aj salah ap??Ym an ma mantan gw yg laen gpp tuh ma cowoknya,demi tuhan gw ga ada mksd apa2,yauda klo emang gt gw ga ganggu kalian lg..gw jg da mu merit n mu undang cewek lo tp jd salah kyknya,thx.

Analisa:
Gaya bahasanya seperti ABG. Tetapi memang bahasa menunjukan kepribadiannya. Dia mencoba mengeksplorasi perasaan bersalah saya dengan ‘apa salahnya jadi teman’ dan bawa – bawa nama Tuhan bahwa dia punya niat baik, serta bumbu – bumbu undangan pernikahan.

(Saya)
Tenang bro, ym lo udah lama dihapus kok. Gw yakin temen lo banyak, gak cuma cewek gw, jadi ga usah kuatir ilang satu doang. Congrats deh kalo udah mo married. Kalo mo kasih undangan kirim aja lewat pos. Thanks.

Analisa:
Saya mencoba mengatur irama dengan kata tenang. Saya kasih tahu kalo usulannya bukan sesuatu yang baru. Saya sentil sedikit harga dirinya dengan keyakinan saya bahwa pasti dia punya banyak teman selain pasangan saya, jadi ga ada masalah kalo dia cuma kehilangan satu saja. Ini sebagai counter atas pernyataan ‘apa salahnya berteman’, saya balik jadi ‘ada masalah apa kalau gak berteman?’. Gak ada masalah, jadi ga perlu ribet maksa berteman.

(Bekas pacarnya)
Sip bro..kyknya berkah bgt buat lo dpt dia smpe sgitu ketakutannya bgt ma gw yg ga mgkn bs dkt walaupun cm tmen aja,jaga baik2lah dia..kyknya gw cancel aja tuk undang kalian,uda ga perlu jg.

Analisa:
Kali ini dia mulai menghangatkan psi-war. Dia menyerang ego saya dengan menyatakan saya ketakutan, dan menempatkan dia pada sisi superior dan saya sebagai inferiornya, plus ancaman pembatalan undangan.

(Saya)
Ok, bro. Tugas gw sbg cowoknya buat jagain dia. Thanks udah diingetin. Ketakutan sih enggak bro, cuma kebetulan gw agak risih kalo cewek gw msh bergaul ma temen2nya yang suka dugem dan nge-drugs. Jadi bukan cuma sama lo aja. Soal undangan terserah lo aja, lo yg punya gawe. Thanks.

Analisa:
Kalimat 1 – 3, saya pakai untuk menunjukan bahwa emosi saya masih stabil. Kemudian saya melakukan counter atas tudingan dia bahwa saya ketakutan dengan mengeksplorasi aib dirinya. Saya juga menunjukan bahwa dia bukan target tunggal, supaya dia tidak besar kepala. Dan soal undangan saya benar-benar tidak peduli.

(Bekas pacarnya)
Gud..cowok yg baik,uda 5 thn gw sama dia..skrg giliran lo,tenang aja dia uda ga akan neko2 kok bro..gw da sgt tau dia.

Analisa:
Dia mulai tahu bahwa saya menguasai data tentang diri dan aibnya, dia tidak melakukan counter atas hal itu. Dia mulai mengalihkan fokus pada keunggulan dia dibanding saya, yaitu durasi hubungan dan klaim bahwa dia lebih mengenal pasangan saya ketimbang saya sendiri. Sebenarnya ini adalah teknik yang sangat ‘old school’ bagi seorang mantan pacar untuk terlihat superior terhadap pacar baru mantannya. Piece of cake!

(Saya)
Thanks atas dukungannya. Walaupun gw ama dia blm selama lo, tapi gw liat secara pribadi dia udah berubah jauh lebih baik dari sebelum2nya. Good luck with your life. Wish U all the best.

Analisa:
Saya masih ingin menunjukan kestabilan emosi saya pada kalimat pertama. Kemudian saya balik keunggulan yang dia miliki menjadi tidak ada nilainya. Apa yang saya hasilkan dalam waktu yang lebih singkat lebih punya makna dibanding hitung-hitungan waktu yang dia miliki, lalu saya segel dengan ‘good wishes’, supaya dia pergi dan mengurusi urusannya sendiri.

(Bekas pacarnya)
Wah bgs d klo gt,..tq,u2 bro

Analisa:
Ini hanya basa basi saja. Dia sudah gak bisa bilang apa- apa lagi.

*****

Overall, saya puas dengan arah komunikasi ini. Dari awal sampai akhir saya memegang kendali dan keinginan saya supaya dia menyingkir telah tercapai. Sindiran – sindiran yang saya lemparkan dapat mengenai target. Bila ternyata kesimpulan saya ini salah, saya hanya bisa bilang: ‘mungkin otaknya sudah jadi bebal, akibat terlalu banyak mengkonsumsi obat-obat psikotropika’. Hmmm….

Diceritakan oleh:
Irwan Kamarga

Ditulis ulang oleh:
‘mulutmanisyangberbisa’

icon_link





Cicakae Versus Buayaensis

11 11 2009

Saat ini sedang menyimak perseteruan akbar, antara KaPeKa dan Polrisi. Analogi cicak versus buaya digunakan untuk menggambarkan betapa kecilnya kekuatan KaPeKa dibanding besarnya kekuatan Polrisi. Media massa yang secara marathon menayangkan perkembangan kasus ini, memiliki kontribusi yang cukup besar dalam memberikan informasi kepada masyarakat seputar kasus ini. Willy The Wizard memanaskan pertempuran dengan pengakuan bahwa memang ada rekayasa untuk menjatuhkan pimpinan KaPeKa oleh petinggi Polrisi. Situasi terakhir membuat semakin kuat dukungan masyarakat kepada KaPeKa yang notabene hanya seekor cicak di mata seekor buaya. Namun dukungan besar inilah yang membuat buaya tak berdaya.

Saat ini sedang sibuk membahas sosok Martin Luther dengan dosen gila. Berawal dari ketidaksengajaan dosen gila nonton film Luther di salah satu stasiun tv lokal Belanda, sembari packing pindahan flat. Nah, perjuangan Luther menentang praktek indulgence Paus Leo X, sama juga seperti cicak versus buaya. Seorang biarawan, dengan latar belakang yang kurang meyakinkan namun berani menentang kebijakan sebuah institusi mapan. Namun cicak bukanlah makhluk tanpa daya. Dukungan terhadap Luther meluas seiring tersebarnya thesis Luther tentang konsep ‘Tuhan Maha Pengampun’ yang secara langsung menentang praktek indulgence oleh Roma. Akhirnya Luther memenangkan massa, terjadilah reformasi, dan lahirlah kaum Protestant.

Memperjuangkan kebenaran melawan sebuah kekuasaan tidaklah mudah. Bak cicak lawan buaya. Tapi kekuatan kecil itu ternyata dapat mengimbangi kekuatan besar, terlebih bila dapat memenangkan hati rakyat, dan berserah kepada pertolongan Tuhan. Mengutip pernyataan sikap Luther pada public hearing di Worm tanggal 25 Mei 1521, kata – kata yang memenangkan hati rakyat :

‘Unless I am convinced by the testimony of the Scriptures or by clear reason (for I do not trust either in the pope or in councils alone, since it is well known that they have often erred and contradicted themselves), I am bound by the Scriptures I have quoted and my conscience is captive to the Word of God. I cannot and will not recant anything, since it is neither safe nor right to go against conscience. May God help me. Amen.’ (Sumber: Wikipedia)

Special tribute: untuk dosen gila, seekor cicak yang saat ini sedang dalam perjuangan melawan buaya. Win the crowd !

icon_link





My Baby Will Born in A Parking Lot

27 10 2009

In that one lovely morning, my wife, her brother and I drove to a real estate agency. Her brother wanted to buy an apartment. As we entered the highway, my wife broke the silence with an annoying request.

“Honey, I think we should find another hospital. The hospital we visited last week, have a small parking lot.”

My wife is a pregnant woman of  2 months. We just found it out 2 weeks before I wrote this down.

I replied, “ And how’s that becoming a problem ? How many car do you want to stuff in to the hospital ?”

“Well, a lot of people will visit me when I deliver the baby. A hospital with a large parking lot will be very useful.”

“Useful ? What is it good for the baby ? Explain to me..”

“Well, not for the baby, for people who are visiting.”

Clearly, hormonal activity caused by pregnancy, made my wife’s logical thinking stop working. Or maybe I just couldn’t understand what a pregnant woman is going through.

O.K., let us compare this. Below is my priority list regarding this issue, arranged from the most important :

The Baby and The mother – The Family – The Visiting People

And below is my wife’s list :

The Visiting People – The Visiting People – The Visiting People

It’s kind of suck, when I put someone as first in my priority list and then find out that-someone put other people in his/her priority list.

“Don’t you think it’s kind of funny that we are deciding where the baby will born over a parking lot ?”

My wife didn’t reply me.

“Just focus on the facilities of the hospital for you and the baby. Don’t waste your time thinking over a parking lot, because my baby will not born in a parking lot.”

Oh my God, if I take my wife’s request seriously, I will consider to find a drive-through visiting  hospital, so everyone who want to visit my wife and the new born baby could visit them without troubled on finding a parking lot, even don’t need to jump off from their car. Imagine that…

FACEBOOK Share





What’s wrong with the gynecologist ?

28 08 2009

“What’s wrong with male gynecologist ?” my wife asked me.

“ It’s all wrong.” I said.

Perhaps, she didn’t notice how the gynecologist staring at her while he walked through the waiting room, but I did and it was annoying me.

“First, I have to let him stick his finger into your vagina, second I have to pay him expensive for that.”

Sticking finger to my wife’s vagina to detect any infection ?  It sounds no good. I believe it’s not only sticking….but twisting around back and forth. If it had to be that way, I prefer to let a woman doing it. Although the gynecologist knew my anxiety, he didn’t recommend me a female gynecologist, as I know there is a female gynecologist working at the same hospital. But the weird thing is the gynecologist became intimidating when he said that I was refusing vaginal examination on my wife, since I wasn’t refusing but only felt uncomfortable with male gynecologist doing it. After all, it’s not an emergency situation, just a pre-pregnancy examination, so I still have plenty of time to find female gynecologist.

***

It was the situation when someone you trust (by his/her profession) playing you around. A quick back flash stroke my head, taking me back to 3 years ago when I was suffering from sediment in my right kidney. The urologist I met suggesting surgery to remove the sediment, and assured me that there was no other way to save me from the pain. The diagnose and the recommendation were built up from x-ray photos of my kidney.

Well, I had to prepare the budget first, right ? An administrative officer handed me the details of the procedure cost. OMG ! The surgery would cost me 10 million rupiah, and half of it would go to the urologist’s pocket. Driven by the fact that I didn’t have the money, I went for second opinion. A friend of mine recommended me a general practitioner. When I showed him he x-ray photos told him all what the urologist said, he laughed.

“ You don’t need surgery, it’s a small sediment and it is on the way to the bladder, when it reaches your bladder, it won’t cause you pain anymore. Once it in the bladder, it will go out naturally along with your urine. Don’t worry, I will write you prescription for reducing the pain, curing the possible infection and stimulating your bladder. Don’t forget to drink water 20 glasses a day.”

Obviously the urologist has played me around. He left me with no choice and turned out that it’s not necessary. And the general practitioner was right, not later than 5 days the sediment plugged out when I was urinating. Since that moment I never trust any doctor that leave me with no choice, I always seek for second opinion if a doctor say to me: ‘There is no other way’.

***

“I want you to be examined by female gynecologist.” I said to my wife.

“Male gynecologist always better than female gynecologist. Everybody knows.” She replied.

“Well, that is female gynecologist’s problem, not ours ! This is a pre-pregnancy examination, I only let female gynecologist touching around your genital and no male gynecologist before you really get pregnant.”

This is another issue, why people think that male gynecologist is always better than female one. Are we lack of good female gynecologist? It has to be a good female gynecologist somewhere.

I decided to be a smart patient. When I’m dealing with any health issue, I always gather sufficient information about it before I go to any doctor. At least I can give impression to the doctor that I’m a well informed patient. I should educate myself, as I feel there is no doctor trying to educate the patient anymore. The most important thing is that I need to be comfortable with the treatment I choose. I never hesitate to have another option or second opinion.

Shared to me on August 22, 2009 by Anggoro.

Carefully wrote avoiding similar case to Prita Mulya Sari.

FACEBOOK Share





Catatan Kecil Sebuah Pernikahan

22 07 2009

Pernikahan adalah salah satu momen penting dalam fase kehidupan manusia. Sebuah perayaan kehidupan yang selalu menyajikan cerita besar kebahagiaan. Namun di dalamnya banyak pula terselip kisah kecil yang patut dikenang untuk melengkapi kebahagiaan tersebut. Dibawah ini beberapa catatan kecil yang sempat terekam pada pernikahan seorang sahabat yang dibagikan oleh sahabat saya itu kepada saya.

  • Mempelai Pria (MP) hanya mengambil cuti kerja 1 hari dan Mempelai Wanita (MW) mengambil cuti kerja 2 hari untuk  pernikahan mereka.
  • MW membuat 3 kebaya untuk midodareni, pemberkatan gereja dan resepi, sementara MP cukup dengan 1 batik, 1 jas dan sewa beskap.
  • Jas MP dan kebaya MW dibuat oleh desainer yang sama.
  • Karena perbedaan tinggi badan yang tidak terlal mencolok, maka untuk mengimbangi sepatu MW yang memiliki hak 7 cm, maka selop MP diberi hak 5 cm.
  • MP memakai celana dalam yang sama dari 3 hari sebelum sampai pada hari pernikahannya karena tidak sempat membawa ganti.
  • Koin tanah liat yang dipakai untuk prosesi ‘Dodol Dawet’ digigit oleh kakek MW karena dikira biskuit.
  • Saat doa spontan, akibat grogi, MP yang harusnya mengakiri doa dengan ‘Kami mohon…’ malah mengucapkan ‘Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan’.
  • MP hanya boleh minum segelas air putih saat acara seserahan dan midodareni.
  • Bunga dekorasi gereja adalah hasil patungan dengan pasangan yg menikah pada pagi hari jam 10.00 WIB, karena MP dan MW menikah di siang hari 13.00 WIB. Kedua pasangan pengantin sama – sama pasangan Jakarta – Jogja.
  • Perias MW yang dijadwalkan datang jam 7 pagi, baru muncul jam 10.30 WIB, akibat ban bocor, sementara resepsi akan berlangsung jam 13.00 WIB, sehingga membuat MW panik dan menangis.
  • Malam sebelum pernikahan MP pergi makan sea food dan roti bakar dengan dua sepupunya tanpa pamit dan tanpa membawa HP sehingga membuat kuatir kedua orang tua dan nenek MP.
  • MW mengigil kedinginan akibat AC di gereja saat duduk di depan altar.
  • MP kesusahan memasukan cincin ke jari manis MW, karena ukurannya terlalu pas.
  • Lektor sakramen pernikahan (adik MW) salah duduk. Dia duduk di tempat duduk yang seharusnya diisi oleh misdinar (putra altar).
  • Sesi foto setelah pemberkatan di gereja harus diulang karena posisi kiri – kanan mempelai terbalik.
  • Semua bunga anggrek yang ada pada dekorasi gedung hilang diambil orang, bahkan sebelum acara resepsi dimulai. Seorang saksi mata melaporkan, pelakunya adalah seorang wanita tengah baya.
  • MP selalu tertawa setiap namanya disebut oleh MC dengan awalan ‘Bagus Fransiskus….’
  • Kue pengantin yang dipotong MP dan MW terdiri dari tiga tingkat. Tingkat pertama dan ketiga adalah kue sungguhan dan yang tingkat kedua adalah kue palsu, berupa stereofoam dilapis gula – gula. MP dan MW baru tahu saat memotong kue pengantin tersebut.
  • Saat acara suap – suapan kue, karena terlalu bersemangat untuk menyuapi ayah mertua, MP mematahkan garpu plastik saat hendak menusuk kue.
  • Blangkon yang dikenakan MP dan ayah MP terlalu besar, sehingga harus diganjal dengan kopyah putih (yang biasa dipakai umat muslim saat ibadah).
  • Selop ayah MP terlalu besar, sehingga harus diganjal kertas di bagian depannya.
  • Kakak dan kakak ipar MW menyanyi ‘Somewhere Only We Know’, tante MP menyanyi ‘Somewhere Out There’ dengan fals(eto), ibu MP menyanyi dua lagu keroncong dan teman MP bernama Toni menyanyi sebuah lagu pada acara resepsi.
  • Hak sepatu istri atasan MW berinisial JS, terjepit pada grill penutup selokan di area parkir saat hendak pulang dari resepsi, dan karena tidak bisa lepas, maka sepatunya ditinggal begitu saja.
  • Yang berhasil menangkap lemparan hand bouquet adalah teman MP dan MW bernama Abdul.
  • MP sempat menggendong MW di pelaminan dan diarak oleh anak – anak kecil yang menyanyikan lagu ‘Tak Gendong’ nya mbah Surip.
  • Rekor menangis terbanyak selama rangkaian acara dipegang oleh ibu MW.
  • Yang menghapus riasan MW setelah selesai resepsi adalah MP, menggunakan sendok, kapas dan make up remover.

Selamat buat mempelai berdua, semoga kebahagian selalu menyertai langkah kalian dalam mengarungi bahtera rumah tangga, sampai maut memisahkan.

FACEBOOK Share





Sepetologi

26 06 2009

Tukang sepet adalah satu salah satu label yang dicapkan pada saya. Harus saya akui bahwa hobi saya adalah nyepet. Untuk yang belum kenal istilah itu, sepet adalah sindiran terselubung, bukan hanya sekedar menyindir, tetapi seni membungkus sebuah sindiran dengan elegan, mengajak lawan bicara merenungkan kembali tindakannya atau pemikirannya dan pada akhirnya tumbuh kesadaran dari dalam dirinya sendiri, bukan menjejalkan kesadaran ke dalam otaknya.

Filosofi Sepet

“Fly like a butterfly, sting like a bee.” (Moh. Ali)

Dibalik sayap kupu – kupu yang lembut dan rapuh, terdapat sengat yang berbisa. Inilah kekuatan sepet, kritik pedas dan tajam yang terbalut oleh manisnya kata – kata.

Memulai Sepetan

Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuka pertahanan psikologis lawan bicara. Kesankanlah bahwa apa yang anda bicarakan bukan soal dia. Ketika dia merasa bahwa anda tidak sedang membicarakan dia, maka dia tidak akan membangun sikap defensif. Manfaatkan fakta bahwa kita lebih suka mengkritik orang lain daripada diri sendiri. Teknik yang sering saya pakai sebagai awalan adalah mengarang cerita anonimous, pura – pura curhat atau seolah – olah contoh kasus dari orang ketiga. Bisa juga mengawali dengan basa – basi, atau cerita yang tidak terstruktur, lompat sana – lompat sini, sehingga lawan bicara tidak dapat menangkap kesan bahwa dia yang akan menjadi fokus pembicaraan yang sebenarnya. Selain itu, teknik ini juga berguna untuk mengajak lawan bicara untuk melihat suatu hal dari perspektif orang lain, mencoba merasakan apa yang mungkin dirasakan oleh orang lain.

Memasukan Sindiran

Ketika pertahanan sudah terbuka, saatnya memasukan serangan ke jantung kesadaran. Masukan sindiran mengalir secara perlahan. Tentukan sendiri batas kemampuan lawan bicara dalam mengunyah sindiran anda, jangan beri lebih dari yang dia mampu terima. Namun ada kalanya kita kebablasan, saking asyiknya melempar sindiran, anda akan mengetahuinya ketika lawan bicara mulai bersikap defensif, berusaha mengubah topik, atau malah berusaha menyudahi pembicaraan. Ini menandakan dia sudah merasa tidak nyaman dengan apa yang sedang anda bicarakan.

Jeda dan Distraksi

Ketika sindiran sudah mulai intensif atau saat lawan bicara sudah mulai tidak nyaman, anda harus berhati – hati. Saatnya ada memberi jeda untuk mendistraksi dia dari sindiran anda. Masukan intermezo, bicarakan hal lain, sesuatu yang ringan. Atau tanyakan pendapat dia tentang hal – hal yang berkaitan dengan bahan pembicaraan. Hal ini berguna supaya seolah – olah anda tidak mendikte dia dan merasa bahwa pendapatnya masih dihargai. Begitu pembicaraan sudah kembali rileks dan pertahanannya mengendur kembali, anda dapat memasukan kembali sindiran anda. Supaya tidak ada kesan anda mengulang kembali pembicaraan yang lalu, gunakan awalan cerita yang berbeda. Sebelum kembali ke topik yang sama.

Hasil Akhir

Hasil akhir yang diharapkan dari sepetan adalah lawan bicara menjadi satu ide dengan kita. Timbul kesadaran dari dalam dirinya untuk mengiyakan pemikiran kita, tanpa merasa dipaksa. Namun prosentase kegagalan tetap ada. Anda juga harus berhitung siapa lawan bicara anda dan strategi timing yang harus anda jalankan. Selamat mencoba, hehehehe….

FACEBOOK Share





Sebuah Perjalanan Dan Aura Bercinta

3 06 2009

Sebuah catatan perjalanan.

Saat itu hari raya Idul Fitri. Sebagai orang yang terlahir non-muslim, tentu kami tidak merayakannya. Tetapi dari situlah ide ini muncul. Idenya sederhana saja, kami ingin merasakan apa yang disebut orang – orang mudik Lebaran.

Kapan? Aku dan Paka sepakat memilih hari kedua Lebaran. Dengan pertimbangan tidak menambah beban transportasi, kami pikir orang – orang yang merayakan Lebaran lebih prioritas dibanding kami, pada hari pertama Lebaran.

Kemana? Kami tidak punya kampung untuk pulang, karena memang kami masih tinggal di kampung, dengan orang tua kami masing – masing. Hmm… ke kampung siapa ya? Ah…. kampungnya Mawar…sebuah kota yang sekarang sedang bermasalah dengan lumpur. Kami tahu dia pulang mudik, pasti dia ada disana.

Naik apa? Untuk bisa menikmati mudik, harus memilih moda transportasi yang paling tidak nyaman, dan diantaranya kami memilih kereta api ekonomi. Kami ingin sedekat mungkin dengan pengalaman mudik.

Berangkatlah kami berdua, jam 8 pagi tanpa memberi tahu maksud kedatangan kami ke Mawar. Sebuah kejutan… Entah dia atau kami yang bakal terkejut.

“Nanti kalo gak ketemu Mawar gimana ?” tanyaku kuatir.

‘Tenang….kita bisa tidur di masjid.’ sahut Paka.

‘Hmmm…yg penting kita bawa ponco, buat alas tidur, kalo terpaksa tidur di emperan.’

“Oke.”

Perjalanan yang sesak dan gerah kami rasakan. Kami senyum – senyum saja, karena itu memang itu yang kami cari, pengalaman. Senyum kami bersambut obrolan dari orang yang kebetulan duduk berhadapan dengan kami, sepasang suami – istri yang sangat ramah. Sebuah obrolan yang menghantarkan kami sampai ujung 6 jam perjalanan.

Hujan deras menyambut kami di kota itu, dan untung kami membawa ponco yang melindungi kami dari basah air hujan.

“Kemana kita sekarang ?”

‘Telpon Mawar, tanya alamat rumahnya…’

Kami segera menelpon, di tengah guyuran hujan yang sangat deras.

” Haloo…Mawar…aku ada di stasiun nih…mau ke rumah kamu, alamatnya dimana?”

‘Giiiillaaaa…sama siapa..? Sendiri…..?’

“Sama Paka kok !”

‘Kalian berdua…uueedaannn! Coba kalo aku gak dirumah gimana? Tidur dimana kalian?’

“Udah deh, alamat kamu dimana..?”

Sesudah kami mendapatkan alamatnya, kami menghambur keluar stasiun. Mencari angkutan untuk mencari alamat itu.

“Naik becak aja, lebih enak buat cari alamat, kalo naik angkot kita ga tahu turun dimana…”

‘Hah mana ada becak narik, hujan – hujan begini..’

“Jauh ga sih? Kalo ga jauh kita jalan kaki aja.”

‘Kata Mawar sih ga jauh dari stasiun. Tanya orang aja.’

Akhirnya ada seseorang disekitar stasiun itu yang berhasil meyakinkan kami bahwa alamat itu bisa ditempuh dengan jalan kaki, dan kami melakukannya.

Dengan mengenakan ponco, kami berjalan kaki selama…2 jam.

“Ini rumahnya…”

‘Yakin?’

“Yup.”

Kami mengetuk pintu rumah itu. Seorang wanita tengah baya, yang kami yakin ibunya Mawar, keluar dengan penuh tanda tanya.

“Malem tante, Mawarnya ada..?”

‘Oh barusan keluar….lagi jemput temennya dua orang yang dateng dari Jogja.’

“Eeehh…itu kami tante, kami berdua dari Jogja.”

“Waaah….kalian ya? Habis dari tadi ditungguin ga sampai – sampai. Jadi Mawar cari kalian di stasiun. Ya sudah, tante kasih tahu Mawar kalian udah sampai.”

Akhirnya terjadi pertemuan yang mengharukan antara kami bertiga. Sebenarnya kami kelihatan konyol waktu itu, karena bermuka basah, mengenakan kaos oblong, celana pendek, sandal jepit dan dibalut dengan ponco.

Kami disambut dengan ramah oleh Bapak, Ibu, Kakak dan Adiknya. Setelah istirahat sebentar, mandi dan makan malam, kemudian bertiga, aku, Paka dan Mawar berkumpul nonton TV di ruang tengah.

Tiba – tiba….klek…

Suara pintu terbuka dari kamar orang tuanya Mawar. Sesaat kemudian keluar sebuah wajah cantik bak bidadari dengan sinar yang memancar keluar. Senyum terukir di wajahnya. Rambutnya lurus tergerai ketika ikat rambutnya dilepas.

” Met malem, tante… ” serempak aku dan Paka menyapa.

Aku melirik ke Paka, dan aku tidak sangka dia sudah melirik ke arahku. Dari matanya aku bisa mendengar apa yang ingin dikatakannya kepadaku. Kalo aku dan dia punya telepati, aku yakin dia hendak berkata :

” Wah, cantiknya…. Itu ibunya Mawar ya….kok sekarang jadi cantik ya? Padahal tadi kita ketemu biasa saja.”

” Iya, mukanya bercahaya. Kok berubah ya…”

Mawar menatap kami terheran – heran, sebab sesaat sebelum ibunya Mawar keluar kamar, kami bertiga memang sedang ngobrol seru, dan obrolan itu tiba – tiba terhenti karena momen itu.

Klek….

Pintu itu terbuka lagi…..

Keluarlah seorang laki – laki yang memberi kami senyuman, sambil memperbaiki posisi sarungnya.

“Met malem, om..” serempak kami menyapa bapaknya Mawar yang baru saja keluar.

Kembali aku melirik ke Paka, dan lagi – lagi dia sudah melirik ke arahku. Kali ini matanya berkata:

“Apakah kamu berpikir apa yang aku pikirkan..?”

‘Ya, tentu saja. Aku tidak ragu lagi.’

” Sarung itu menjelaskan semuanya. Aura yang terpancar dari wajah tante itu adalah…”

‘Aura bercinta..’

Kami tahu rasa puas itu bisa terpancar dari wajah seseorang, yang tidak kami tahu aura itu bisa membuat wajah bersinar – sinar dan memancarkan daya tarik yang luar biasa, hingga membuat pikiran kami melayang – layang.

“Kenapa sih kalian ?” tanya Mawar setengah berteriak.

Pikiran kami kembali menginjak bumi, tersadar oleh suara Mawar, dan melanjutkan obrolan yang tadi sempat terhenti.

FACEBOOK Share