Hal Pernikahan

27 03 2009

Wedding time…!

Semakin dekat aja rasanya. Semakin mengerucut pada satu kesimpulan. Gak yakin !

Edan kowe… le…! Wes tinggal pirang sasi loh ! Demikian teriak ibuku, yang jantungnya kubuat kembang kempis dalam irama ‘super chaos’ akibat statement – statementku yang tidak menunjukan perkembangan kedewasaan.

Ya… a lot of worries, mom. Banyak berpikir ‘how if ‘. I want to take it slow, as slow as possible….

Ibuku berfirman :

Menikah itu seperti rel kereta api. Ada dua batangan besi di kiri dan kanan. Yang satu kamu dan yang satu lagi pasanganmu. Walaupun terdiri dari dua batang besi yang berbeda tetapi mereka mengarah ke satu tujuan yang sama. Dan dua batang besi itu tidak bisa dipaksakan jadi satu.

Hmm…sedikit menenangkan, tapi yah tetep aja…ada keraguan. Bagaimana bila ternyata tujuannya gak sama ? Gak ada jaminan memang, semua akan lancar – lancar saja. Tapi Tuhan menjamin aku akan baik – baik saja, begitu imanku percaya, seperti bunga bakung dan burung – burung yang telah dipelihara-Nya.

FACEBOOK Share





Kedewasaan dan Ketidakpedulian

28 11 2008

Di malam yang sama saat aku menulis tulisan ini, aku merasa kedewasaanku sedang diombang-ambingkan.

Seperti seorang pelari marathon, aku sedang fokus untuk mencapai garis finish, dan menjaga staminaku tetap ada sampai tiba di garis akhir itu. Aku sungguh tidak mau peduli dengan hal – hal kecil yang mencoba mengganggu konsentrasiku. Aku biarkan keringat bercucuran, bahkan membasahi mataku. Tidak aku abaikan rasa haus yang menyerang kerongkonganku. Panas teriknya mentari aku anggap sebagai pemacu semangat. Aku tetap menjaga langkah – langkah panjangku yang akan mengantarku semakin dekat pada kemenangan.

Hingga suatu kejadian ‘kecil’ datang. Aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman di kaki ku. Rupanya sebutir kerikil telah masuk ke dalam sepatuku. Konsentrasiku buyar. Pikiranku mulai bercabang, bagaimana caranya mengeluarkan kerikil ini tanpa harus mengurangi kecepatan lariku? Bagiku tiap detik adalah kemenangan, dan aku tidak mau kehilangan satu pun. Haruskah aku membawa serta rasa tidak nyaman ini sampai ujung lintasan? Rasa tidak nyaman ini mulai berubah menjadi rasa sakit. Langah ku menjadi semakin pendek. Hal ini jelas menghambatku, menjauhkan ku dari piala pertama. Hanya berorientasi pada hasil, aku lanjut berlari. Rasa sakit itu tidak ada pikirku, kalaupun ada aku tidak peduli.

Tibalah aku di garis finish, dengan kaki berdarah tanpa kemenangan apapun. Duduk terpaku menikmati rasa sakit karena kerikil itu, aku mengamati orang – orang yang finish dibelakangku. Terdapat seorang remaja pada rombongan paling akhir yang tiba di garis finish. Sambil tersenyum bangga kepada teman – temannya yang menunggu di garis finish, bahwa dia bisa sampai finish sekalipun tidak menang. Setelah beberapa saat dia menhampiriku dan menanyakan lukaku.

“Ada apa dengan kakimu kak?” tanya orang itu.

“Kerikil masuk ke dalam sepatuku. Dan aku memaksakan diri untuk berlari, saat itu aku hanya berpikir untuk menang, jadi tidak kepedulikan dan beginilah akibatnya.” jawabku.

“Dan kau menang ?” tanya nya lagi.

“Tidak. Tidak akan dengan kaki seperti ini.”

“Yah, setidaknya kita kita bisa menikmati lomba ini. Itulah piala yang bisa kita bawa pulang, selain yang diperebutkan di podium itu.” katanya kepadaku sambil tersenyum.

***

Semakin dewasa aku semakin tidak peduli pada hal – hal yang aku anggap tidak penting. Orientasi ku hanya pada hasil yang akan aku raih saja. Aku sibuk pada hal – hal besar ku, dan mengesampingkan yang kecil – kecil. Dewasa identik dengan ketidakpedulian dan gampang meremehkan. Tapi apakah itu yang disebut kedewasaan? Aku rasa tidak. Kedewasaan bukan ketidakpedulian. Sebaliknya aku rasa justru aku harus lebih peduli pada hal – hal yang selama ini aku anggap remeh. Ketika selama ini aku mengejar hasil akhir, justru aku lupa menjawab satu pertanyaan yang tadinya aku anggap kecil : “Bahagiakah aku menjalaninya ?”

FACEBOOK Share