Evolusi Cinta

23 05 2009

[release ulang tulisan lama]

Dan pertanyaan itupun bergulir. Saat itu aku dan Mika sedang makan di warung Kenari, yang setiap harinya penuh, terutama oleh gadis – gadis cantik, yang aku kira masih kuliah. Cowok juga ada, cuma segelintir.

“Kenapa sih sekarang cewek cantik tambah banyak, sementara cowok cakep makin dikit?” Tiba – tiba dia bertanya, diikuti kepalanya yang celingak – celinguk kiri kanan, seperti berusaha keras mencari pemandangan yang sejuk. Pertanyaan itu membuatku berhenti mengunyah, lalu sedikit mikir. Sedikit aja karena pertanyaannya gak ilmiah, jadi gak perlu mikir banyak – banyak. Paling tidak aku meyakinkan diriku dulu bahwa aku termasuk yang sedikit itu.

“Itu semua salahmu…salah kalian para wanita.” Suaraku agak keras, sengaja, supaya meja sebelah ikut dengerin.

“Salahku? Dimana peranku yang membuat mereka terancam punah? Justru aku gak ingin itu terjadi, supaya aku gak harus desperate cari pacar seperti sekarang, dodol !”.

Kalimat terakhirnya membuatku tersenyum, dan lebih tersenyum lagi ketika aku ingat memang dia lagi cari pacar. Delapan bulan telah lewat sejak dia didepak pacarnya yang juga teman kuliahku sendiri. Pacarnya yang juga temanku itu ninggalin Mika demi cewek lain, setelah mereka pacaran 6 tahun lebih. Bagian didepaknya sih kupikir bukan masalah buat Mika. Cuma yang bikin dia jengkel adalah timingnya.  Kenapa setelah 6 tahun? Kenapa gak sebelumnya? Kenapa kamu meninggalkan aku saat aku sudah terlalu tua untuk cari pacar? Dia memang belum terlalu tua, umurnya baru juga 27 tahun. Tapi umur segitu sudah banyak yang malas untuk memulai lagi sebuah hubungan, apalagi masih harus melewati fase pacaran yang serba spekulatif dan penuh trial and error. Menambah daftar kejengkelannya adalah kenyataan bahwa sampai sekarang dia belum juga dapat pengganti, sementara bekas pacarnya yang temanku itu sudah berpeluk cium dengan seekor betina gak tau diri. Tapi ini semua cuma dugaanku, aku gak pernah tahu, dan gak berminat untuk tanya.

“Kamu tahu teori evolusi kan?”, tanyaku. Segera dia mengangguk.

“Semua makhluk hidup berevolusi mencari bentuk dan kondisi terbaik atas kebutuhan dirinya dan keadaan lingkungan tempat tinggalnya.” Matanya masih tertuju padaku, pertanda bahwa dia menyimak omonganku.

“Kamu tahu kenapa jerapah berleher panjang? Teorinya adalah hal ini disebabkan oleh alam yang menuntut demikian, supaya dia bisa makan pucuk – pucuk daun di tempat yang tinggi. Mungkin pada saat itu populasi herbivora sangat banyak, tidak seimbang dengan populasi rumput dan semak yang tersedia sehingga si jerapah ini selalu gak kebagian karena dia termasuk binatang yang lamban, dan yang tidak bisa diperebutkan lagi adalah pucuk daun yang tinggi, maka berevolusi lah tubuh jerapah ini dengan memanjangkan lehernya untuk meraih pucuk – pucuk daun itu, dengan demikian dia bisa bertahan hidup dan kehidupannya terus berjalan sampai sekarang”.

“Ya, aku pernah dengar itu”, timpalnya.

“Ada juga teori tentang kepunahan manusia purba Cro Magnon. Para manusia Cro Magnon punah karena tidak bisa beradaptasi dengan perubahan alam yang cukup ekstrim. Berbeda dengan Homo sapiens yang daya pikirnya lebih hebat, lebih maju. Homo sapiens lebih bisa menggunakan akalnya untuk mengatasi hambatan – hambatan hidup yang disebabkan oleh lingkungan tempat tinggalnya, dengan kata lain tingkat adaptabilitasnya lebih tinggi dibanding manusia Cro Magnon. Karena tidak bisa bersaing dengan Homo sapiens itulah maka manusia Cro Magnon jadi teralienasi, hingga tidak bisa bertahan dan akhirnya punah.” Selesai berkata segera kutarik nafas panjang dan segera kusedot es teh dengan pipet.

“Kalo yang itu aku baru denger, tapi aku tetep gak ngerti…apa hubungannya sama kepunahan cowok – cowok cakep? ” Mika menegaskan kembali pertanyaan besarnya.

“ Nah kepunahan itu bisa dijelaskan lewat teori-teori itu.” Sepotong tempe selesai kubelah di saat yang bersamaan aku selesai mengucapkan kalimat itu.

“Sekarang cewek lebih banyak yang membutuhkan cowok kaya ketimbang cowok ganteng, sedangkan cowok, baik ganteng maupun tidak, kaya maupun tidak, tetap dengan pola pikir tradisionalnya untuk mencari cewek cantik, jarang cowok yang mau menjamah cewek yang physically tidak menarik, sehingga ketersediaan cewek cantik sangat terbatas, karena peminatnya sangat banyak. Karena kondisi yang demikianlah yang menyebabkan spesies cowok dituntut berevolusi menjadi cowok kaya dengan kompensasi tidak ganteng, karena kegantengan tidak dibutuhkan lagi. Hal itu terjadi supaya bisa bertahan hidup dan berkembang biak. Dan mungkin pada akhirnya semua cowok akan berubah menjadi kaya dan tidak ganteng, sehingga pada saat itu terjadi, mustahil menemukan cowok ganteng, sama mustahilnya menemukan jerapah berleher pendek saat ini. Sementara itu cewek – cewek juga berevolusi menjadi cantik agar masih bisa berkembang biak dengan cowok kaya yang tidak ganteng, dan menghasilkan keturunan, laki – laki yang tidak ganteng seperti bapaknya, atau perempuan cantik seperti ibunya. Kalo toh keturunan mereka cowok ganteng kaya atau cewek tidak cantik kaya[1], populasinya tidak akan banyak. Keturunan jenis yang pertama[2] , adalah spesies minoritas superior, yang bisa bertahan hidup hanya untuk mengetahui bahwa kegantengannya adalah sebuah komoditas yang tidak lebih berharga dari sebuah mobil Jaguar, dan akhirnya jiwa dan raganya pun berevolusi. Keturunan jenis yang kedua[3], lebih menderita, karena harus memilih, tetap bertahan untuk punah atau mengikuti arus evolusi yang terjadi untuk tetap bertahan.” Aku menutup penjelasan itu dengan sebuah kepulan asap rokok yang keluar dari mulutku, “ Sejalan dengan teori evolusi itu maka terjadi juga evolusi di pihak cewek, menjadi cantik karena tuntutan alam yang demikian. Mereka tidak perlu kaya karena dengan kecantikan, kekayaan akan mendatangi mereka. Lebih mudah menjadi terlihat cantik ketimbang menjadi kaya….. ”

“Kultur pun menjadi salah satu katalisator terjadinya evolusi ini. Para laki – laki selalu tumbuh dengan doktrin bahwa dia harus bertanggung jawab, menafkahi istri, punya harga diri. Sementara perempuan selalu mendapat didikan untuk patuh pada suaminya, menggantungkan hidup pada suaminya. Coba apa kata orang bila lihat seorang laki – laki tidak bekerja, mengurus rumah, dan istrinya yang mencari uang? Jangankan seperti itu…walaupun sama – sama bekerja saja, jika si laki – laki berpenghasilan lebih rendah dari si istri, nuraninya mengharuskan dia untuk merasa malu, apalagi menggantungkan hidup sepenuhnya. Sementara jika sebaliknya, itu terjadi pada perempuan, maka ia terbebas dari rasa malu seperti yang dimiliki laki – laki.

Maka tumbuh subur lah cewek – cewek materialis kapitalis, tanpa halangan yang cukup berarti, berbeda dengan cowok materialis kapitalis yang nantinya akan mati tertimpa kemaluannya[4] sendiri. Dan untuk bisa menjadi cewek materialis kapitalis yang dibutuhkan adalah wajah dan body.

Bisa juga kita bilang cowok ganteng adaptabilitasnya lebih rendah dibandingkan dengan cowok kaya terhadap perubahan alam yang seperti ini[5]. Sehingga cowok ganteng tidak akan mendapat tempat untuk berkembang biak di bumi ini, karena cewek cantik yang diidamkanya memilih kawin dengan cowok kaya, sementara dia sendiri gak mau kawin sama cewek yang gak cantik. Inilah yang menyebabkan mereka terpinggirkan, sebuah awal dari kepunahan mereka, yang sebentar lagi akan datang. Sementara itu cowok kaya bisa lebih beradaptasi dengan kondisi ini. Meskipun mereka tidak ganteng, mereka punya cukup uang, mereka bisa menutupinya dengan mobil mewah, rumah mewah, dan perbendaharaan kemewahan lainnya, yang membuat teman wanitanya mabuk kepayang.

Intinya sama seperti apa yang terjadi dengan Cro Magnon dan Homo sapiens, cowok ganteng itu manusia purba (Cro Magnon) dan cowok kaya itu manusia modern (Homo sapiens).”

Penjelasanku berhenti sampai disini. Saat kupandang wajahnya, bola matanya sudah naik ke langit – langit, agaknya sedang mencerna kata – kata yang baru saja kuucapkan. Setelah turun bola matanya menghadapku, segera dia merespon, “Ow….jadi itu yang terjadi. Setahuku evolusi itu terjadi dalam rentang waktu yang sangat panjang, berarti kondisi ini sudah sangat lama terjadi?”.

“Yup, benar. Jujur deh… kalo kamu disuruh memilih antara cowok ganteng atau cowok kaya, kamu pilih yang kaya kan?” Kusidang dia di tempat, emang cuma polisi aja yang bisa. Aku cuma dapat senyuman dan anggukan darinya, penuh perasaan bersalah.

Tiba – tiba terdengar bunyi ribut dari alat makan yang dilemparkan ke atas piring dari meja sebelah. Kami berdua mengamati pelakunya, ternyata dua orang gadis, yang kalau aku tebak seumuran dengan temanku Mika ini. Dandanan mereka cukup bening buat mata lelaki, senang bisa punya kesempatan bertemu mereka. Mereka cantik walaupun tanpa riasan yang tebal. Aksesorisnya cukup simple, tidak terlalu ramai, tetapi tetap saja orang yang melihat bisa tahu bahwa barang – barang yang mereka pakai termasuk barang mahal, tanpa perlu bantuan paranormal sekalipun. Seperti dalam suasana yang serba terburu – buru mereka segera menghabiskan minuman, sedot habis, lalu cabut dengan langkah kaki panjang dan muka kecut. Aku dan Mika berpandang – pandangan, sepertinya mereka tersinggung dengan obrolan kami. Tapi tidak perlu aku merasa berdosa karena telah menyinggung perasaan mereka, sikap mereka aku anggap sebagai sikap mengamini teoriku tadi. Kenyataan memang pedih, Jendral !!… eh maksudku Girls!!!

“Evolusi ini akan terus bergulir sampai mencapai keadaan yang setimbang, atau sampai keadaan berubah”.

“Sebentar….tunggu dulu, cewek cantik tambah banyak sudah aku akui, tapi apa bener banyak cowok tambah kaya? Sebagai dampak dari evolusi itu harusnya terjadi kan?”, sergahnya.

“Loh, apa kamu gak lihat sekarang banyak mobil mewah berkeliaran di jalan. Jalan mulai macet itu karena populasi mobil bertambah secara signifikan. Penyebab macet adalah banyak mobil, banyak makan tempat ketimbang motor atau sepeda, ya toh? Setiap dilongok ke dalam kaca – kaca mobil itu pasti kamu temukan wanita cantik, dengan sopir pribadinya, merangkap suami, atau whatever lah. It’s true…!!”

“Ehmm…. Walaupun kedengarannya meyakinkan, tapi aku tetep anggap teorimu itu konyol.”

“He he…boleh aja kamu bilang konyol, kenyataannya toh kamu lebih milih cowok kaya ketimbang cowok ganteng…..weeek!”

“Dodol lu…!!”

Kehidupan tak pernah lepas dari evolusi, semakin keras dan kompetitif. Cinta sebagai bagian dari kehidupan turut pula berevolusi. Evolusi cinta telah berproses begitu panjang, tidak hanya mengubah pola pikir tentang cinta dan perilaku kita bercinta, tetapi juga fisik[6] kita untuk mendapat cinta.

Perempuan dituntut untuk menjadi cantik. Kecantikan yang hanya akan dinikmati oleh orang lain, sementara tubuhnya sendiri menderita oleh pisau bedah, jarum suntik, sedot lemak, obat – obatan pemutih kulit dan pelangsing tubuh, dan tumpukan silicon yang dijejalkan ke tubuhnya. Menyedihkan memang kalau kita baru bisa menyukai diri sendiri setelah lebih dulu orang lain menyukai diri kita. Ironi !


[1] Kaya dari bapaknya yang tidak ganteng itu.

[2] Cowok ganteng kaya

[3] Cewek gak cantik kaya

[4] Maksudnya rasa malu

[5] Lebih susah untuk menjadi kaya ketimbang memepertahankan kegantengan, makan tuh genteng, eh, ganteng !

[6] morfologi

FACEBOOK Share





The Pick Up Line

7 12 2008

THE PROLOGUE
Sebuah percakapan yang terjadi pada tanggal 8 Oktober 2008.  Percakapan ini berdurasi kurang lebih 15 menit, yang melibatkan ‘mulutmanisyangberbisa’ (yang mabuk cinta) dan ‘gadis_cina’ (yang muntah – muntah akibat PDKT nya mulutmanisyangberbisa) – id disamarkan – dan berlangsung di Yahoo Messenger.

THE DIALOGUE
<mulutmanisyangberbisa> hi…
<gadis_cina> hi juga
<mulutmanisyangberbisa> apa kabar..?
<gadis_cina> baik, kamu..?
<mulutmanisyangberbisa> wah…aku sehat – sehat, minum susu tiap hari kok..
(maksudnya ?)

<gadis_cina> ouwwhh..bagus deh
(takjub)

<mulutmanisyangberbisa> lagi ngapain?
<gadis_cina> lagi kerja donk
<mulutmanisyangberbisa> oh…berarti aku yang ga ada kerjaan
(karyawan kayak gini nih yang pantes dipecat)

<mulutmanisyangberbisa> boleh nanya sesuatu tentang kamu gak ?
<gadis_cina> boleh, daripada nanya orang lain
<mulutmanisyangberbisa> nanya nomer kamu donk?
(malu – malu bencong)

<gadis_cina> nomer apa? nomer sepatu?
(aku tau kamu mo minta nomer hp, gak segampang itu kalee…)

<mulutmanisyangberbisa> loh kok kamu tau aku mo nanya nomer sepatu..?
(teknik berkelit a la dosengila)

<gadis_cina> buat apa?
(aneh nih orang..)

<gadis_cina> 37
<mulutmanisyangberbisa> ok, thanks. aku lagi ngadain penelitian kecil
<gadis_cina> penelitian apa ?
<mulutmanisyangberbisa> pokoknya ada hubungannya sama sepatu
<mulutmanisyangberbisa> sekarang aku nanya nomer HP kamu
<gadis_cina> gak ah…takut
<gadis_cina> ntar kamu kerjain lagi…
(ketahuan nih maunya..)

<mulutmanisyangberbisa> wah data itu sangat penting… aku lagi coba mengetahui karakter seseorang lewat nomer sepatu dan nomer HP.
<gadis_cina> ih…maksa deh
(nih orang pengen aku sambit pake mouse)

<gadis_cina> ya udah kalo kamu maksa
<gadis_cina> 0838XXXXXXXX
<gadis_cina> kalo gak salah….aku lupa.

<mulutmanisyangberbisa> wah, thanks. Loh kok kalo gak salah ???
<gadis_cina> gak hafal, aku suka lupa
<mulutmanisyangberbisa> oh…kamu mau tahu karakter kamu berdasarkan nomer sepatu dan HP kamu..?
<gadis_cina> hmmm…aku kayak apa?
<mulutmanisyangberbisa> menurut penelitianku, kamu tuh orangnya cantik, baik hati, ramah, dan suka usil…
(hmmmffff..garing banget…..mayday..mayday)

<gadis_cina> yeee salaah….
<gadis_cina> aku gak kayak gitu kok..

<mulutmanisyangberbisa> loh kok salah…???
(lah wong penelitian gombal kok minta bener…wekekeke duduls!!)

<mulutmanisyangberbisa> berarti kamu tuh orangnya jelek, kejam, ketus dan pendiam…?
<gadis_cina> hehehe…gak kayak gitu juga kali…

<mulutmanisyangberbisa> kok bisa salah ya…?
(ulur waktu..cari inspirasi buat ngeles)

<mulutmanisyangberbisa> sebentar…
<mulutmanisyangberbisa> kaki kiri sama kanan kamu gak sama besar ya?
<gadis_cina> kok tahu…??
(sial…kok bisa tahu ya?)

<mulutmanisyangberbisa> ya kalo hasil penelitianku salah, kesimpulannya cuma satu, ukuran sepatu responden, kiri sama kanannya gak sama…
(lucky guess…..pure luck)

<gadis_cina> iya nih, yg kanan 37 tapi yang kiri 38
<gadis_cina> tapi aku suka pake 37, walaupun yang kiri agak kesempitan.

<mulutmanisyangberbisa> pantesan…harusnya kamu ngomong dari awal jadi hasil penelitianku gak akan salah..

<gadis_cina> hahahaha…
(maksa banget sih)

<mulutmanisyangberbisa> tapi aku jadi punya hipotesa baru nih, mau tau gak?
<gadis_cina> apa?
<mulutmanisyangberbisa> kamu tadi kan bilang kalo kamu suka lupa nomer HP
<mulutmanisyangberbisa> ternyata ada hubungannya antara nomer HP, nomer sepatu dan kamu yang suka lupa.
<gadis_cina> masa sih ?
<gadis_cina> gak ada hubungannya kali..

<mulutmanisyangberbisa> ada !
<mulutmanisyangberbisa> Jadi karena kaki kiri – kanan kamu gak sama, maka yg kiri pake sepatu kesempitan. Karena sepatu yang sempit, maka peredaran darah di tubuh kamu gak lancar, otomatis peredaran darah ke otak juga ikut terganggu, maka kamu jadi susah inget nomor HP. Apalagi nomer HP ada 12 digit, jadi tambah susah diinget.
(asli…kayaknya udah mulai desperate dan kehilangan akal sehat gara – gara gak dapet – dapet pacar cewek cina)

<gadis_cina> huahahaha…kamu lucu deh.
<mulutmanisyangberbisa> masa sih
(mukanya biru, merah, item, kuning, ijo)

<mulutmanisyangberbisa> by the way…nanti malem ada acara gak?
<gadis_cina> enggak, emang kenapa?
<mulutmanisyangberbisa> aku pengen main ke tempat kamu..
<gadis_cina> mau ngapain?
<mulutmanisyangberbisa> mo mijitin kaki kamu, biar darahnya lancar, jadi kamu gak sering lupa lagi..

– gadis_cina just signed out –

THE EPILOGUE
Setelah kecewa ditinggal ‘sign out’ secara tiba – tiba, mulutmanisyangberbisa masih harus menerima kenyataan bahwa nomer HP yang diberikan sudah tidak aktif lagi (so much with the effort). Sekarang dia malah mempermalukan diri dengan mem ‘posting’ rekaman percakapan itu di blog nya untuk dibaca banyak orang.

Thanks to:
XHP aka Yuli and YM for making the conversation possible.
dosengila for teaching me how to flirt, but somehow it doesn’t work for chinese girl…hehehehe…
Diana Wardani for introducing the girl.

FACEBOOK Share





One broken dream

28 11 2008

I broke your dream, but not your spirit, you said.
That’s good. As I know, it’s not the end of your journey.
So there is no reason to stop, just like uncle Johny said ‘Keep Walking’.
The dream you had built, is not mine. That’s why i stayed outside.

Never put any guilty feeling upon yourself.
There’s nothing wrong about us, but also seems there’s nothing right happens.
Bad timing that’s all I can say. You are at the early stage of relationship, while I have enough up and down. You, with all your do’s and dont’s, are not something to blame on. You have right for that. But it just make me under such a pressure. I sense your domination just around the corner. You remind me of the time when i was young. Conquer and control, that’s my vision. No compassion, less understanding, countless fights, wasted tears, and never ending debates. But that is just the way we grow, right? And I’m seeking deeper than that, because i have had my time for those.

You still have a lot of boxes to be opened. And I count mine…they are becoming less and less. One broken dream all right, but you still have millions more.

FACEBOOK Share