The Pick Up Line

7 12 2008

THE PROLOGUE
Sebuah percakapan yang terjadi pada tanggal 8 Oktober 2008.  Percakapan ini berdurasi kurang lebih 15 menit, yang melibatkan ‘mulutmanisyangberbisa’ (yang mabuk cinta) dan ‘gadis_cina’ (yang muntah – muntah akibat PDKT nya mulutmanisyangberbisa) – id disamarkan – dan berlangsung di Yahoo Messenger.

THE DIALOGUE
<mulutmanisyangberbisa> hi…
<gadis_cina> hi juga
<mulutmanisyangberbisa> apa kabar..?
<gadis_cina> baik, kamu..?
<mulutmanisyangberbisa> wah…aku sehat – sehat, minum susu tiap hari kok..
(maksudnya ?)

<gadis_cina> ouwwhh..bagus deh
(takjub)

<mulutmanisyangberbisa> lagi ngapain?
<gadis_cina> lagi kerja donk
<mulutmanisyangberbisa> oh…berarti aku yang ga ada kerjaan
(karyawan kayak gini nih yang pantes dipecat)

<mulutmanisyangberbisa> boleh nanya sesuatu tentang kamu gak ?
<gadis_cina> boleh, daripada nanya orang lain
<mulutmanisyangberbisa> nanya nomer kamu donk?
(malu – malu bencong)

<gadis_cina> nomer apa? nomer sepatu?
(aku tau kamu mo minta nomer hp, gak segampang itu kalee…)

<mulutmanisyangberbisa> loh kok kamu tau aku mo nanya nomer sepatu..?
(teknik berkelit a la dosengila)

<gadis_cina> buat apa?
(aneh nih orang..)

<gadis_cina> 37
<mulutmanisyangberbisa> ok, thanks. aku lagi ngadain penelitian kecil
<gadis_cina> penelitian apa ?
<mulutmanisyangberbisa> pokoknya ada hubungannya sama sepatu
<mulutmanisyangberbisa> sekarang aku nanya nomer HP kamu
<gadis_cina> gak ah…takut
<gadis_cina> ntar kamu kerjain lagi…
(ketahuan nih maunya..)

<mulutmanisyangberbisa> wah data itu sangat penting… aku lagi coba mengetahui karakter seseorang lewat nomer sepatu dan nomer HP.
<gadis_cina> ih…maksa deh
(nih orang pengen aku sambit pake mouse)

<gadis_cina> ya udah kalo kamu maksa
<gadis_cina> 0838XXXXXXXX
<gadis_cina> kalo gak salah….aku lupa.

<mulutmanisyangberbisa> wah, thanks. Loh kok kalo gak salah ???
<gadis_cina> gak hafal, aku suka lupa
<mulutmanisyangberbisa> oh…kamu mau tahu karakter kamu berdasarkan nomer sepatu dan HP kamu..?
<gadis_cina> hmmm…aku kayak apa?
<mulutmanisyangberbisa> menurut penelitianku, kamu tuh orangnya cantik, baik hati, ramah, dan suka usil…
(hmmmffff..garing banget…..mayday..mayday)

<gadis_cina> yeee salaah….
<gadis_cina> aku gak kayak gitu kok..

<mulutmanisyangberbisa> loh kok salah…???
(lah wong penelitian gombal kok minta bener…wekekeke duduls!!)

<mulutmanisyangberbisa> berarti kamu tuh orangnya jelek, kejam, ketus dan pendiam…?
<gadis_cina> hehehe…gak kayak gitu juga kali…

<mulutmanisyangberbisa> kok bisa salah ya…?
(ulur waktu..cari inspirasi buat ngeles)

<mulutmanisyangberbisa> sebentar…
<mulutmanisyangberbisa> kaki kiri sama kanan kamu gak sama besar ya?
<gadis_cina> kok tahu…??
(sial…kok bisa tahu ya?)

<mulutmanisyangberbisa> ya kalo hasil penelitianku salah, kesimpulannya cuma satu, ukuran sepatu responden, kiri sama kanannya gak sama…
(lucky guess…..pure luck)

<gadis_cina> iya nih, yg kanan 37 tapi yang kiri 38
<gadis_cina> tapi aku suka pake 37, walaupun yang kiri agak kesempitan.

<mulutmanisyangberbisa> pantesan…harusnya kamu ngomong dari awal jadi hasil penelitianku gak akan salah..

<gadis_cina> hahahaha…
(maksa banget sih)

<mulutmanisyangberbisa> tapi aku jadi punya hipotesa baru nih, mau tau gak?
<gadis_cina> apa?
<mulutmanisyangberbisa> kamu tadi kan bilang kalo kamu suka lupa nomer HP
<mulutmanisyangberbisa> ternyata ada hubungannya antara nomer HP, nomer sepatu dan kamu yang suka lupa.
<gadis_cina> masa sih ?
<gadis_cina> gak ada hubungannya kali..

<mulutmanisyangberbisa> ada !
<mulutmanisyangberbisa> Jadi karena kaki kiri – kanan kamu gak sama, maka yg kiri pake sepatu kesempitan. Karena sepatu yang sempit, maka peredaran darah di tubuh kamu gak lancar, otomatis peredaran darah ke otak juga ikut terganggu, maka kamu jadi susah inget nomor HP. Apalagi nomer HP ada 12 digit, jadi tambah susah diinget.
(asli…kayaknya udah mulai desperate dan kehilangan akal sehat gara – gara gak dapet – dapet pacar cewek cina)

<gadis_cina> huahahaha…kamu lucu deh.
<mulutmanisyangberbisa> masa sih
(mukanya biru, merah, item, kuning, ijo)

<mulutmanisyangberbisa> by the way…nanti malem ada acara gak?
<gadis_cina> enggak, emang kenapa?
<mulutmanisyangberbisa> aku pengen main ke tempat kamu..
<gadis_cina> mau ngapain?
<mulutmanisyangberbisa> mo mijitin kaki kamu, biar darahnya lancar, jadi kamu gak sering lupa lagi..

– gadis_cina just signed out –

THE EPILOGUE
Setelah kecewa ditinggal ‘sign out’ secara tiba – tiba, mulutmanisyangberbisa masih harus menerima kenyataan bahwa nomer HP yang diberikan sudah tidak aktif lagi (so much with the effort). Sekarang dia malah mempermalukan diri dengan mem ‘posting’ rekaman percakapan itu di blog nya untuk dibaca banyak orang.

Thanks to:
XHP aka Yuli and YM for making the conversation possible.
dosengila for teaching me how to flirt, but somehow it doesn’t work for chinese girl…hehehehe…
Diana Wardani for introducing the girl.

FACEBOOK Share





Egoisme Cinta, Saatnya Menikmati Cinta

26 11 2008

Dia telah menjadi pujaan hatiku sejak pertama aku melihatnya. Wajahnya lembut keibuan, persis seperti yang pernah kuimpikan. Paras wajah yang dapat mewakili kasih sayang, penuh pengertian, santun dan sabar. Senyumnya, rambutnya, giginya, bibirnya terasa berpadu sempurna tanpa cela.Ya sudahlah, aku suka padanya, itu saja. Aku gak mau terjebak pada kesan pertama dan kecewa pada akhirnya. Aku dan dia bekerja pada perusahaan yang sama, tapi beda departemen. Pertama bertemu saat makan siang di kantin karyawan. Dia berjalan menyusuri ruang makan menebarkan pesona, selayaknya kupu – kupu terbang membelah kebun bunga dengan angin dari kibasan sayapnya. Begitu mudahnya aku jatuh cinta. Hatiku tunduk bersimpuh, menyerah tanpa syarat.

Sebenarnya tidak terlalu sering aku jumpa dia di kantin karyawan. Faktanya kami tidak memiliki jam kerja yang sama. Pekerjaan juga tidak memberi kesempatan bagiku untuk sesering mungkin bertemu dengannya, atau sekedar bisa memiliki jam makan yang berbarengan. Yang selalu kutunggu adalah jam pulang kerja dimana aku lebih punya peluang untuk bertemu dengannya, atau boleh dibilang aku menunggunya pulang. Saat itulah kali pertama aku bertatap muka dengan dia. Gugup, canggung, tidak tahu harus berbuat apa, melempar senyum atau membuang pandangan. Tapi diantara kebingungan itu, akhirnya berhasil juga aku melempar senyum termanis untuk dia. Mungkin sekarang dia menganggapku orang yang ramah.

Pernah suatu kali aku melihatnya berjalan sendirian di jalan depan kantor, dan aku memberanikan diri untuk menawarinya tumpangan.

“ Sendirian, mbak ? ”

Sebuah pertanyaan bodoh, jelas – jelas dia sedang berjalan sendirian.

“Iya”

“ Mau bareng saya ? ”

“ Terima kasih. Saya jalan aja, nanti merepotkan.”

Sebuah penolakan yang halus, tidak membuatku patah semangat. Justru membuatku bergairah untuk ajakan kedua.

Keesokan harinya aku masih melihatnya berjalan sendirian di jalan depan kantor.

“ Yakin mbak, gak mau bareng saya ? ”

“ Gak !”

Jawabnya singkat dan tegas, hampir – hampir tidak membutuhkan waktu berpikir untuk menjawab pertanyaanku tadi.

“ Tinggal deket sini ya? “

“Iya !”

Kering dan hambar. Ini jelas – jelas sebuah penolakan, bukan sebuah itikad untuk menunjukan sikap jinak – jinak merpati. Tapi entah mengapa aku masih bisa menikmati momen itu.

Semakin sering aku menunggunya pulang, yang membuatku harus menunggu 1 jam setiap harinya, semakin banyak senyuman kusiapkan untuk dia. Aku tahu dia mulai menyadari keberadaanku. Mungkin sekarang dia menganggapku sebagai pengganggu.

Satu minggu berlalu tanpa tatap muka dengan pujaan hatiku. Sebuah kesibukan mengharuskanku tidak berpikir tentang dia, karena aku berpikir tentang Dona, partner kerjaku yang baru. Kami berada dalam satu tim, dan sangat cocok. Seakan semangat dan roh kami adalah satu. Baru 8 jam aku bekerja bersamanya, hati sudah bertaut akrab. Begitu mudah aku jatuh cinta, dan ini bukan kali pertama.

Aku dan Dona berjalan pulang selepas kerja, menuju tempat parkir. Melewati selasar yang berliku – liku dan penuh belokan, sehingga kami harus berhati – hati, kalo tidak bisa bertabrakan dari arah depan. Tiba – tiba wajah itu terlihat lagi, wajah pujaan hatiku. Muncul dari belokan di depanku, saat aku sedang berbincang akrab dengan Dona. Kutatap lekat wajah pujaanku itu, kubagi perhatianku antara Dona dan dia. Aku melihatnya melempar senyuman. Entah senyum kelegaan – karena aku akrab dengan orang lain, sehingga tidak akan mengganggunya lagi – atau senyum kecut – karena dia menyangka aku hanya memuja dirinya saja. Mungkin sekarang dia menganggapku buaya darat.

Cinta kadang menjadi makhluk yang sangat egois. Menuntut tanpa memberi ruang bagi pengertian, menilai dan melihat berdasarkan kepentingan semata. Cinta tidaklah pernah bebas dari nilai. Omong kosong bila ada yang bilang cinta suci dan murni kecuali jika sedang bicara soal Tuhan atau khayalan. Cinta adalah pedang bermata ganda, bisa menolong, juga mencelakai. Cinta bisa memabukkan sekaligus mematikan.

Cinta dapat dipahami sebagai hal yang irasional, namun bukan berarti tidak dapat disikapi secara rasional. Janganlah hidup karena cinta, tetapi hiduplah untuk mencinta. Janganlah menjadi orang yang menerima cinta, jadilah orang yang memberi cinta, karena cinta tiada habisnya, niscaya kita akan menikmati cinta….yang pada akhirnya kita akan menikmati hidup.

FACEBOOK Share