21 Desember, dua tahun lagi…

21 12 2009

Saya bingung dengan kebijakan yang diambil oleh salah satu lembaga agama di negara ini. Ada dua kebijakan yang saya amati.

Yang pertama adalah pencekalan Miyabi datang ke negeri ini. Kedatangan Miyabi – yang adalah artis film dewasa asal Jepang – ke negeri ini dipercaya bisa merusak moral bangsa. Rencana kedatangan Miyabi ini bertujuan untuk berpartisipasi dalam pembuatan film komersial lokal, dan bukan film dewasa. Ribut – ribut terjadi antara yang mendukung pencekalan ini dan rumah produksi yang berencana mendatangkan artis panas ini. Dampak yang entah sudah dipikirkan atau belum, masyarakat luas jadi penasaran dengan siapa Miyabi sebenarnya, sampai dia perlu dicekal. Dari yang gak kenal Miyabi, jadi kenal. Dari yang gak ngerti film – film panasnya Miyabi, jadi nonton bahkan mengoleksi. Sejak kasus ini mencuat, film panas Miyabi menjadi film yang paling dicari di sentra – sentra penjualan film bajakan.

Yang kedua adalah film 2012. Film ini dicekal karena menceritakan kiamat dunia, yang gak sesuai dengan keyakinan yg ada di negeri ini. Film ini yang dibuat berdasarkan kalender suku Maya di Amerika Selatan, dan disajikan dengan visual effect a la Hollywood. Lagi – lagi kontroversi dicuatkan oleh lembaga ini, dan dampaknya adalah masyarakat semakin penasaran dengan film kiamat versi suku Maya ini.

Ngomong – ngomong soal kiamat, memang gak ada yang pernah tahu pasti kapan dan bagaimana terjadinya. Yang ada hanya prediksi dan katanya, katanya, katanya….

Tapi ketika kita semua ditanya tentang kiamat, rata – rata akan menjawab sebuah konsep tentang mati massal, dengan versinya masing – masing. Ya, kiamat selalu diartikan dengan mati massal pada waktu yang sama dengan cara yang sama. Padahal mau mati bareng – bareng atau enggak, masing – masing punya kiamatnya sendiri – sendiri. Kiamat adalah akhir dunia, akhir hidup kita. Bisa saja kiamat saya adalah besok dan kiamat anda tahun depan. Atau bisa saja saya dan anda mati massal dalam sebuah bencana alam.

Saya masih bingung dengan orang – orang yang meributkan bagaimana mereka akan mati, dan malah gak berpikir bagaimana mereka seharusnya hidup. Bahkan di Jakarta akhir – akhir ini, mulai ada trend untuk bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari lantai atas sebuah mall. Dulu kasus bunuh diri selalu sembunyi – sembunyi, biar orang gak tahu, sekarang mulai terang-terangan di tempat umum. Mungkin cara kita mati memang sebuah isu penting…..hmmm….gak tau deh.

Mengutip perkataan William Wallace (Mel Gibson) dalam film Braveheart, yang sudah saya tonton ulang 5 kali, memang pantas untuk diingat :

‘Every man surely dies, but not every man really lives…’

Namun dibalik semua kontroversi di atas, saya jadi berimajinasi, seandainya memang akan terjadi kiamat pada 21 Desember 2012, saya ingin menghabiskan sisa waktu saya bersama Miyabi…

‘mmyb’


Actions

Information

2 responses

21 12 2009
wisdy

haha…tetep tulisan yang menggelitik.
kupikir endingnya penulis akan berkata..aku akan membenahi kehidupanku, memunculkan semua nilai positif, bla..bla…ternyata………..(seorang penulis yang tidak tertebak bagaimana endingnya :))
salut ma tulisannya. tetep berkarya ya bos 🙂

21 12 2009
DosenGila

Miyabi Bos? Setahuku seleramu lebih ke Sora Aoi than ke Miyabi … *oopssss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: